Saya dafter ulang sehari sebelum kuliah yakni Senis, 24 Agustus 2015. Saya membawa bukti transfer her registrasi Rp 500.000. Saya berangkat pagi dari VMG . Saya bangun pagi pkl 03:30 am. Saya sarapan lalu berangkat ke seklah, JPS, tiba pkl 05:55. Saya menjadi orang pertama tiba di JPS. Sekurity baru puka pintu gerbang keluar. Saya mau sms kepala sekolah, Mr. Ben Ayung untuk izin mau ke kampus, STF Driyarkara k Jakarta untuk her regustrasi. Saya ketemu beliau di pintu gerbang. Saya ke tempat parkir motor. Saya minta izin lisan. Saya pergi. Saya titip motor di Pondok Ungu. Lalu saya naik angkot, bayar Rp 4.000 ke Kranji. Saya beli tiket kereta, Rp 12.000 dengan kartu chip jaminan. Kereta tiba. Penumpang penuh sesak. Saling berdempetan. "Memang hari Senin, kereta api selalu sesak, berdesak desakan. Sya turun di Jatinegara. lalu transit Kereta Api menuju Kramat. Saya turun di Stasiun Keramat. Lalu naik angkot dengan biata Rp 3.000. tiba jam 07:30 di pasar Rawasari. Belanja buah )melon, pepaya, anggur : Rp 50.000 untuk saudari kami, Nelty yang kini sedang dalam perawatan setelah operasi usus buntu minggu lalu di RS Saint Carolrus jakarta. . Lalu saya ke Melania. Tanya Nelty. "Tak ada di sini. Di Tegalan, Matraman. Di sana ada Rumah Bersalin melania. Dia kerja di sana. Di sini hanya kantor pusat," jawab ibu yang merupakan staf di situ. Saya salah alamat. Saya tak profesional. Tak mau tanya tempat istirahat dan tempat kerja bagi Nelty. Saya tidak profesional. belajar dari kegagalan., Frans!. Saya ke kampus STF Driyarkara. Ketemu Mbak Retno. Saya serahkan bukti transfer registrasi dan serhakan form rencana kuliah saya di semestar 3 ini. Saya isi form pembayaran uang kuliah Rp 6.500.000 per semester, masih iut tahun lalu. Saya pikir, ikut aturan uang kuiah tahun ini Rp 7.000.000. Ternyata tidak, Saya bayar Rp 6.500.000. Saya rencana 3 kali nyicil, setiapakhir bulan Agustus, September, Oktober 2015. Kemuadian saya pulng, ambil buah yang saya titip di melamia. Saya menuju ke kontrakan Feus dan Rony. Saya minta Rony untuk antar buah itu kepada Neltyy di RB Melania Tegalan - Matraman. Rony Setuju. Saya buru-buru pulang karena akan mengajar pada pkl 11:30 am. Saya ke Halte Matraman agar bisa naik busway. Wow.... gagal karena tak baya kartu tiket busway. Akhiir putuskan untuk pakai kereta api. Jalan kaki ke Kramat. Keringat, berdebu. Cape. Tapi itulah perjuangan. Saya pakai kereta. Sya tidur dalam kereta. Sya transit di Jatinegara. Tunggu kereta (KRL) menuju Bekasi. Kereta datang. Saya naik. Tiba di satasiun Krnji pukul 09:00. Lalu saya naik angkot 25. Turun di Cabang Pondok Ungu. Bayar angkot Rp 4.000. Ngobrol dengan Sopir. Dia bicara tentang bosnya, perempuan, punya otak bisnis. angkot puluhan, mobil pribadi hanpir 10. Wow... Dia orang Jawa Timur. Saya bayar uang sewa penitipan motor Rp 3.000. Saya menuju ke VMG, ke rumah dulu. Saya makan siang lalu ke sekolah. Saya tiba pkl 11:20. Saya mengajar pkl 11:30. Saya lapor diri ke kepsek lalu mengajar anak kelas 3. Syukur Tuhan, perjalanan hari ini Bekasi - Jakarta pp lancar. Her registrasi lancar juga.
Rabu, 26 Agustus 2015.
Saya ke rumah dulu. Makan. Start pkl 16:15. Wow... terlambat sampai di STFD. Kuliah Estetika tak masuk. Malu karena terlambat. Ternyata Pa Matius Ali yang masuk. Saya masuk pada kuliah kedua, Filsafat Kontemporer. Romo Dr. SPL Cahyadi,Pr yang mengajar. Selesai mengajar masih ngobrol lagi. Pa'' Matius masih ada. Nimbrung. saya minta agar diizinkan untuk bergabung dalam kuliah Estetika. Saya pilih topik seminar Ernest Block. Ketika pulang, Pa Matius menawarkan saya untuk join dalam mobilnya. Saya menuju Stasiun Kramat. Kami bersama."Bagi orang India, terutama kaum terpelajar. Sang guru mengetahui perkembngannya melalui mimpinya. Karena itu, mimpi perlu ditulis," dia berkisah. "Oh... saya sering menulis mimpi-mimpi saya di blok Pa," kataku. Kam sampai di rel kereta api keramat. Saya turun. Terima kasih Pa Matius. Hati-hati dalam perjalanan,: kataku kepadanya. Wow.... join dengan dosen.
JPS, 27 Agustus 2015
Pa' tumben datang tidak telat, canda seorang teman perempuan. Dia ada tanda hitam di wajah, seperti flk. Betul hari ini saya masuk sebelum dosen masuk kelas. Kuliah pertama, "Kebebasan dan Kesetaraan diampu oleh Prof. Dr. Aloysius Nugroho. Dia cerdas, kritis dan terkesan bangga diri bahkan cenderung tinggi hati. Kuliah lalu dissusul dengan Kuliah Antropologi filosofis Paul Ricour yang diasuh oleh Romo Prof. Dr. Sastra, SH. Pembahasannya bagus.
JPS, 28 Agustus 2015
Selasa, 1 September 2015
Saya absent ke kampus karena sibuk perispan misa: teks dan baut SAP MK Filsafat praktis. Hari ini kuliah Filsafat Praktis: Prof Dr. Frans Magnis Suseno, SJ dan Ruang Publuk Hannah Arent oleh Dr. Frengky Hardiman. Wow..., Frans, dissiplin please!
Kamis, 10 September 2015
Makan sayur / lauk rawon secara tak sengaja. Saya kira jamur ternyata rawon. Saya hanya makan sedikit. Pemblian yang sia-sia. Harga makanan Rp 10.000. "Malu bertanya sesat di jalan. Buang duit sia-sia karena tak bisa menghabiskan makanan (lauk rawon itu). Rawon adalah jeroan bagian dalam sapi. Itu digoreng / direbus. Ini di warung langganan di pinggir re K.A. Kramat, Jakarta, ketika hendak ke campus untuk kuliah. Wow.... Ada beberapa makanan yang tak saya sukai, yakni makanan terbuat dari kambing dan rawon. Wow....
Selasa, 15 September 2015
Saya mengajar sambil mencoba merapihkan tulisan presentasi kuliah: Hannah Arent dan Kepublikan. Saya terlalu meremehkan tugas dan tidak disiplin. Hasilnya, tak terkejar secara maksimal. Saya menguber di penghunjung waktu. Ada rasa dai-dig - dug. Terkadang marah , mengumpat dan memaki diri sendiri. Ini resiko dari tak focus. Kesulitan lain adalah kemampuan bahasa Inggris yang tak maksimal sehingga kesulitan untuk menerjemahkan teks kuliah. Dari segi perjuangan, sudah berjuan maksimal. Bahkan hari Minggu dan hari lain, lembur hingga larut malam. Pulang sekitar pukul 23 bahkan di atas itu. Baru pada Senin sore, 14 September 2015, saya menemukan sarana di kumputer untuk sedikit mempercepat pemahaman teks. Sarana itu adalah software Convert (dari PDF ke Ms Word). Ms Elia membantu saya menemukan itu. Untuk beberapa hal bisa dikerjakan, namun begitu pulang ke rumah sebentar, listrik mati di PC lab komputr yang saya pakai. Sofware PDF Hannah Arent tak bisa diakses lagi. Kecewa juga. Untuk ada bagian yang sudah saya kerjakan. Saya terbantu dengan teknologi, yakni Google translate. Namun karena saya kerja terlambat, semua tools itu tampak tak bisa menolong secara maksimal. Saya mau print materi presentasi pada akhir sekolah dalam situasi teman-teman berlomba-lomba untuk print juga karena diburu jadwal pengumpulan ujian mid smester. Untung baik saya kreatif dalam berpikir. saya minta bantuan teman di perpustakaan untuk meminjamkan komputer kepadaku untuk print tugas itu. Dia setuju. Saya berhasil print pada pukul 15:10 pm. Saya bergegas mau menuju ke kampus. Kuliah jam 17:00 pm. Jadwal presentasi lagi. Apalagi jadwal yang tertunda dari Selasa, 8 September 2015 minggu lalu karena saya tak siap. Sesungguhnya salah komunikasi. Saya tangkap dan bahkan ada catatan di di buku catatan bahwa 2 pertemuan awal, tak termasuk kuliah Pembukaan, 25 Agustus 2015 bahwa 2 pertemuan awal ditanggung oleh dosen, setelah itu baru dimulai dengan presentasi pertama, saya bersama Betty dan Bayu. Bety dan Bayu sudah siap Minggu lalu, sementara saya tidak siap, sehingga hanya mereka yang prentasi. Sedangkan saya ditinggal. Malu juga. "Kamu mau pertama, tetapi ternyata tak siap. Mental model apa ini. Katanya mahasiswa Pasca Sarjana," begitulah rasaku memproyeksikan penilaian dosen dan teman-teman. Saya disandera rasa malu dan bersalah. Kegagalan minggu lalu itu masih membekas, meski sudah berjuang, mengunakan waktu begitu banyak untuk selesaikan tugas itu. Dalam suaana hati yang galau ini saya menuju kampus. Waktu menunjukkan pukul 15:15 ketika saya keluar tempat finger print JPS. Masih ada persolan. Ternyata kunci motor lupa di motor sehingga diambil oleh sekuritu sekolah. Saya harus menghadap mereka untuk mengambil itu. Wow... persoalan kian rumit saja. Saya menuju kampus. Pengen hati ini cepat tiba di kampus. Mau pakai ojek, tapi masalahnya tentu macet. Sehingga diputuskan tetap menggunakan kereta api menuju Jakarta. Perjalanan menuju Staisun Cakung lancar. Ada kereta menunggu ketika saya masih di tempat parkiran motor. Saya meminta petugas parking untuk membantu memarkirkn motor karena saya buru-buru. Ternyata.......kereta jalan. Saya harus menunggu 15 - 20 menit lagi. Haru biru perasaan saya. Cemas, marah, makian berbaur satu dalam hati. Kesel karena kereta tak cepat datang. Kereta ke arah sebaliknya - Bekasi - malah datang lebih cepat. Sedangkan saya menuju Jakarta. Kereta baru muncul pkl 16:20 pm. Saya masuk. Duduk. Saya lihat waktu di HP.. Waktu menunjukkan pkl 16:45 ketika kereta masih tertahan ketika antre mau masuk Stasiun Jatinegara. Setelah menunggu 5 menit akhirnya kereta jalan dan berhenti di Jatinegara. Saya keluar stasiun dan tawar ojek ke kampus STF Driyarkara. Dia mau dengan bayar Rp 20.000. Saya meluncur ke kampus. Macet sebentar di Lampu Merah Utan Kayu. Lalu lewat apartemen di Rawa Sari. Saya lewat jalan baru. Ternyata bisa tembus sampai jembatan Serong. Saya berhenti di dekan mesin photo copy Melania. Saya copy mahan presentasi sebanyak 40 ex dengan biaya Rp 8.000. Itu hanya 1 lembar, bolak balik. Saya masuk kampus. Saya telat 5 menit. Aroma keriangat menyeruak karena lupa pakai bedak penyerap keringat. Malu lagi...malu lagi. Saya masuk ruang kelas setelah minum air. Saya menyerahkan materi kepada dosen, Pa Frengky Budi Hardiman. Saya pikir beliau marah dan tak mengizinkan saya mempresentasi serta mencoret saya dari tugas presentasi sehingga tak bisa dapat nilai akhir nanti , ternyata beliau bermurah hati. Silahkan duduk dan kamu presentasi kemudian karena terlambat. Silahkan duduk di depan saja," katanya lembut. Hati saya agak teduh mendengar penerimaan ini. Teman-teman sedang presentasi. Saya duduk diam menyimak. Saya coba menangkap persoalan sembari merajut gagasan tentang Hannah Arent. Saya coba dan mencoba. Teman Berto presenter kedua dan Ibu Ruth presenter ketiga. Giliran saya pada 5 menit terakhir. "Kamu harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin, sebut poin-poinnya saja, " kata Pa Frengky. Saya terima dan memanfaatkan waktu 5 menit ini untuk menyatakan siapakan saya kepada diri sendiri, dosen dan teman-teman. Saya bicara tepat 5 menit. Rasa puas, gembira dan bahagia membual dari seluruh hati dan perasaan saya. Saya kembali menemukan kembali kebahagian dan rasa percaya diri. "Kamu presentasi baik," kata Pa Felix, teman kuliah. Kuliah lalu dilanjutkan dengan kulish Filsafat Moral yang dibawkan Prof. Magnis Suseno, SJ. Ada 3 orang presenter yang membhas Etika Filsafat Timur: Simon, Ibu Nanda, Reza. Saya ajukan pertanyaan : Dari segi perewatan terhadap alam, tampaknya Etika Timur, lebih khusus Hindu lebih andal daripada etika agama Wahyu. Karena Hindu bersifat ontonomi - keselamatan ditentukan oleh manusia sendiri via perbuatannya, sedangkan Agama-agama wahyu bersifat heterodoks - keselamatan ditentukan oleh unsur lain di luar diri mansuia - Tuhan . Mohon Tanggapan. "Tak sesedrhana itu. Persoalan lingkuangan buruk karena kapitalisme" jawab romo Magnis, SJ.
Kuliah selesai. Kami lanjutkan acara syukuran penghargaan Prof. Rm. Magnis Suseno,SJ. Banyak dosen datang, Prof. Sudarminto, SY, Prof. Alex Lanur, OFM, Prof Sudiarja, SJ, Dr. Hery Priono, SJ, Rm. Simon Petrus Lili Cahyadi, Pr, Rm. Setyo, SJ. Kami makan. Saya makan buah cuku banyak, terutama Nangka dan jeruk. Setelah itu Pa Marko dan saya pulang. Saya ketemu Nesta - teman dari Larantuka - di gerbang STF / Cempaka Indah. Kami ngobrol. Lalu saya numpang mobil 04 ke stasiun Kramat. Saya bayar Rp 3.000. lalu menuju Stasiun. Saya tunggu kereta cukup lama. Saya baca Hannah Arendt. Kereta datang. Saya tetap baca dalam kereta. Kami turun di Jatinegara. Tunggu kereta ke Bekasi. Ada Pa Arif - teman kuliah - yang mau pulang juga. Saya asyik membaca Hannah Arendt. Saya tiba di Cakung pkl 22:15 pm. Lalu bayar parking Rp 5.000. Saya menuju Harapan Indah. Saya isi bensin di Pertamina Harapan Indah. Lalu meluncur menuju VMG. Taba di rumah dengan selamat. Saya basuh muka, istirahat doa syukur lalu tidur. Syukur Tuhan atas pengalaman suka duka hari ini. Beri aku petunjuk agar selalu mencari kehendak-Mu. Amin.
Rabu, 23 September 2015
Saya antar Lery, anaknya Pa' Bento ke Perumahan Harmono - Harapan Indah. Pa Bento sedang mendampingi anak-aak retret di luar kota, di Tugu, Puncak, Bogor, Jawa barat. Setelah itu saya mampir di rumah. saya mau ambil jaket dan buku. Waktu menunjukkan pkl 15:30 ketika saya satar dari rumah. Saya tiba pkl 15:45 di JPS lalu finger print lalu berangkat kuliah. Saya menggunakan sepeda mootor. Saya simpan sepeda motor di Stasiun Cakung. Lalu masuk kereta yang sudah menunggu. Kereta berhenti cukup lama. Tak biasa seperti itu. Saya lelah. Saya tidur dalam kereta. Kereta berhenti cuup lama sebelum masuk stasiun Jatinegara. "maaf, kereta berhenti antre agak lama karena menunggu kereta lain yang akan meninggalakan satasiun Jatinegara," demikian pengumuman petugas kereta. Kami tiba di Jatinegara. Kami keluar menuju KA menuju Kramat. Tunggu lama. Akhirnya KA tujuan Bogor yang lewat Kramat datang juga. Tapi berhenti lama. "Ada kecelakaan, tabrakan antara KA di Stasiun Juanda. Imbasnya,pergeseran jam kenerangkatan untuk seluruh KRL dan kereta lainnya. ," demikian obrolan antar penumpang. Saya tutun di Stasiun Kramat. Ada KA yang antra juga sebagai bagian dari akibat kecelakaan itu. Waktu hampir pkl 06:00 sore. Saya putuskan untuk makan malam dulu d Warteg. Saya bayr Rp 6.000 (nasi, jamur, tempe). Lalu ke kampus. I ke kamar mandi dulu. Gosok gigi, atayr diri. Lalu masuk. Hari ini masuk kuliah kedua, Filsafat Kontemporer Abad XX. Kali ini tugas Prof. Rm. Sudarminta, SJ yang memberikan kuliah namun beliau berhalangan, lalu diganti oleh Prof. Alex Lanur, OFM. Lalu pukang. Ada harapan semoga bisa nebeng dengan teman menuju ke Kramat. Begitu teman lewat, mau naik tanpa tanya apakah lewat Sambe / Stasiun Kramat atau tidak. Mau langsung naik saja. "Maaf, saya tidak lewat Stasiun Kramat, saya mau ke by Pass - Ahmad Yani, ada urusan di sana," katanya. Okay," kataku sambil tersipu malu. Akh saya tak profesional. Malu sendiri jadinya. Lalu naik angkot. Di depan saya ada Pa Ardy Rusmin dan satu temn perempuan yang sama-sama kuliah di STF. Kami menuju stasiun Kramat. Dapat KRL. Ternyata KRL berhenti lama. Kami ngobrol. Kereta berhenti cukup lama. Kami mau naik KRL tujuan Manggarai lalu balik ke Bekasi namun ternyata antra lama, sementara ada yang langsung menuju Bekasi. Ini KRL kedua sejak kami tiba. Kami putuskan untuk pindaj KRL. Saya dan Pa Adri pindah KRL/ Dalam KRL kami ngobrol. Kami ngomong banyak hal termasuk kebudayaan Manggarai , termasuk Nggerang dan hal seputar kulaih, termasuk tesis. Lalu saya turun di Stasiun Cakung. Lalu saya dengan sepeda motor menuju VMG. Hari ini ada perubahan management di tempat Parkir motor di Cakung bahwa setiap motor mendapat kartu buktu titip sepeda motor di sana. " Ini managemen yang baik," puji saya. :a;u saya menuju ke rumah.
Rabu, 23 September 2015
Saya antar Lery, anaknya Pa' Bento ke Perumahan Harmono - Harapan Indah. Pa Bento sedang mendampingi anak-aak retret di luar kota, di Tugu, Puncak, Bogor, Jawa barat. Setelah itu saya mampir di rumah. saya mau ambil jaket dan buku. Waktu menunjukkan pkl 15:30 ketika saya satar dari rumah. Saya tiba pkl 15:45 di JPS lalu finger print lalu berangkat kuliah. Saya menggunakan sepeda mootor. Saya simpan sepeda motor di Stasiun Cakung. Lalu masuk kereta yang sudah menunggu. Kereta berhenti cukup lama. Tak biasa seperti itu. Saya lelah. Saya tidur dalam kereta. Kereta berhenti cuup lama sebelum masuk stasiun Jatinegara. "maaf, kereta berhenti antre agak lama karena menunggu kereta lain yang akan meninggalakan satasiun Jatinegara," demikian pengumuman petugas kereta. Kami tiba di Jatinegara. Kami keluar menuju KA menuju Kramat. Tunggu lama. Akhirnya KA tujuan Bogor yang lewat Kramat datang juga. Tapi berhenti lama. "Ada kecelakaan, tabrakan antara KA di Stasiun Juanda. Imbasnya,pergeseran jam kenerangkatan untuk seluruh KRL dan kereta lainnya. ," demikian obrolan antar penumpang. Saya tutun di Stasiun Kramat. Ada KA yang antra juga sebagai bagian dari akibat kecelakaan itu. Waktu hampir pkl 06:00 sore. Saya putuskan untuk makan malam dulu d Warteg. Saya bayr Rp 6.000 (nasi, jamur, tempe). Lalu ke kampus. I ke kamar mandi dulu. Gosok gigi, atayr diri. Lalu masuk. Hari ini masuk kuliah kedua, Filsafat Kontemporer Abad XX. Kali ini tugas Prof. Rm. Sudarminta, SJ yang memberikan kuliah namun beliau berhalangan, lalu diganti oleh Prof. Alex Lanur, OFM. Lalu pukang. Ada harapan semoga bisa nebeng dengan teman menuju ke Kramat. Begitu teman lewat, mau naik tanpa tanya apakah lewat Sambe / Stasiun Kramat atau tidak. Mau langsung naik saja. "Maaf, saya tidak lewat Stasiun Kramat, saya mau ke by Pass - Ahmad Yani, ada urusan di sana," katanya. Okay," kataku sambil tersipu malu. Akh saya tak profesional. Malu sendiri jadinya. Lalu naik angkot. Di depan saya ada Pa Ardy Rusmin dan satu temn perempuan yang sama-sama kuliah di STF. Kami menuju stasiun Kramat. Dapat KRL. Ternyata KRL berhenti lama. Kami ngobrol. Kereta berhenti cukup lama. Kami mau naik KRL tujuan Manggarai lalu balik ke Bekasi namun ternyata antra lama, sementara ada yang langsung menuju Bekasi. Ini KRL kedua sejak kami tiba. Kami putuskan untuk pindaj KRL. Saya dan Pa Adri pindah KRL/ Dalam KRL kami ngobrol. Kami ngomong banyak hal termasuk kebudayaan Manggarai , termasuk Nggerang dan hal seputar kulaih, termasuk tesis. Lalu saya turun di Stasiun Cakung. Lalu saya dengan sepeda motor menuju VMG. Hari ini ada perubahan management di tempat Parkir motor di Cakung bahwa setiap motor mendapat kartu buktu titip sepeda motor di sana. " Ini managemen yang baik," puji saya. :a;u saya menuju ke rumah.
Rabu,
23 September 2015
Saya
antar Lery, anaknya Pa' Bento ke Perumahan Harmono - Harapan Indah.
Pa Bento sedang mendampingi anak-aak retret di luar kota, di Tugu, Puncak,
Bogor, Jawa barat. Setelah itu saya mampir di rumah. saya mau ambil jaket
dan buku. Waktu menunjukkan pkl 15:30 ketika saya satar dari rumah.
Saya tiba pkl 15:45 di JPS lalu finger print lalu berangkat
kuliah. Saya menggunakan sepeda mootor. Saya simpan sepeda motor
di Stasiun Cakung. Lalu masuk kereta yang sudah menunggu.
Kereta berhenti cukup lama. Tak biasa seperti itu. Saya lelah.
Saya tidur dalam kereta. Kereta berhenti cuup lama sebelum masuk stasiun
Jatinegara. "maaf, kereta berhenti antre agak lama karena menunggu kereta
lain yang akan meninggalakan satasiun Jatinegara," demikian pengumuman
petugas kereta. Kami tiba di Jatinegara. Kami keluar menuju KA
menuju Kramat. Tunggu lama. Akhirnya KA tujuan Bogor yang lewat Kramat
datang juga. Tapi berhenti lama. "Ada kecelakaan, tabrakan antara KA
di Stasiun Juanda. Imbasnya,pergeseran jam kenerangkatan untuk seluruh
KRL dan kereta lainnya. ," demikian obrolan antar
penumpang. Saya tutun di Stasiun Kramat. Ada KA yang
antra juga sebagai bagian dari akibat kecelakaan
itu. Waktu hampir pkl 06:00 sore. Saya putuskan untuk makan malam
dulu d Warteg. Saya bayr Rp 6.000 (nasi, jamur, tempe). Lalu ke
kampus. I ke kamar mandi dulu. Gosok gigi, atayr diri. Lalu masuk. Hari ini
masuk kuliah kedua, Filsafat Kontemporer Abad XX. Kali ini tugas Prof. Rm.
Sudarminta, SJ yang memberikan kuliah namun beliau berhalangan, lalu
diganti oleh Prof. Alex Lanur, OFM. Lalu pukang. Ada harapan semoga bisa
nebeng dengan teman menuju ke Kramat. Begitu teman lewat, mau naik tanpa tanya
apakah lewat Sambe / Stasiun Kramat atau tidak. Mau langsung naik saja.
"Maaf, saya tidak lewat Stasiun Kramat, saya
mau ke by Pass - Ahmad Yani, ada urusan di sana," katanya. Okay,"
kataku sambil tersipu malu. Akh saya tak
profesional. Malu sendiri jadinya. Lalu naik angkot. Di depan
saya ada Pa Ardy Rusmin dan satu temn perempuan yang
sama-sama kuliah di STF. Kami menuju stasiun Kramat. Dapat KRL. Ternyata
KRL berhenti lama. Kami ngobrol. Kereta berhenti cukup lama. Kami
mau naik KRL tujuan Manggarai lalu balik ke Bekasi namun ternyata
antra lama, sementara ada yang langsung menuju Bekasi. Ini KRL
kedua sejak kami tiba. Kami putuskan untuk pindaj KRL. Saya
dan Pa Adri pindah KRL/ Dalam KRL kami ngobrol. Kami
ngomong banyak hal termasuk kebudayaan Manggarai , termasuk
Nggerang dan hal seputar kulaih, termasuk tesis.
Lalu saya turun di Stasiun Cakung. Lalu saya dengan
sepeda motor menuju VMG. Hari ini ada perubahan management di tempat
Parkir motor di Cakung bahwa setiap motor mendapat kartu buktu
titip sepeda motor di sana. " Ini managemen yang
baik," puji saya. lalu saya menuju ke rumah.
Selasa,
6 Oktober 2015
Hari
ini di JPS masih sibuk koreksi ujian Mid semester I. Saya bahagia karena nilai
saya sudah masukkan ke dalam program SISTER, sistem nilai yang
perhitungannya diolah secara otomatis oleh komputer. Sementara itu, di
kampus, saya punya tugas presentasi. Saya belum merampungkan tugas
Filsafat Praktis itu. Tema yang saya garap adalah Etika Epikuros, filsuf klasik
Yunani. Saya menuju lab komputer untuk pinjam komputer yang bisa internet.
Ternyata tak bisa internet. Mr. Ade - teknisi sekolah sedang membereskan itu.
"Silahkan pakai labtop saya saja. " ajaknya. "Okay sir,"
kataku. Saya menggunakan google untuk menca
i info yang saya buthkan, terutama
pengertian deisme dan Artisipp. Saya temukan. Lalu saya kembali ke ruang
guru. Saya buka komputer guru. Saya edit makalah, lalu print. Wow... tinta
hitam bermasalah. Tak ada tulisan yang keluar pada kertas.
Bagaimana mengakali hal ini? Untung saya kreatif. Saya beri warna merah
pada text makalah itu lalu saya simpan dan print. Wow.... hasilnya
tulisan warna merah. Saya print 3. Lalu saya keluar sekolah menuju warteg
di halte Harmony. Saya makan, menu nasi, pare, 2 tahu dengan
bayaran Rp 8.000. Lalu saya ke tempat photo copy. Makalah 4 halaman, saya
jadikan 2 lembar. Saya copy Rp 20 ex, dengan harga rp 10.000. Lalu saya
menuju Jakarta untuk kuliah. Saya abaikan kuliah I, Hannah Arent. Saya titip
motor di fly over Cakung. Saya pakai kereta. Saya turun di Jatinegara. Saya
keluar stasiun. Saya jalan kaki. Saya tawar jasa ojek. Uang saya
tersisa Rp 18.000 untuk pp. Wow... berbahaya. Kurang. Karena itu saya tawar
ojek. Biasanya, pada bulan September 2015 lalu saya bayar Rp
20.000. Kali ini saya minta Rp 15.000. Banyak yang tak setuju. Ada 1
0rang yang mau bantu setuju biarnya Rp 15.000. Tanpa pakai helm kami meluncur
menuju STFD, dekat Sekolah Melania. Waktu menunjukkan pkl 18:00 pm. Saya tiba
di kampus pkl 18:17. Berama gagasan berkecamuk di kepala saya, mulai kekuatiran
bila pertukaran jam kuliah, F. Praktis duluan sementara Hannah Arent menyusul.
Saya ke kamar mandi untuk berbenah. Lalu masuk ruangan. Ternyata jadalnya
normal. Saya masih bisa presentasi F. Praktis. Lega hati saya. Saya masih
bingung, apakah kami jadi presentasi hari ini ataukah minggu depan.
Menurut SAP, Etika Islam, sementara dalam jadwal Etika Epukuros. "Terserah
Romo saja," kataku pasrah. Ternyata Etika Epikuros dan Stoa yang dipresentasikan
hari ini. Untung saya sudah siap. Prof. Sudarminta, SJ memberikan
kesempatan kepada saya dan Roy untuk mempersentasi. Saya pertama. Lalu
Roy. Saya berusaha bicara irit karena waktu untk saya hanya 10 menit. Roy
sekitar 20 menit. Lalu Prof. Sudarminta, SJ melanjutkannya tanpa tanya jawab.
Kuliah F. Praktis sebenarnya ditangani olah Prof. Franz Magnis Suseno, SJ
tetapi ikarena beliau menjadi dosen tamu di Jerman maka hal ini digantir
oleh Sudarminta, SJ. Saya pulang dengan bahagia karena tugas saya hari ini
terlaksana dengan baik meski tak sempurna. Terima kasih Tuhan. Lalu saya
pulang. Uang saya tinggal Rp 3.000. Bila naik angkot ke Kramat maka tak ada
ongkos naik kreta. Maka saya putuskan untuk jalan kaki. Sebenarnya saya bisa
pinjam uang teman atau saudara tapi saya biarkan saya berjuang sendiri.
Saya jalan kaki menuju stasiun Kramat. Saya lewat Gang Bacang - Hotel Sentral,
Jl. Pemuda, Jl. Ramamangun, Stasiun Kramat. Lalu saya telepon keluarga di
Wela. Saya kontak John tapi gagal. Lalu kontak Mery. Kami ngobrol. "Kami
di rumah Gendang sekarang, mau persiapan doa dan Misa 40 hari Ema Bone Kaso,'
dia berkisah. Kami ngobrol cukup lama. Kereta datang. Saya sibuk ngobrol. Tak
sadar saat berhenti di Stasiun Cakung. Saya baru sadar ketika di Stasiun
Kranji. Wow.... saya harus tunggu lagi untuk kembali ke Stasiun Cakung.
Saya ikut kereta terakhir. Waktu hampir pukul 21:45 pm. Kereta tiba, saya
naik. Lalu turun di Cakung. lalu pulang menuju ke VMG. Saya pakai sepeda
motor. Di perempatan dekat Warung Tobet saya beli pisang Rp 5.000.
Saya makan beberapanya lalu saya istirahat.
Rabu, 7 Oktober
2015.
Hari
ini anak-anak SD libur karena para guru SD sibuk input nilai. Saya tiba
dengan selamat dan tepat waktu. Kami input nilai. Lalu saya izin menuju rumah
untuk mengambil buku kuliah. Saya beli lauk Rp 5.000 di Kampung Bogor /
Rawa Indah. Saya beli beras 4 liter @ 8.000. Lalu beli sayur @ 7.000. Lalu saya
ke rumah. Saya makan lalu kembali ke sekolah. Saya berangkat jam 16:00 ke
kampus. Saya tiba di stasiun Cakung. Saya tunggu kereta cukup lama. Kereta tiba
pukul 17:30 Saya kesel. Tiba di Jatinegara pkl 17:50. Saya transit.
Tunggu kereta menuju Keramat - Senen Tanah Abang / Bogor hampir 1,5
jam . Terlambat sampai di kampus. Ada kraeng Adri, senior yang kuliah di
STFD juga. "Kita pakai bajaj saja. Kami masuk bajaj. Dia bayar Rp 20.000.
Saya tak masuk ke ruang kuliah, hanya baca di ruang istirahat. Begier tu kuliah
selesai saya saya menyalami Pater Prof Alex, OFM. Beliau yang mengajar.
Hari ini topik tentang Levinas. Saya paraf saja di daftar hadir.
Sayang kalau tidak paraf. Sudah jauh-jauh datang maka perlu isi data itu.
Pater Alex, OFM mau pulang ke Depok,
butuh diantar ke stasiun Manggarai. Roy
bantu carikan bajaj untuk beliu Lalu
saya pulang. Saya bareng dengan kraeng Adri Rusmin. Kami ngobrol, termasuk soal
budaya Manggarai. Kami ngobrol dengan asyik.
Rabu, 21 Oktober 2015.
Saya
dipanggil oleh Kepsek, Bapak Ben Ayung. Kami bicara soal kompetensi guru,
temasuk Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Saya stress dengan begitu
banyak hal yang disebutkan. Saya berusaha menerima kritik ini dengan lapang
dada dan kesabaran. Saya tunjukkan kepada beliau ringkasan materi yang saya
ambil dari internet. Saya edit lalu saya
print lalu saya serahkan kepada Ms Cheryl untuk dikoreksi. Setelah itu
saya pulang ke rumah. Saya makan siang di rumah dengan lauk ikan tongkol dan tempe beli di warung. Lalu
menuju kampus pkl 16:30 am. Tiba di stasiun Cakung pkl 17:00. Tak lama menunggu
kereta, kereta datang. Masih ada tempat duduk. Lapang. Ngantuk. Sadar dan
bangun di stasiun Jatinegara. Pindah
kereta. Kereta Depok via Kramat telah tiba. Tak tunggu lama. Kereta
jalan. Keluar di Kramat. Naik mobil 04
menuju Rawasari. Ketemu Pa Adri Rusmin. Sama-sama menuju kampus. Ngobrol. Saya
telat. Saya putuskan tak masuk kuliah I.
Kami ngobrol. Pater Prof. Alex Lanur, OFM
datang sebentar lalu beliau pulang. Saya ketemu Roy, teman angkatan.”Pa
Frans, kamu tidak ambil kuliah Antropologi Filosofis? Tanyanya. “Ambil hanya
hari ini saya telat, tak masuk. “Sudah presentasi?: sambungnya. “Belum”. Bilang
Romo karena hampir selesai semua,” saran Roy. ”Romo yang pilih bukan? Kataku. “
Oh… saya tak terlalu kreatif ya? Terlalu
menunggu. Tak pro aktif. Saya masuk ruang kuliah ikut kuliah kedua. Dewi yang presentasi. Presentasi tentang Karl
Poper.
Selasa, 1 Desember 2015
Ikut kuliah Hanah Arendt dan Kepublikan. Dosennya Dr. F. Budi Hardiman. Presenter hari ini ada tiga orang. Pa Yon, Pa Roy dan Pa Feliks. Saya masuk terlambat. Telak 30 menit. Mengapa? Lama tunggu kereta di Stasiun Cakung dan Stasiun Jatinegara. Saat pulang nebeng di mobilnya Ibu Nando yang hendak pulang ke Jakarta Timur. Saya turun di lampu merah di dekat fly over Jatinegara. Saya agak slow. Ibu Nanda ingatkan saya untuk turun. Saya terlalu slow. Gesit, please, Franck.
Ikut kuliah Hanah Arendt dan Kepublikan. Dosennya Dr. F. Budi Hardiman. Presenter hari ini ada tiga orang. Pa Yon, Pa Roy dan Pa Feliks. Saya masuk terlambat. Telak 30 menit. Mengapa? Lama tunggu kereta di Stasiun Cakung dan Stasiun Jatinegara. Saat pulang nebeng di mobilnya Ibu Nando yang hendak pulang ke Jakarta Timur. Saya turun di lampu merah di dekat fly over Jatinegara. Saya agak slow. Ibu Nanda ingatkan saya untuk turun. Saya terlalu slow. Gesit, please, Franck.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar