Dapat info ada yang tidak lulus. strss. Bayar Rp 2.000.000
Stress. Down. Pikiran mempengaruhi kesehatan. Pikiran baik kesehatan baik, pikiran jelek kesehatan buruk.
3 Peb. 2015, pusing. Ke sekekolah, hanya tidak ke kampus. Berobat di klinik di dekat VMG. Rp 40.000 jumlah uang yang dikeluarkan. Transfer SPP Rp 4 juta ke STFD
4, 5 Jan. 2015: absen ke campus, krn kesehatan masih labil
10 n 11 Peb 2015, gagal ke kampus dengan alasan Banjir
12 Peb. 2015, ke kampus telat. Star pkl 16:00 setelah Kursus Bahasa Inggris di JPS. Tiba telat di sana, pkl 18:00. Rm. Dr. Andang beri kuliah Filsafat Hukum. Telat. Beliau tersenyum. Getir saya rasa. Malu juga. Tapi ya... harus ikut ku;iah. Kehidupan jalan terus.
Ikut Kuliah Filsafat Asia: Hinduisme dengan baik.
17 Maret 2015
Berangkat kuliah pkl 15:40 dari JPS. Hujan rintik di sekolah Penabur hingga gerbang Harapan Indah (HI). Hanya di situ doang. Isi bensin Rp 15.000. Lalu terus ke KBT lalu ke Pulo Gebang. Telah hujan di sana. Becek di jalan. Tiba di Klender Baru. Simpan motor di tempat penitipan. Bayar Rp 5.000. Kenaikan Rp 5.000 sejak Maret 2015. Sebelumnya Rp 4.000. Ini parkir swasta. Parkir pemerintah di Stasiun Rp 6.000. Wow... kreta api lewat ketika saya lagi parkir mootor. Telat. Aku harus menunggu lama lagi. Sambil menunggu, saya meneepon saudaraku Hila di Wela. Kereta dari Bekasi tiba sekitar pukul 17:00. Wow...terlambat lagi kuliah hari ini. Hari ini ada 2 Kuliah. Kuliah pertama, dimulai jam 05:00 sore, yakni Perubahan Masyarakat, perspektif ilmu-ilmu sosial, yang dibawakan Dr. Fransiska Sikka Seda. Kedua, kuliah Filsafat agama yang diampu Prof. Dr. Sastraprateja, SJ. Saya transit kereta di Jatinegara. Tak terlalu lama menunggu. Kereta yang telah menunggu berangkat. Saya keluar di Stasiun Keramat. I mampir di warteg untuk makan. Saya makan nasi, sayur labu dan sepotong tempe goreng. Saya bayar Rp 6.000. Lalu saya menuju STFD di Jembatan Serong, Rawa Sari. Saya bayar angkot Rp 3.000. Lalu saya masuk kampus. Hampir jam 06:00 sore. Wow...malu, datang telat. Hari ini presentasi tentang Eric From, Benjamini dan Habermas. Ada 3 orang presenter hari ini: Romel (bahas Eric From, Lisa bahas Benjamin, Hanif bahas Habermas). Saya duduk mendengarkan. Dr. Ery Seda tekankan kesadaran dan refleksi diri dan komunitas sebagai solusi untuk perubahan sosial. sebagai Kuliah selesai. Saya tanda tangan presensi. Wow...rupanya isi di tempat yang salah. Ya... pasrah saja.
Lalu kuliah Filsafat Agama. Kami membicarakan Jack Derrida, filsuf kelahiran Aljasair, Afrika yang terkenal di Eropa. "Daerah kelahiran Derrida sama dengan St. Agustinus, pujangga Gereja. Keduanya lahir di kawasan Afrika Utara," demikian Profesor Sastro,SJ.
Saya dan Lia tanda tangan daftar hadir. Wah... salah melulu hari ini. Kapan benarnya?" protesku dalam hati. Lalu kami diskusi untuk Filsafat Hukum yang akan kami presentasikan pada Kamis, 19 Maret 2015. Mbak Lisa dan saya diskusi itu. Kami berusaha memberikan yang terbaik. Kami pulang.
Saya mau ke Rawa Mangun untuk ambil buku J Derida yang dikopi di sana. Saya mampir di ATM BCA Rawasari guna bayar photocopy buku. Lalu saya tunggu bus 47. Lama juga menunggu. Saya lihat segerombolan gadis cantik menjajakan rokok kepada laki-laki di sekitar. Mereka cantik-cantik. Style mantap sambil gengam gadget. Wow.... indah dipandang mata.Bus Metromini 47 tiba. Saya masuk. Saya berdiri. Saya turun di Arion. Lalu menyebrang menuju tempat photo copy, Delima. Saya bayar Rp 90.000. Lalu photo copy paper Masyarakat dan perubahan sosial Rp 2.000. Lalu pulang. Tunggu mobil Metromini 47. Bis datang. Saya masuk. Wow... ingin baca, malah pusing. Di Klender, pusing banget. Wow... neraka ini datang lagi. Saya berhenti di Pondok Kopi. Masih pusing. Jalan menuju Stasiun. Waktu pukul 21:15 pm. Di bawah pohon beringin saya mengaso. Ada tukang ojek, tukang jualan dan warga di sekitar. Saya berusaha enjoy menikmati kepusingan sambil menunggu kesembuhan. Apa yang harus saya lakukan? Mungkin pusing karena lapar juga. Di situ ada penjual jus. Saya pesean jus alpukat. Saya bayar Rp 8.000. Agak mereda pusingnya. Sempat saya pikir untuk gunakan taksi, motor simpan di temapt penitipan dengan bayar Rp 15.000. Namun alternatif itu batas karena pusing berkurang. Bayar parkir motor Rp 5.000. Saya mengendarai motor via Wali Kota, Pulo Gebang - Jl. Raya Bekasi - Mentland Menteng - Harapan Indah - VMG. Saya mampir di gerbang VMG. Saya makan kacang + nasi + roti + susu. Saya bayar Rp 5.000. Pemiliknya dari Madura. Lalu saya ke rumah. Mr. Harnoto masih nonton. Waktu pkl 22:30 pm. Lalu saya minta beliau untu tidak merokok karena masih pusimg. Lalu tidur. Wow.... perjuangan hari ini.... ada rasa malu, ada rasa sedih.... namun... syukur bahwa sudah tiba dengan selamat.
Rabu, 6 Mei 2015
Presentasi Makalah MK Filsafat Yahudi. Saya berangkat pukul 15:15 dari JPS setelah izin. Tanggung krn 15' lagi pulang yakni 15:30. Tak tak apa. Saya singgah di tempat photo copy untuk gandakan bahan presentasi. Saya gandaka sebanyak 30 makalah. Saa bayar Rp 36.000. Saya isi bensin di jalan. Untuk pertama kali saya isi bensin di di pinggir jalan. Saya is Rp 8.000. Saya berangkat ke Stasiun Cakung. Saya titip seped motor di sana. Saya tunggu kereta ke Jakarta. Kereta datang. saya dapat tempat. Berkecamuk beregam hal dalam hatiku, termasuk harus turun di mana, di Jatinegara atau di Kramat. Saya sudah beli tiket untuk hanya samapai di Satasiun Jatinegara saja. Saya rencana pakai ojek keSTFD. Saya tiba di Jatinegara. Saya lakukan rencana itu. saya harus jalan kaki ke Jl.Ahmad Yani. Cukup berkringat karena jalan kaki. Di sana saya ambil ojek. Saya bayar Rp 15.000. Saya tiba dengan selamat. Waktu menunjukkan pkl 16:50. Saya punya waktu 10 menit untuk siapkan diri. Say ngobrol dengan Pa Marko (Markus Supomo). Saya buru-buru. Kemudian masuk kelas. Saya bagikan makalah. Judulnya: "Dosa dan Perasaan Bersalah. Kami mempresentasikan pemikiran Martin Buber, pemikir Yahudi. Kali ini kami 3 0rang yang Presentasi makalah. Saya dan Pa Maga Sisong mempresentasikankan "Dosa dan Perasaan Bersalah menurut Martin Buber. "Dalam Taurat / Talmut ada 10 Perintah Allah. Dalam Masyarakat Toraja ada 11 perintah. Perintah ke 11, "Asal orang tidak tahu." Itu yang paling penting. Pa Ibnu mempersentasikan: "Imigo Dei )?). Saya dan Pa Marga Sisong pertama. Saya membuka dengan baik namun bagian akhir tak terlalu baik. Namun, umumnya saya bisa menjawab pertanyaan peserta kuliah dengan baik. Ada kritik dan catatan dosen tentang isi materi presentasi. Ada beberapa komponen yang kurang. Ada kalimat yang rumusannya kacau dalam susunan S-P - O - K. Lalu saya ngobrol dengan Redem setelah kuliah berakhir. Kami duduk di bangku taman. Setelah itu saya pulang. Saya pulang pakai angkot ke Keramat.Di sini saya ketemu seorang Bapak. kami ngobrol. Dia Pa Jimi. Pa'Jiwi mau ke Bekasi. Dia tinggal di Cikunir. Penampilannya sederhana. Celana pendek. Wajahnya Tionghoa. "Saya punya tiga anak. Satu kuliah di Paris, satu kuliah di ITB dan satu lagi kuliah di UNMER Malang. Saya tak punyak duit," katanya."Wah, bapak ini rupanya pandai mendidik anak sehingga anak cerdas sehingga bisa kuliah di kampus bagus, meski dia mengaku tak punya uang. Saya penasaran dengan hal ini. "Bagaimana trik bapak sehingga berhasil mendidik mereka sehingga bisa mengenyam pendidikan di kampus yang bermutu? tanya saya. "Saya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Hanya itu yang saya lakukan karena saya tak punya duit," jawab bapak yang mengaku bekerja di Jln. Pramuka ini. Pa Jimi lahir di Jakarta. Orang tuanya tinggal di sekitar Jl. Pramuka. Namun kemudia rumah di sana dijual. Selanjutnya mereka pindah ke Cikunir. Kereta ke jatinegara datang. Kami naik. Kami turun di Jatinegara. Di sana saya transit. Saya menunggu kereta ke Bekasi. Saya turun di Stasiun Cakung. Saya pakai sepeda motor melewati Kanal Banjir Timur. Saya mengisi bensin Rp 15.000. Ternyata bensin yang saya isi di pinggir jalan begitu sedikit. Ya.... mereka mencari hidup juga.
Kamis, 7 Mei 2015
Hari ini kami ada 2 kuliah. Fisafat Hukum dan Filsafat India Selatan dan Komprehensif. Saya terlambat karena sibuk di sekolah dan ketiduran dalam kereta api sehingga lupa turun di Kramat. Saya simpan motor di Cakung. Saya masuk kereta. Saya lelah. Badan pikiran terasa leleh. Saya selonjorkan badan di kursi dalam kereta api. Saya tidur. Untung bisa sadar ketika tiba di Jatinegara. Tunggu kereta ke Kramat. Kereta datang. saya tidur lagi. nyenyak. Sadar ketika di Kramat Sentiong. Saya pikir masih di Pondok Jati. Ternyata sudah lewat satasiun Kramat. Saya putuskan turun di Senen. Saya coba pakai akal bagaimana cara kembali ke Kramat tanpa keluar dari stasiun. Ini demi hemat. Bila keluar berarti kena penalti karena tidak turun di stasiun sebagaimana yang direncanakan/ tertulis dalam karcis dan tiket jaminan berbayar. "Bagaimna cara saya bisa kembali ke Kramat tanpa hangus karju jaminan?" tanyaku kepada petugas. Awalnya saya hilir mudik untuk menyeberang sebagamana di beberapa stasiunlainnya, misalnya Cakung, kelender Baru, Jatinegara. Ternyata Stasiun Senen aturannya lain. Penumpang yang ke Bekasi / Kramat tidak bisa naik dari Senen. Bila mau ke Bekasi harus ke stasiun Kemayoran dulu. Boleh naik di sana. Okay. Saya mengikuti aturan itu. Waktu saudaah menunjukkan pukul 17:00 waktu kuliah Pasca Sarjana di STFD sudah mulai. Saya rela tidak ikut kuliah pertama. Saya menunggu kereta ke Kemayoran. Kereta datang hampir pkl 18:00. Saya naik. Tiba di Kemayoran langsung transit. Ada kereta ke Jatinegara. Kereta tak berhenti di Senen. Saya berhenti di Kramat. Lalu pakai angkot ke Rawasari, turun di Jembatan Serong setelah bayr Rp 3.000. Saya ikut kuliah Filsata India. Hari ini Prof. Rm. Sudiarja, SJ (Dipo) yang masuk menemani mahasiswa yang mempresentasi makalah. Setelah kuliah kami mahasiswa angkatan 2014/2015 berdiskusi tentang acara Tutup Semester. kami Panitia. Notulen bisa lihat di bawah nanti. Redem titip dokumennya kepada saya untuk diberikan ke pimpnan sekolah JPS. Saat pulang saya nebeng dengan mobilnya Ibu Nanda. Dia ke Jatinegara. Saya duduk di depan. Dia mau ke dokter di Jatinegara. Saya turun persis di depan stasiun. "Terima kasih Ibu Nanda. Ini untuk ke sekian kali saya nebeng dalam mobilnya Ibu Nanda. Saya menyeberang masuk stasiun Jatinegara. Saya beli karcis lalu masuk stasiun. Lalu saya tunggu kereta. Saya ketemu Pa' Arif (?) teman kuliah. Dia pakai kereta juga. Dia cerdas. "Bapak tampaknya cukup menguasai Antropologi," katanya. Ia saya berminat dengan budaya. Saya berusaha mnulis tesis berkaitan dengan budaya," jawab saya. Ya, kalau passion ya seperti itu, tamapak begitu menguasai materi. Pa' Arif (?) cerdas.Pikirannya kritis, analisanya tajam. Mungkin dia Islam. Dia bergabung dalam semester genap ini. Lalu kami masuk kereta ketika kereta tiba. Lalu ketika tiba di Cakung saya kelaur. Saya ambil motor di tempat penitipan. Saya bayar Rp 5.000. Saya melanjutkan perjalanan menuju ke VMG.
Selasa, 12 Mei 2015
Hari ini ada rencana giliran presentasi bagi kelompok kami yang membahas Derrida. Sejak semalam hingga siang ini saya persiapkan materi. Saya menulis dan mengomentari Derrida tentang Gramatologi, lebih khusus: Berakhhirnya buku dan mulainya tulisan. Saya mengedit makalah Midsemester. Saya tambahkan sedikit. Lalu saya print. Saya berangkat pukul 15:45 pm. Saya harus ke tempat photocopy untuk gandakan bahan. Saya menuju Harmony. saya bayar Rp 30.000. Saya gandakan 20 exemplar. Lalu saya makan di Warteg di Rawa Indah.Saya makan nasi, sayur, ayam goreng.Saya bayar Rp 9.000. Saya ke kontrakan di VMG. Saya ambil uang lalu kembali ke JPS untuk ambil Hp yang lupa. Saya lanjutkan perjalanan ke stasiun Cakung. Saya masuk kereta. Saya baca makalah tentang Derrida. Saya turun di Jatinegara. Saya transit menunggu kereja menuju Kramat. Waktu menunjukkan pukul 18:15. Saya putuskan untuk pakai ojek agar tidak terlambat. Saya negosiasi dengan tukang ojek. Kami sepakati harga Rp 12.000 menuju kampus STFD. Saya tiba di kampus pkl 18:30 pm. Saya ngobrol dengan Redem dan Ambros. Lalu kami masuk. Kami yang bertugas presentasi Derrida adalah Redem, Roy dan saya. Redem pertama, lalu saya dan Roy terakhir. Saya membwakan tak terlalu bagus. Saya tak terlalu Percaya diri ketika membawakannya. Satu teman lain yang mempresentasikan makalah adalah Marga Sisong. Maga mempresentasi Emanuel Levinas. Ada satu tamu saat kuliah. Tampangnya orang asing. Dia duduk dekat Lisa. Mungkin temnnya Lisa. "Saya mau bertanya kepada Pa Redem. Tolong jelaskan teori destruksi Heideger yang kemudian dijadikan teori Dekonstruksi oleh Derrida!. Redem turut menawab itu. Yohanes Bayu ditunjuk Rm. Prof. Sasraprateja,SJ untuk menjawab juga karena Bayu yang tulis tentang materi itu. Mungkin skripsi Yohanes Bayu tentang itu. Pertanyaan peserta diarahkan kepada Roy, terutama tentang Hyper Humanism -nya Heiddeger dan konsep Hospitalitas-nya Derrida. "Hospitalitas itu adat kebiasaan Timur Tengah. Setiap musafir yang mampir tolong dlayani dengan baik. Berikan mereka makanan dan minuman dan penginapan. Mungkin yang mapir di tengah malam bukan hanya musafir, orang baik - baik. Mungkin juga yang datang itu bukan orang baik. Meski mereka bukan orang baik, tolong dilayani dengan baik juga, sebagaomana pelayanan kepada orang-orang baik. Di sini Derrida ada harapan. Semoga dengan pelayanan yang baik, orang yang jahat / kurang baik bisa menjadi baik. " Itu yang dimaksudkan dengan hospitality oleh Derrida. " jelas Romo Rm. Prof. Sasraprateja,SJ. Lalu Marga menjelaskan Levisa tentang wajah 'yang lain. "Apa "wajah" itu hanpirnya dengan yang terdapat dalam Taurat / Keja 1: 27: "Gambar dan Rupa Allah"? " tanya Santi Manurung kepada Marga.
Selesai kuliah saya bercakap-cakap dengan Santi manurung dan Nanda. Lalu saya pulang. Saya nebeng di mobilnya Nanda. Saya turun di Jatinegara. Saya jalan kaki. Di trotoar / pinggir jalan, saya melihat lihat seorang pedagang (?) menampar seorang yang jalan dengan seorang wanita. Laki-laki itu berusaha menghindar. Laki-laki yang memukul mungkin pedagang. Mungkin dia mengharapkan agar laki-laki dan temn perempunnya itu membeli namun batal maka dia kecewa / marah hingga memukul. Wow..... kejam juga. Stasiun Jatinegara malam-malam ramai dengan pedagang. Hanya satu jalur mobil yang bisa lewat. Selebihnya, badan dan bahu jalan "dirampok" oleh pedagang barang / makanan. Wow..... di mana pemerintah untuk mengatur hal ini? Di mana Ahok, gubernur DKI yang terkenal tegas untuk mengatur hal ini. "Malam hari, depan Stasiun Jatinegara hinggaa flyover padat dengan pedagang. Polisi tampaknya membiarkan saja. Mungkin mereka mendapat jatah dari para pedadang," demikian celoteh seorang teman. Saya terus melintasi jalan itu hingga masuk Stasius Jatinegara. Saya membeli tiket. Saya menelepon Pa Adri Odja yang meneleponku sore tadi ketika saya naik ojek. Hp Pa Adri sedang sibuk. Saya lihat Bapaknya Steve dan Sam - murid JPS - di Stasiun. Saya lalusaja. Mungkin saya terlalu cuek juga, pura-pura tak tahu. Kami berdempetan dalam kereta, lak-perempuan berbauran, berdesak-desakan, sentuh menyentuh. Itu pemandangan biasa dalam kereta pada jam-jam sibuk. Jam-jam sibu biasanya ketika orang pergi dan pulang kerja dan pada hari libur. Saya ambil Hp untuk kontak saudara di kmpubg saya mau tanya kabar saudara saya John yang beberapa hari lalu kurang sehat. Hp nya tak diangkat. Lalu saya telepon Kakak laki-laki sulu, Beny. Dia jawab. "Kami baik-baik. Johny pilet tapi sekarang sedang ke Golowelu untuk menonton TV mau menyaksikan pertandingan sepak bola, Barca vs Bayern Munchen. Bapak Paulus agak membaik meskipun badannya agak turun. Dia tetap di kios," kata Beny. Lalu saya ke tempat pemitipan motor. Saya bayar Rp 5.000. saya pulang lewat Kanal Banjir Tumur. Lalu saya meluncur ke VMG. Saya beli pisang kepok di pinggir jalan di perempatan Jl. Bulevard. Saya tawar harga. Kami sepakat Rp 7.000. saya ke rumah. Saya berskan perelngapan makan. Buka TV sebentar lalu tidur. Esoknya pkl 2:00 am pagi bangun nonton TV, Bayern vs Barca, 3 - 2 untuk kememangan Bayern Muncen, namun Baca yang lolos ke final karena unggul agregat 5- 3 berkat kemenangan 3 - 0 pada leg pertama, 7 Mei 2015 minggu lalu. Say masak sayur lalu tidur. bangun pkl 6:15 am. Saya buru-buru ke sekolah tiba pkl 06:38 am. Saya tulis blog selama 2 jam, pkl 07:00 - 09:00. Pa Ben - kepsek ingatkan untuk kirim kisi-kisi kelas 2 dan 4. saya langsung lakukan itu.
Saya mau ke Rawa Mangun untuk ambil buku J Derida yang dikopi di sana. Saya mampir di ATM BCA Rawasari guna bayar photocopy buku. Lalu saya tunggu bus 47. Lama juga menunggu. Saya lihat segerombolan gadis cantik menjajakan rokok kepada laki-laki di sekitar. Mereka cantik-cantik. Style mantap sambil gengam gadget. Wow.... indah dipandang mata.Bus Metromini 47 tiba. Saya masuk. Saya berdiri. Saya turun di Arion. Lalu menyebrang menuju tempat photo copy, Delima. Saya bayar Rp 90.000. Lalu photo copy paper Masyarakat dan perubahan sosial Rp 2.000. Lalu pulang. Tunggu mobil Metromini 47. Bis datang. Saya masuk. Wow... ingin baca, malah pusing. Di Klender, pusing banget. Wow... neraka ini datang lagi. Saya berhenti di Pondok Kopi. Masih pusing. Jalan menuju Stasiun. Waktu pukul 21:15 pm. Di bawah pohon beringin saya mengaso. Ada tukang ojek, tukang jualan dan warga di sekitar. Saya berusaha enjoy menikmati kepusingan sambil menunggu kesembuhan. Apa yang harus saya lakukan? Mungkin pusing karena lapar juga. Di situ ada penjual jus. Saya pesean jus alpukat. Saya bayar Rp 8.000. Agak mereda pusingnya. Sempat saya pikir untuk gunakan taksi, motor simpan di temapt penitipan dengan bayar Rp 15.000. Namun alternatif itu batas karena pusing berkurang. Bayar parkir motor Rp 5.000. Saya mengendarai motor via Wali Kota, Pulo Gebang - Jl. Raya Bekasi - Mentland Menteng - Harapan Indah - VMG. Saya mampir di gerbang VMG. Saya makan kacang + nasi + roti + susu. Saya bayar Rp 5.000. Pemiliknya dari Madura. Lalu saya ke rumah. Mr. Harnoto masih nonton. Waktu pkl 22:30 pm. Lalu saya minta beliau untu tidak merokok karena masih pusimg. Lalu tidur. Wow.... perjuangan hari ini.... ada rasa malu, ada rasa sedih.... namun... syukur bahwa sudah tiba dengan selamat.
Rabu, 6 Mei 2015
Presentasi Makalah MK Filsafat Yahudi. Saya berangkat pukul 15:15 dari JPS setelah izin. Tanggung krn 15' lagi pulang yakni 15:30. Tak tak apa. Saya singgah di tempat photo copy untuk gandakan bahan presentasi. Saya gandaka sebanyak 30 makalah. Saa bayar Rp 36.000. Saya isi bensin di jalan. Untuk pertama kali saya isi bensin di di pinggir jalan. Saya is Rp 8.000. Saya berangkat ke Stasiun Cakung. Saya titip seped motor di sana. Saya tunggu kereta ke Jakarta. Kereta datang. saya dapat tempat. Berkecamuk beregam hal dalam hatiku, termasuk harus turun di mana, di Jatinegara atau di Kramat. Saya sudah beli tiket untuk hanya samapai di Satasiun Jatinegara saja. Saya rencana pakai ojek keSTFD. Saya tiba di Jatinegara. Saya lakukan rencana itu. saya harus jalan kaki ke Jl.Ahmad Yani. Cukup berkringat karena jalan kaki. Di sana saya ambil ojek. Saya bayar Rp 15.000. Saya tiba dengan selamat. Waktu menunjukkan pkl 16:50. Saya punya waktu 10 menit untuk siapkan diri. Say ngobrol dengan Pa Marko (Markus Supomo). Saya buru-buru. Kemudian masuk kelas. Saya bagikan makalah. Judulnya: "Dosa dan Perasaan Bersalah. Kami mempresentasikan pemikiran Martin Buber, pemikir Yahudi. Kali ini kami 3 0rang yang Presentasi makalah. Saya dan Pa Maga Sisong mempresentasikankan "Dosa dan Perasaan Bersalah menurut Martin Buber. "Dalam Taurat / Talmut ada 10 Perintah Allah. Dalam Masyarakat Toraja ada 11 perintah. Perintah ke 11, "Asal orang tidak tahu." Itu yang paling penting. Pa Ibnu mempersentasikan: "Imigo Dei )?). Saya dan Pa Marga Sisong pertama. Saya membuka dengan baik namun bagian akhir tak terlalu baik. Namun, umumnya saya bisa menjawab pertanyaan peserta kuliah dengan baik. Ada kritik dan catatan dosen tentang isi materi presentasi. Ada beberapa komponen yang kurang. Ada kalimat yang rumusannya kacau dalam susunan S-P - O - K. Lalu saya ngobrol dengan Redem setelah kuliah berakhir. Kami duduk di bangku taman. Setelah itu saya pulang. Saya pulang pakai angkot ke Keramat.Di sini saya ketemu seorang Bapak. kami ngobrol. Dia Pa Jimi. Pa'Jiwi mau ke Bekasi. Dia tinggal di Cikunir. Penampilannya sederhana. Celana pendek. Wajahnya Tionghoa. "Saya punya tiga anak. Satu kuliah di Paris, satu kuliah di ITB dan satu lagi kuliah di UNMER Malang. Saya tak punyak duit," katanya."Wah, bapak ini rupanya pandai mendidik anak sehingga anak cerdas sehingga bisa kuliah di kampus bagus, meski dia mengaku tak punya uang. Saya penasaran dengan hal ini. "Bagaimana trik bapak sehingga berhasil mendidik mereka sehingga bisa mengenyam pendidikan di kampus yang bermutu? tanya saya. "Saya memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Hanya itu yang saya lakukan karena saya tak punya duit," jawab bapak yang mengaku bekerja di Jln. Pramuka ini. Pa Jimi lahir di Jakarta. Orang tuanya tinggal di sekitar Jl. Pramuka. Namun kemudia rumah di sana dijual. Selanjutnya mereka pindah ke Cikunir. Kereta ke jatinegara datang. Kami naik. Kami turun di Jatinegara. Di sana saya transit. Saya menunggu kereta ke Bekasi. Saya turun di Stasiun Cakung. Saya pakai sepeda motor melewati Kanal Banjir Timur. Saya mengisi bensin Rp 15.000. Ternyata bensin yang saya isi di pinggir jalan begitu sedikit. Ya.... mereka mencari hidup juga.
Kamis, 7 Mei 2015
Hari ini kami ada 2 kuliah. Fisafat Hukum dan Filsafat India Selatan dan Komprehensif. Saya terlambat karena sibuk di sekolah dan ketiduran dalam kereta api sehingga lupa turun di Kramat. Saya simpan motor di Cakung. Saya masuk kereta. Saya lelah. Badan pikiran terasa leleh. Saya selonjorkan badan di kursi dalam kereta api. Saya tidur. Untung bisa sadar ketika tiba di Jatinegara. Tunggu kereta ke Kramat. Kereta datang. saya tidur lagi. nyenyak. Sadar ketika di Kramat Sentiong. Saya pikir masih di Pondok Jati. Ternyata sudah lewat satasiun Kramat. Saya putuskan turun di Senen. Saya coba pakai akal bagaimana cara kembali ke Kramat tanpa keluar dari stasiun. Ini demi hemat. Bila keluar berarti kena penalti karena tidak turun di stasiun sebagaimana yang direncanakan/ tertulis dalam karcis dan tiket jaminan berbayar. "Bagaimna cara saya bisa kembali ke Kramat tanpa hangus karju jaminan?" tanyaku kepada petugas. Awalnya saya hilir mudik untuk menyeberang sebagamana di beberapa stasiunlainnya, misalnya Cakung, kelender Baru, Jatinegara. Ternyata Stasiun Senen aturannya lain. Penumpang yang ke Bekasi / Kramat tidak bisa naik dari Senen. Bila mau ke Bekasi harus ke stasiun Kemayoran dulu. Boleh naik di sana. Okay. Saya mengikuti aturan itu. Waktu saudaah menunjukkan pukul 17:00 waktu kuliah Pasca Sarjana di STFD sudah mulai. Saya rela tidak ikut kuliah pertama. Saya menunggu kereta ke Kemayoran. Kereta datang hampir pkl 18:00. Saya naik. Tiba di Kemayoran langsung transit. Ada kereta ke Jatinegara. Kereta tak berhenti di Senen. Saya berhenti di Kramat. Lalu pakai angkot ke Rawasari, turun di Jembatan Serong setelah bayr Rp 3.000. Saya ikut kuliah Filsata India. Hari ini Prof. Rm. Sudiarja, SJ (Dipo) yang masuk menemani mahasiswa yang mempresentasi makalah. Setelah kuliah kami mahasiswa angkatan 2014/2015 berdiskusi tentang acara Tutup Semester. kami Panitia. Notulen bisa lihat di bawah nanti. Redem titip dokumennya kepada saya untuk diberikan ke pimpnan sekolah JPS. Saat pulang saya nebeng dengan mobilnya Ibu Nanda. Dia ke Jatinegara. Saya duduk di depan. Dia mau ke dokter di Jatinegara. Saya turun persis di depan stasiun. "Terima kasih Ibu Nanda. Ini untuk ke sekian kali saya nebeng dalam mobilnya Ibu Nanda. Saya menyeberang masuk stasiun Jatinegara. Saya beli karcis lalu masuk stasiun. Lalu saya tunggu kereta. Saya ketemu Pa' Arif (?) teman kuliah. Dia pakai kereta juga. Dia cerdas. "Bapak tampaknya cukup menguasai Antropologi," katanya. Ia saya berminat dengan budaya. Saya berusaha mnulis tesis berkaitan dengan budaya," jawab saya. Ya, kalau passion ya seperti itu, tamapak begitu menguasai materi. Pa' Arif (?) cerdas.Pikirannya kritis, analisanya tajam. Mungkin dia Islam. Dia bergabung dalam semester genap ini. Lalu kami masuk kereta ketika kereta tiba. Lalu ketika tiba di Cakung saya kelaur. Saya ambil motor di tempat penitipan. Saya bayar Rp 5.000. Saya melanjutkan perjalanan menuju ke VMG.
Selasa, 12 Mei 2015
Hari ini ada rencana giliran presentasi bagi kelompok kami yang membahas Derrida. Sejak semalam hingga siang ini saya persiapkan materi. Saya menulis dan mengomentari Derrida tentang Gramatologi, lebih khusus: Berakhhirnya buku dan mulainya tulisan. Saya mengedit makalah Midsemester. Saya tambahkan sedikit. Lalu saya print. Saya berangkat pukul 15:45 pm. Saya harus ke tempat photocopy untuk gandakan bahan. Saya menuju Harmony. saya bayar Rp 30.000. Saya gandakan 20 exemplar. Lalu saya makan di Warteg di Rawa Indah.Saya makan nasi, sayur, ayam goreng.Saya bayar Rp 9.000. Saya ke kontrakan di VMG. Saya ambil uang lalu kembali ke JPS untuk ambil Hp yang lupa. Saya lanjutkan perjalanan ke stasiun Cakung. Saya masuk kereta. Saya baca makalah tentang Derrida. Saya turun di Jatinegara. Saya transit menunggu kereja menuju Kramat. Waktu menunjukkan pukul 18:15. Saya putuskan untuk pakai ojek agar tidak terlambat. Saya negosiasi dengan tukang ojek. Kami sepakati harga Rp 12.000 menuju kampus STFD. Saya tiba di kampus pkl 18:30 pm. Saya ngobrol dengan Redem dan Ambros. Lalu kami masuk. Kami yang bertugas presentasi Derrida adalah Redem, Roy dan saya. Redem pertama, lalu saya dan Roy terakhir. Saya membwakan tak terlalu bagus. Saya tak terlalu Percaya diri ketika membawakannya. Satu teman lain yang mempresentasikan makalah adalah Marga Sisong. Maga mempresentasi Emanuel Levinas. Ada satu tamu saat kuliah. Tampangnya orang asing. Dia duduk dekat Lisa. Mungkin temnnya Lisa. "Saya mau bertanya kepada Pa Redem. Tolong jelaskan teori destruksi Heideger yang kemudian dijadikan teori Dekonstruksi oleh Derrida!. Redem turut menawab itu. Yohanes Bayu ditunjuk Rm. Prof. Sasraprateja,SJ untuk menjawab juga karena Bayu yang tulis tentang materi itu. Mungkin skripsi Yohanes Bayu tentang itu. Pertanyaan peserta diarahkan kepada Roy, terutama tentang Hyper Humanism -nya Heiddeger dan konsep Hospitalitas-nya Derrida. "Hospitalitas itu adat kebiasaan Timur Tengah. Setiap musafir yang mampir tolong dlayani dengan baik. Berikan mereka makanan dan minuman dan penginapan. Mungkin yang mapir di tengah malam bukan hanya musafir, orang baik - baik. Mungkin juga yang datang itu bukan orang baik. Meski mereka bukan orang baik, tolong dilayani dengan baik juga, sebagaomana pelayanan kepada orang-orang baik. Di sini Derrida ada harapan. Semoga dengan pelayanan yang baik, orang yang jahat / kurang baik bisa menjadi baik. " Itu yang dimaksudkan dengan hospitality oleh Derrida. " jelas Romo Rm. Prof. Sasraprateja,SJ. Lalu Marga menjelaskan Levisa tentang wajah 'yang lain. "Apa "wajah" itu hanpirnya dengan yang terdapat dalam Taurat / Keja 1: 27: "Gambar dan Rupa Allah"? " tanya Santi Manurung kepada Marga.
Selesai kuliah saya bercakap-cakap dengan Santi manurung dan Nanda. Lalu saya pulang. Saya nebeng di mobilnya Nanda. Saya turun di Jatinegara. Saya jalan kaki. Di trotoar / pinggir jalan, saya melihat lihat seorang pedagang (?) menampar seorang yang jalan dengan seorang wanita. Laki-laki itu berusaha menghindar. Laki-laki yang memukul mungkin pedagang. Mungkin dia mengharapkan agar laki-laki dan temn perempunnya itu membeli namun batal maka dia kecewa / marah hingga memukul. Wow..... kejam juga. Stasiun Jatinegara malam-malam ramai dengan pedagang. Hanya satu jalur mobil yang bisa lewat. Selebihnya, badan dan bahu jalan "dirampok" oleh pedagang barang / makanan. Wow..... di mana pemerintah untuk mengatur hal ini? Di mana Ahok, gubernur DKI yang terkenal tegas untuk mengatur hal ini. "Malam hari, depan Stasiun Jatinegara hinggaa flyover padat dengan pedagang. Polisi tampaknya membiarkan saja. Mungkin mereka mendapat jatah dari para pedadang," demikian celoteh seorang teman. Saya terus melintasi jalan itu hingga masuk Stasius Jatinegara. Saya membeli tiket. Saya menelepon Pa Adri Odja yang meneleponku sore tadi ketika saya naik ojek. Hp Pa Adri sedang sibuk. Saya lihat Bapaknya Steve dan Sam - murid JPS - di Stasiun. Saya lalusaja. Mungkin saya terlalu cuek juga, pura-pura tak tahu. Kami berdempetan dalam kereta, lak-perempuan berbauran, berdesak-desakan, sentuh menyentuh. Itu pemandangan biasa dalam kereta pada jam-jam sibuk. Jam-jam sibu biasanya ketika orang pergi dan pulang kerja dan pada hari libur. Saya ambil Hp untuk kontak saudara di kmpubg saya mau tanya kabar saudara saya John yang beberapa hari lalu kurang sehat. Hp nya tak diangkat. Lalu saya telepon Kakak laki-laki sulu, Beny. Dia jawab. "Kami baik-baik. Johny pilet tapi sekarang sedang ke Golowelu untuk menonton TV mau menyaksikan pertandingan sepak bola, Barca vs Bayern Munchen. Bapak Paulus agak membaik meskipun badannya agak turun. Dia tetap di kios," kata Beny. Lalu saya ke tempat pemitipan motor. Saya bayar Rp 5.000. saya pulang lewat Kanal Banjir Tumur. Lalu saya meluncur ke VMG. Saya beli pisang kepok di pinggir jalan di perempatan Jl. Bulevard. Saya tawar harga. Kami sepakat Rp 7.000. saya ke rumah. Saya berskan perelngapan makan. Buka TV sebentar lalu tidur. Esoknya pkl 2:00 am pagi bangun nonton TV, Bayern vs Barca, 3 - 2 untuk kememangan Bayern Muncen, namun Baca yang lolos ke final karena unggul agregat 5- 3 berkat kemenangan 3 - 0 pada leg pertama, 7 Mei 2015 minggu lalu. Say masak sayur lalu tidur. bangun pkl 6:15 am. Saya buru-buru ke sekolah tiba pkl 06:38 am. Saya tulis blog selama 2 jam, pkl 07:00 - 09:00. Pa Ben - kepsek ingatkan untuk kirim kisi-kisi kelas 2 dan 4. saya langsung lakukan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar