Selasa, 15 Desember 2015

Driyakara dan Seni Musik

 

 

Tampilkan Pemikiran Driyakara Melalui Seni Musik

 http://regional.kompas.com/read/2015/12/15/23181091/Tampilkan.Pemikiran.Driyakara.Melalui.Seni.Musik
Selasa, 15 Desember 2015 | 23:18 WIB
dianmarianaulfa.blogs.uny.ac.id Driyakara

SLEMAN, KOMPAS.com
--Pemikiran-pemikiran tentang seni dari filsuf Driyarkara akan ditampilkan dalam perhelatan "Driyarkara Akustik Project" pada 18 Desember 2015 di Student Hall kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Mrican, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Perhelatan ini untuk menggali pemikiran dan semangat Driyarkara pada wilayah estetika di bidang musik," kata penggagas "Driyarkara Akustik Project" Romo G Budi Subanar di Yogyakarta, Selasa.
Kesenian sudah muncul sebelum masyarakat mengenal ilmu pengetahuan dan teknik. Di mana ada manusia, di situ ada kesenian. Merupakan suatu tragedi ketika manusia tak bisa menyatu dengan objek keindahan.
"Inilah salah satu pemikiran Driyarkara ahli filsafat dan seorang pastor. yang kemudian dilontarkan kembali melalui sebuah perhelatan 'Driyarkara Akustik Project'," katanya.
Ia mengatakan, acara ini melibatkan musisi-musisi Yogyakarta seperti Ayu Laksmi, Khrisna Encik, Srintil, Wukir Suryadi, Sadhar Jazz, dan masih ada beberapa lagi.
"Sebagai 'story teller' adalah Whani Darmawan," katanya.
Budi Subanar mengatakan, kegiatan ini baru dilakukan sekarang karena wilayah seni itu sebuah ekspresi simbolik dalam rupa bahasa.
"Bahasa simbol timbul di wilayah gambar, visual, film, juga musik. Sehingga kalau sekarang ada film, musik maka itu bukan hanya wilayah hiburan, tetapi juga dimunculkan di wilayah itu ada proses berpikir dalam membentuk pengetahuan," katanya.
Maka ketika film atau musik ditangkap dan dikuasai oleh pasar, katanya, maka dia hanya menjadi barang komoditi.
"Ini menjadi bahaya. Khasanah pengetahuan, khasanah ekspresi keindahan menjadi tenggelam ketika itu ditempatkan dan dikuasi pasar atau menjadi komoditi," katanya.
Ia mengatakan, menjadi barang dagangan, baik itu film atau musik, yang terjadi adalah kejar tayang, terus diproduksi. Orang tidak melihat ini menjadi wilayah pengetahuan, wilayah pemikiran.
"Maka dalam 'Driyarkara Akustik Project', ingin menempatkan kembali, serta mengajak kita berhenti sejenak dan menempatkan wilayah musik ini adalah pemikiran, pengetahuan, sumber energi. Bukan melulu konsumsi dagangan. Dengan kata lain untuk menempatkan kembali pada khitahnya. Proses awalnya," katanya.
Sedangkan Whani Darmawan juga menyampaikan hal serupa.
"Pemikiran Driyarkara aktual dan relevan dengan situasi terkini. Konsep keindahan yang ditawarkan oleh Drijarkara yang berlandaskan pada jiwa," katanya.
Menurut dia, mesti dipahami bukan saja dalam objektivikasi bendanya saja, melainkan pada pencapaian kebahagiaan jiwa itu sendiri.
"Maka dalam hal ini, keindahan yang dimaksudkan oleh Driyarkara bertolak dari keagungan kemanusiaan. Jiwa yang murni/ luhur sebaiknya mendapatkan tempatnya, supaya tercipta moment estetis yang bisa transit menuju ke hal yang sifatnya religius," katanya.
Penulis: Jodhi Yudono
Editor : Jodhi Yudono
Sumber: Antara

Ada 0 komentar untuk artikel ini



Close

Kamis, 03 Desember 2015

Hati - menurut orang

HATI

Apakah hati ini?
Coba lihat tulisan di link berikut ini.

(http://www.juara.net/read/kolom/kolom/132248-dominasi.barcelona.dan.inspirasi.pangeran.kecil)
Salah satu kutipan paling terkenal dari kisah yang versi layar lebarnya dibintangi oleh Rachel McAdams dan Marion Cotillard itu berbunyi demikian: “On ne voit bien qu’avec le coeur. L’essentiel est invisible pour les yeux,” atau jika diartikan ke Bahasa Indonesia berbunyi “Kita hanya bisa melihat jelas melalui hati. Hal yang esensial tak terlihat oleh mata.”

(http://www.juara.net/read/kolom/kolom/132248-dominasi.barcelona.dan.inspirasi.pangeran.kecil)

diakses pada 4 Desember  2015, pkl 12:00


Dominasi Barcelona dan Inspirasi Pangeran Kecil
Jumat, 04 Desember 2015 | 11:30 WIB

M. NASIR/BOLA
Ilustrasi ular boa dan gajah Barcelona.
JUARA.net - Dalam duel bertajuk le classique antara Olympique Marseille vs Paris Saint-Germain (PSG) Pada 6 Oktober 2013, suporter tuan rumah secara kompak membentangkan spanduk jumbo bertuliskan: “L’argent ne fait pas le bonheur”.  Rangkaian kalimat yang bermakna "uang tak menghadirkan kebahagiaan" itu adalah bentuk sindiran fan Marseille kepada PSG yang mendadak berlimpah kekayaan usai diakuisisi oleh Qatar Sports Investments (QSI)  pada 2011. Benarkah uang tak serta merta menjadi garansi kesuksesan?
Bujet selangit yang disuntikkan QSI memungkinkan PSG meraih tiga gelar Ligue 1 dalam empat tahun terakhir.
Kibasan poundsterling tanpa henti dari Abu Dhabi United Group sejak 2008 juga berimbas kepada keberhasilan Manchester City menggondol trofi  Premier League 2011-2012 dan 2013-2014.
Namun, fakta-fakta di atas bukan berarti mengusangkan ujar-ujar “uang tak menghadirkan kebahagiaan”. Belanja pemain besar-besaran yang dilakukan PSG maupun Manchester City belum mampu mengantar mereka meraih trofi Liga Champion, yang kerap dinilai sebagai tahap tertinggi kejayaan sebuah tim Eropa.
PSG, Manchester City, Real Madrid jelas bukanlah tim kacangan. Namun, mimpi mereka mendominasi Eropa seperti terbentur oleh fakta bahwa ada tim dari galaksi lain bernama Barcelona.
Meski punya bujet besar, PSG dan Man. City disebut masih miskin tradisi. Hanya, kombinasi kekayaan dan tradisi ternyata juga tak menjamin hadirnya trofi yang oleh orang Spanyol disebut La Orejona alias Si Kuping Besar itu.
Real Madrid adalah contoh terbaik. Pada periode kedua kepemimpinan Presiden Florentino Perez yang dimulai pada 2009, Madrid sudah membelanjakan uang sekitar 769,9 juta euro di pasar pemain. Tebak berapa trofi Liga Champion yang ditambahkan Madrid ke dalam lemari pajangan mereka sejak 2009? Satu!
PSG, Manchester City, Real Madrid jelas bukanlah tim kacangan. Namun, mimpi mereka mendominasi Eropa seperti terbentur oleh fakta bahwa ada tim dari galaksi lain bernama Barcelona.
Eropa boleh dibilang berada di tangan Barcelona. Sejak 2009, Blaugrana tiga kali menjadi kampiun Liga Champions yakni pada edisi 2008-2009, 2010-2011, dan 2014-2015.
Pesepak bola-pesepak bola hebat bak turun level menjadi amatiran ketika mereka kudu berjumpa Barcelona. Tengok saja kandidat kuat juara Serie A 2015-2016, AS Roma, yang dengan mudah dipermak 1-6 oleh Lionel Messi dkk di fase grup Liga Champions 2015-2016.
Hebatnya, kemenangan telak itu hanya berjarak tiga hari dari keberhasilan Barcelona melibas rival bebuyutan mereka, Madrid, dengan skor 4-0 di pekan ke-12 La Liga 2015-2016. Kalah dengan marjin skor besar jelas merupakan pengalaman menyakitkan.
Akan tetapi, Roma ibarat menerima tamparan dari model cantik. Rasa sakit tamparan menjadi tak terlalu penting sebab mereka menyaksikan betapa indah dan rupawan sepak bola ala Barca.
“Apa yang bisa saya katakan? Mereka tim luar angkasa dan tak terkalahkan. Kami butuh keajaiban dan hal itu tak datang. Pada momen ini, mereka tak tertandingi,” ungkap pelatih Roma, Rudi Garcia seusai duel melawan Barcelona.

Rudi Garcia, saat memimpin tim asuhannya, AS Roma, menghadapi Empoli pada 17 Oktober 2015 di Stadion Olimpico.
Paolo Bruno/GETTY IMAGES
Garcia tampak menikmati betul tamparan keras dari dominasi Barcelona. Sebagai orang Prancis, Garcia mungkin sangat paham jalan cerita salah satu buku yang amat populer di negerinya, yakni Le Petit Prince (Pangeran Kecil) karangan Antoine de Saint-Exupery.
Salah satu kutipan paling terkenal dari kisah yang versi layar lebarnya dibintangi oleh Rachel McAdams dan Marion Cotillard itu berbunyi demikian: “On ne voit bien qu’avec le coeur. L’essentiel est invisible pour les yeux,” atau jika diartikan ke Bahasa Indonesia berbunyi “Kita hanya bisa melihat jelas melalui hati. Hal yang esensial tak terlihat oleh mata.”
Dominasi dan permainan indah Barcelona adalah hal yang tampak nyata oleh indera penglihatan.
Roma, juga tim-tim seperti PSG, Manchester City dan Madrid mesti melihat sisi lain dari sebuah situasi, persis seperti awalan kisah Le Petit Prince di mana narator menceritakan gambar pertamanya semasa kecil, yaitu ular boa yang memakan seekor gajah.
Saat menanyakan ke orang dewasa apakah gambarnya itu menimbulkan rasa takut, sang narator mendapati jawaban yang membuatnya kecewa. “Kenapa saya harus takut kepada topi?” ujar orang dewasa itu.
Gambar ular boa menelan gajah milik sang narator disangka orang dewasa sebagai topi. Fantasi, kreativitas, dan semangat untuk berkembang adalah kunci buat Roma, PSG, Man. City, maupun Madrid agar tak melihat dominasi Barcelona sebagai gambar topi, tetapi ular boa yang menelan gajah.

Maicon berebut bola melawan Neymar saat AS Roma mengalami kekalahan telak 1-6 di laga babak penyisihan Grup E Liga Champions, Selasa (24/11/2015) atau Rabu dini hari WIB, di Camp Nou.
DAVID RAMOS/GETTY IMAGES
Menatap rival yang begitu dominan justru kerap melahirkan inspirasi.
Perusahaan elektronik asal Jepang, Sony, sudah berada dalam masa jaya ketika Samsung baru memulai usaha mereka. Namun, pada 2011 Jepang dibuat “berduka” karena seluruh saham Sony LCD diakuisisi oleh tetangga mereka asal Korea Selatan, Samsung.
Demi memutus dominasi Sony, Samsung rela mengubah mentalitas dan cara berpikir mereka.
“Ganti semuanya, kecuali istri dan anak Anda,” ujar bos Samsung Lee Kun-hee dua dekade silam. Kata-kata Lee mujarab. Tak hanya merajai pasar Asia, kini Samsung juga bersaing ketat dengan macan elektronik Amerika Serikat, Apple. 
Kuncinya adalah melihat musibah sebagai sebuah potensi anugerah. PSG, Manchester City, Real Madrid, dan Roma kini boleh saja bergantian menjadi bulan-bulanan Barcelona.
Akan tetapi, mereka harus selalu ingat bahwa ada ular boa memakan gajah di balik gambar topi. Bisa jadi 10 tahun mendatang salah satu dari PSG, Manchester City, Real Madrid, atau Roma akan menjadi ular boa yang dengan mudah menelan gajah bernama Barcelona.

Rabu, 26 Agustus 2015

Semester 3

Saya  dafter  ulang sehari sebelum kuliah yakni Senis, 24  Agustus 2015. Saya  membawa  bukti  transfer  her  registrasi Rp 500.000. Saya berangkat  pagi  dari  VMG . Saya  bangun pagi  pkl  03:30 am. Saya  sarapan lalu berangkat ke  seklah, JPS, tiba pkl  05:55. Saya menjadi orang pertama  tiba di JPS. Sekurity  baru puka pintu  gerbang keluar. Saya  mau  sms  kepala sekolah, Mr. Ben Ayung  untuk izin mau ke  kampus, STF Driyarkara k Jakarta  untuk  her  regustrasi. Saya  ketemu  beliau di pintu  gerbang. Saya  ke  tempat  parkir  motor. Saya  minta  izin lisan. Saya  pergi. Saya  titip motor  di Pondok Ungu. Lalu saya  naik angkot, bayar Rp 4.000  ke  Kranji. Saya  beli tiket  kereta, Rp 12.000 dengan  kartu  chip jaminan. Kereta  tiba. Penumpang  penuh sesak. Saling berdempetan. "Memang  hari   Senin, kereta api  selalu  sesak, berdesak desakan. Sya  turun di  Jatinegara. lalu transit  Kereta Api  menuju  Kramat. Saya  turun di Stasiun  Keramat. Lalu naik  angkot dengan biata Rp 3.000. tiba  jam 07:30  di  pasar  Rawasari. Belanja buah )melon, pepaya, anggur : Rp 50.000 untuk  saudari  kami, Nelty  yang  kini sedang  dalam perawatan setelah operasi   usus  buntu  minggu  lalu di RS   Saint  Carolrus jakarta. . Lalu saya  ke Melania. Tanya  Nelty. "Tak ada di sini. Di Tegalan, Matraman. Di sana ada  Rumah Bersalin melania. Dia kerja di sana. Di sini hanya kantor pusat," jawab ibu yang merupakan staf di situ. Saya salah alamat. Saya  tak profesional. Tak mau tanya  tempat istirahat dan tempat kerja  bagi Nelty. Saya  tidak  profesional. belajar  dari kegagalan., Frans!. Saya  ke  kampus  STF  Driyarkara. Ketemu Mbak Retno. Saya  serahkan  bukti  transfer  registrasi  dan  serhakan  form  rencana  kuliah saya  di semestar  3 ini. Saya  isi  form pembayaran  uang kuliah Rp 6.500.000  per semester, masih iut  tahun lalu. Saya pikir, ikut aturan uang  kuiah  tahun ini Rp 7.000.000. Ternyata  tidak, Saya  bayar Rp 6.500.000. Saya rencana 3 kali nyicil, setiapakhir bulan Agustus, September, Oktober 2015. Kemuadian saya  pulng, ambil buah yang  saya  titip di melamia. Saya menuju ke  kontrakan  Feus  dan Rony. Saya minta Rony untuk antar buah itu kepada Neltyy di  RB  Melania  Tegalan - Matraman. Rony Setuju. Saya buru-buru pulang karena  akan mengajar  pada pkl 11:30 am. Saya ke  Halte Matraman agar bisa naik busway. Wow.... gagal  karena  tak  baya  kartu tiket busway. Akhiir putuskan untuk pakai   kereta api. Jalan kaki ke  Kramat. Keringat, berdebu. Cape. Tapi itulah perjuangan. Saya  pakai kereta. Sya  tidur  dalam kereta. Sya transit di  Jatinegara. Tunggu kereta   (KRL)   menuju Bekasi. Kereta datang. Saya  naik. Tiba di  satasiun Krnji pukul 09:00. Lalu saya  naik  angkot  25. Turun di  Cabang  Pondok Ungu. Bayar angkot Rp 4.000. Ngobrol dengan  Sopir. Dia bicara tentang  bosnya, perempuan, punya   otak  bisnis.  angkot puluhan, mobil pribadi hanpir  10. Wow... Dia  orang  Jawa  Timur.  Saya  bayar  uang sewa penitipan motor Rp  3.000. Saya  menuju ke VMG, ke rumah dulu. Saya  makan  siang lalu ke sekolah. Saya  tiba pkl 11:20. Saya mengajar  pkl 11:30. Saya  lapor  diri   ke kepsek  lalu mengajar anak kelas 3. Syukur  Tuhan, perjalanan  hari ini Bekasi - Jakarta pp  lancar. Her  registrasi  lancar  juga.


 Rabu, 26 Agustus 2015.
Saya ke  rumah  dulu. Makan. Start pkl 16:15. Wow... terlambat  sampai di STFD. Kuliah Estetika  tak masuk. Malu karena terlambat. Ternyata Pa Matius Ali yang masuk. Saya masuk pada kuliah kedua, Filsafat Kontemporer. Romo Dr. SPL Cahyadi,Pr  yang mengajar. Selesai mengajar  masih  ngobrol lagi. Pa'' Matius  masih ada. Nimbrung. saya minta agar diizinkan untuk bergabung dalam kuliah Estetika. Saya pilih topik seminar Ernest Block. Ketika pulang, Pa Matius menawarkan saya  untuk  join dalam mobilnya. Saya  menuju Stasiun Kramat. Kami bersama."Bagi orang India, terutama kaum terpelajar. Sang guru mengetahui perkembngannya  melalui mimpinya. Karena itu, mimpi perlu ditulis," dia  berkisah. "Oh... saya  sering  menulis mimpi-mimpi saya di blok Pa," kataku. Kam sampai di rel kereta api keramat. Saya turun. Terima kasih Pa Matius. Hati-hati dalam perjalanan,: kataku kepadanya. Wow.... join dengan  dosen.




 JPS, 27 Agustus 2015


 Pa' tumben  datang  tidak  telat, canda  seorang  teman perempuan. Dia ada  tanda  hitam di wajah, seperti  flk. Betul hari ini saya  masuk sebelum  dosen masuk kelas. Kuliah pertama, "Kebebasan dan Kesetaraan diampu oleh Prof. Dr. Aloysius Nugroho. Dia cerdas, kritis  dan terkesan   bangga diri bahkan cenderung   tinggi hati.  Kuliah lalu dissusul dengan  Kuliah Antropologi filosofis Paul Ricour yang diasuh oleh  Romo Prof. Dr. Sastra, SH. Pembahasannya  bagus.

JPS, 28 Agustus 2015


Selasa, 1 September 2015

Saya  absent  ke  kampus  karena  sibuk perispan  misa: teks   dan  baut  SAP  MK  Filsafat praktis. Hari ini kuliah  Filsafat Praktis: Prof Dr. Frans Magnis Suseno, SJ  dan  Ruang  Publuk  Hannah Arent  oleh Dr. Frengky Hardiman. Wow..., Frans,   dissiplin  please!



Kamis, 10 September 2015
Makan sayur  / lauk  rawon  secara tak sengaja. Saya kira jamur ternyata rawon. Saya hanya makan sedikit. Pemblian yang sia-sia. Harga makanan Rp 10.000. "Malu bertanya sesat di jalan. Buang duit sia-sia karena   tak bisa menghabiskan makanan (lauk rawon itu). Rawon adalah   jeroan bagian dalam sapi. Itu digoreng / direbus. Ini di warung langganan di pinggir re K.A.  Kramat, Jakarta, ketika hendak ke  campus  untuk kuliah. Wow....  Ada beberapa  makanan yang tak saya sukai, yakni makanan  terbuat dari  kambing  dan  rawon. Wow....


Selasa, 15 September 2015
Saya  mengajar sambil mencoba merapihkan tulisan presentasi kuliah: Hannah Arent dan Kepublikan. Saya terlalu meremehkan tugas  dan tidak disiplin. Hasilnya, tak terkejar secara maksimal. Saya menguber di penghunjung waktu. Ada rasa dai-dig - dug. Terkadang marah , mengumpat  dan memaki diri sendiri. Ini resiko dari tak focus. Kesulitan lain adalah kemampuan bahasa Inggris yang  tak maksimal sehingga kesulitan untuk menerjemahkan  teks kuliah. Dari segi perjuangan, sudah berjuan maksimal. Bahkan hari Minggu dan hari lain, lembur hingga larut malam. Pulang sekitar  pukul 23  bahkan di atas itu. Baru pada Senin sore, 14 September 2015, saya menemukan sarana di kumputer untuk sedikit mempercepat pemahaman teks. Sarana itu adalah software Convert (dari PDF ke Ms Word). Ms Elia membantu saya menemukan itu. Untuk beberapa hal bisa dikerjakan, namun begitu pulang ke rumah sebentar, listrik mati di PC lab komputr yang saya pakai. Sofware PDF Hannah Arent tak bisa diakses lagi. Kecewa juga. Untuk ada bagian yang sudah saya kerjakan. Saya terbantu dengan teknologi, yakni Google translate.  Namun karena  saya kerja terlambat, semua tools itu tampak tak bisa menolong secara maksimal. Saya mau print materi presentasi pada akhir sekolah dalam situasi teman-teman berlomba-lomba untuk print juga karena diburu jadwal pengumpulan ujian mid smester. Untung baik saya  kreatif dalam berpikir. saya  minta bantuan teman di perpustakaan untuk meminjamkan komputer kepadaku untuk print tugas itu. Dia setuju. Saya berhasil print pada pukul 15:10 pm. Saya bergegas mau menuju ke kampus. Kuliah jam 17:00 pm. Jadwal presentasi lagi. Apalagi  jadwal yang tertunda dari Selasa, 8 September 2015 minggu lalu karena saya tak siap. Sesungguhnya salah komunikasi. Saya tangkap dan bahkan ada catatan di  di buku catatan bahwa 2 pertemuan awal, tak termasuk kuliah Pembukaan, 25 Agustus 2015 bahwa 2  pertemuan awal ditanggung oleh dosen, setelah itu baru dimulai dengan presentasi pertama, saya   bersama Betty  dan Bayu. Bety dan Bayu sudah siap Minggu lalu, sementara saya tidak siap, sehingga hanya mereka  yang prentasi. Sedangkan  saya ditinggal. Malu juga. "Kamu mau pertama, tetapi ternyata tak siap. Mental model apa ini. Katanya mahasiswa Pasca Sarjana," begitulah rasaku memproyeksikan penilaian dosen dan teman-teman. Saya disandera rasa malu dan bersalah. Kegagalan minggu lalu itu masih membekas, meski sudah berjuang, mengunakan  waktu begitu banyak untuk selesaikan tugas itu. Dalam suaana  hati yang galau ini saya menuju kampus. Waktu menunjukkan pukul 15:15 ketika saya keluar  tempat finger  print  JPS. Masih ada persolan. Ternyata  kunci motor  lupa di motor sehingga  diambil oleh sekuritu sekolah. Saya harus menghadap mereka untuk mengambil itu. Wow... persoalan kian rumit saja. Saya  menuju kampus. Pengen hati ini cepat tiba di kampus. Mau pakai ojek, tapi  masalahnya tentu macet. Sehingga diputuskan tetap menggunakan kereta api menuju Jakarta. Perjalanan menuju Staisun Cakung lancar. Ada kereta menunggu ketika saya masih di tempat parkiran motor. Saya meminta  petugas parking untuk membantu memarkirkn motor karena saya buru-buru. Ternyata.......kereta  jalan. Saya  harus menunggu  15  - 20 menit lagi. Haru biru perasaan saya. Cemas, marah, makian  berbaur satu dalam hati. Kesel karena kereta tak cepat datang. Kereta ke arah sebaliknya - Bekasi -  malah datang lebih cepat. Sedangkan saya menuju Jakarta. Kereta baru muncul pkl 16:20 pm. Saya masuk. Duduk. Saya lihat waktu di HP.. Waktu menunjukkan pkl 16:45 ketika kereta masih tertahan ketika antre mau masuk Stasiun Jatinegara. Setelah menunggu 5 menit akhirnya  kereta jalan dan berhenti di  Jatinegara. Saya keluar stasiun dan tawar ojek ke kampus STF Driyarkara. Dia mau dengan bayar Rp 20.000. Saya meluncur ke kampus. Macet sebentar di Lampu Merah  Utan Kayu. Lalu lewat apartemen di Rawa Sari. Saya lewat jalan baru. Ternyata  bisa tembus sampai jembatan Serong. Saya berhenti di dekan mesin photo copy Melania. Saya copy mahan presentasi  sebanyak 40 ex dengan biaya Rp 8.000. Itu hanya 1 lembar, bolak balik.  Saya masuk kampus. Saya telat 5 menit. Aroma keriangat menyeruak karena lupa  pakai bedak penyerap keringat. Malu lagi...malu lagi. Saya masuk ruang kelas setelah minum air. Saya menyerahkan materi kepada dosen, Pa Frengky Budi Hardiman. Saya  pikir beliau  marah  dan tak mengizinkan saya mempresentasi serta mencoret saya dari  tugas presentasi sehingga  tak bisa dapat nilai akhir nanti , ternyata beliau bermurah hati. Silahkan duduk dan kamu presentasi kemudian karena terlambat. Silahkan duduk di depan saja," katanya lembut. Hati saya  agak teduh mendengar  penerimaan ini.  Teman-teman sedang presentasi. Saya duduk diam menyimak. Saya coba menangkap persoalan  sembari merajut  gagasan tentang Hannah Arent. Saya coba dan mencoba. Teman Berto presenter kedua dan Ibu Ruth  presenter ketiga. Giliran saya pada 5 menit terakhir. "Kamu harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin, sebut poin-poinnya saja, " kata Pa Frengky. Saya terima dan memanfaatkan waktu 5 menit ini untuk menyatakan siapakan saya kepada diri sendiri, dosen dan teman-teman. Saya bicara  tepat 5 menit. Rasa puas, gembira dan bahagia membual dari  seluruh hati dan perasaan saya. Saya kembali menemukan kembali kebahagian dan rasa percaya diri. "Kamu presentasi baik," kata Pa Felix, teman kuliah. Kuliah lalu  dilanjutkan dengan kulish Filsafat Moral yang dibawkan Prof. Magnis Suseno, SJ. Ada 3 orang presenter yang membhas Etika Filsafat Timur: Simon, Ibu Nanda,  Reza. Saya  ajukan pertanyaan : Dari segi perewatan terhadap alam, tampaknya  Etika Timur, lebih khusus Hindu lebih andal daripada etika agama Wahyu. Karena Hindu bersifat ontonomi - keselamatan ditentukan oleh manusia sendiri via perbuatannya, sedangkan  Agama-agama wahyu bersifat heterodoks - keselamatan ditentukan oleh unsur lain di luar diri mansuia - Tuhan . Mohon Tanggapan. "Tak sesedrhana itu. Persoalan lingkuangan buruk karena  kapitalisme" jawab romo Magnis, SJ.
Kuliah selesai. Kami lanjutkan acara syukuran penghargaan Prof. Rm. Magnis Suseno,SJ.  Banyak dosen datang, Prof. Sudarminto, SY, Prof. Alex  Lanur, OFM, Prof Sudiarja, SJ, Dr. Hery Priono, SJ, Rm. Simon Petrus Lili Cahyadi, Pr, Rm. Setyo, SJ. Kami makan. Saya  makan buah cuku banyak, terutama Nangka dan jeruk. Setelah itu Pa Marko dan saya  pulang. Saya ketemu Nesta - teman dari Larantuka - di gerbang STF / Cempaka Indah. Kami ngobrol. Lalu saya numpang mobil 04 ke  stasiun Kramat. Saya bayar Rp 3.000. lalu menuju Stasiun. Saya tunggu kereta cukup lama. Saya  baca Hannah Arendt. Kereta datang. Saya tetap baca dalam kereta. Kami turun di Jatinegara. Tunggu kereta ke Bekasi. Ada Pa Arif  - teman kuliah - yang mau pulang juga. Saya asyik membaca Hannah Arendt. Saya  tiba di Cakung pkl 22:15 pm. Lalu  bayar parking Rp 5.000. Saya menuju Harapan Indah. Saya isi bensin di Pertamina Harapan Indah. Lalu meluncur menuju VMG. Taba di rumah dengan selamat. Saya basuh muka, istirahat doa syukur lalu tidur.  Syukur Tuhan atas pengalaman suka duka  hari ini. Beri aku petunjuk agar selalu mencari kehendak-Mu. Amin.

Rabu, 23 September 2015
Saya antar Lery, anaknya Pa' Bento  ke  Perumahan Harmono - Harapan Indah. Pa Bento sedang mendampingi anak-aak retret di luar kota, di Tugu, Puncak, Bogor, Jawa barat. Setelah itu saya  mampir di rumah. saya mau ambil jaket dan buku. Waktu menunjukkan pkl 15:30 ketika saya  satar  dari rumah. Saya tiba pkl 15:45 di JPS  lalu  finger  print lalu berangkat kuliah. Saya  menggunakan  sepeda mootor. Saya simpan sepeda  motor  di Stasiun Cakung.  Lalu masuk kereta  yang  sudah menunggu. Kereta  berhenti cukup lama. Tak biasa  seperti itu. Saya lelah. Saya  tidur dalam kereta. Kereta berhenti cuup lama sebelum masuk stasiun Jatinegara. "maaf, kereta berhenti antre agak lama karena menunggu kereta lain yang akan meninggalakan satasiun Jatinegara," demikian pengumuman petugas kereta. Kami tiba di Jatinegara. Kami keluar menuju  KA  menuju  Kramat. Tunggu lama. Akhirnya KA tujuan Bogor yang lewat Kramat datang  juga. Tapi berhenti lama. "Ada kecelakaan, tabrakan antara KA di Stasiun Juanda. Imbasnya,pergeseran  jam kenerangkatan untuk seluruh KRL  dan kereta  lainnya. ," demikian  obrolan antar  penumpang.  Saya  tutun di Stasiun Kramat. Ada  KA  yang antra  juga  sebagai  bagian dari   akibat kecelakaan itu. Waktu hampir  pkl 06:00 sore. Saya  putuskan untuk makan malam dulu d Warteg. Saya  bayr Rp 6.000 (nasi, jamur, tempe). Lalu ke  kampus. I ke kamar mandi dulu. Gosok gigi, atayr diri. Lalu masuk. Hari ini masuk kuliah kedua, Filsafat Kontemporer Abad XX. Kali ini tugas Prof. Rm. Sudarminta, SJ yang memberikan kuliah namun  beliau berhalangan, lalu diganti oleh Prof. Alex Lanur, OFM.  Lalu pukang. Ada harapan semoga bisa nebeng dengan teman menuju ke Kramat. Begitu teman lewat, mau naik tanpa tanya apakah lewat Sambe / Stasiun Kramat atau tidak. Mau langsung naik saja. "Maaf, saya   tidak  lewat  Stasiun Kramat, saya  mau ke by Pass - Ahmad Yani, ada urusan di sana," katanya. Okay," kataku  sambil tersipu  malu. Akh  saya  tak  profesional. Malu sendiri  jadinya.  Lalu naik angkot. Di depan saya  ada  Pa Ardy Rusmin  dan  satu temn perempuan yang sama-sama kuliah di STF. Kami  menuju stasiun Kramat. Dapat KRL. Ternyata KRL berhenti lama. Kami ngobrol. Kereta  berhenti  cukup lama. Kami mau naik KRL tujuan Manggarai  lalu balik ke Bekasi namun ternyata  antra  lama, sementara  ada yang langsung menuju Bekasi. Ini KRL kedua sejak kami tiba. Kami putuskan untuk  pindaj KRL. Saya  dan  Pa Adri  pindah KRL/ Dalam  KRL  kami ngobrol. Kami ngomong banyak hal termasuk  kebudayaan Manggarai , termasuk   Nggerang  dan  hal seputar  kulaih, termasuk  tesis.  Lalu saya  turun di  Stasiun Cakung. Lalu saya  dengan  sepeda motor menuju VMG. Hari ini  ada perubahan management di tempat Parkir motor di Cakung bahwa setiap motor  mendapat kartu buktu titip  sepeda  motor  di sana. " Ini  managemen yang baik,"  puji saya. :a;u saya  menuju ke  rumah.



Rabu, 23 September 2015
Saya antar Lery, anaknya Pa' Bento  ke  Perumahan Harmono - Harapan Indah. Pa Bento sedang mendampingi anak-aak retret di luar kota, di Tugu, Puncak, Bogor, Jawa barat. Setelah itu saya  mampir di rumah. saya mau ambil jaket dan buku. Waktu menunjukkan pkl 15:30 ketika saya  satar  dari rumah. Saya tiba pkl 15:45 di JPS  lalu  finger  print lalu berangkat kuliah. Saya  menggunakan  sepeda mootor. Saya simpan sepeda  motor  di Stasiun Cakung.  Lalu masuk kereta  yang  sudah menunggu. Kereta  berhenti cukup lama. Tak biasa  seperti itu. Saya lelah. Saya  tidur dalam kereta. Kereta berhenti cuup lama sebelum masuk stasiun Jatinegara. "maaf, kereta berhenti antre agak lama karena menunggu kereta lain yang akan meninggalakan satasiun Jatinegara," demikian pengumuman petugas kereta. Kami tiba di Jatinegara. Kami keluar menuju  KA  menuju  Kramat. Tunggu lama. Akhirnya KA tujuan Bogor yang lewat Kramat datang  juga. Tapi berhenti lama. "Ada kecelakaan, tabrakan antara KA di Stasiun Juanda. Imbasnya,pergeseran  jam kenerangkatan untuk seluruh KRL  dan kereta  lainnya. ," demikian  obrolan antar  penumpang.  Saya  tutun di Stasiun Kramat. Ada  KA  yang antra  juga  sebagai  bagian dari   akibat kecelakaan itu. Waktu hampir  pkl 06:00 sore. Saya  putuskan untuk makan malam dulu d Warteg. Saya  bayr Rp 6.000 (nasi, jamur, tempe). Lalu ke  kampus. I ke kamar mandi dulu. Gosok gigi, atayr diri. Lalu masuk. Hari ini masuk kuliah kedua, Filsafat Kontemporer Abad XX. Kali ini tugas Prof. Rm. Sudarminta, SJ yang memberikan kuliah namun  beliau berhalangan, lalu diganti oleh Prof. Alex Lanur, OFM.  Lalu pukang. Ada harapan semoga bisa nebeng dengan teman menuju ke Kramat. Begitu teman lewat, mau naik tanpa tanya apakah lewat Sambe / Stasiun Kramat atau tidak. Mau langsung naik saja. "Maaf, saya   tidak  lewat  Stasiun Kramat, saya  mau ke by Pass - Ahmad Yani, ada urusan di sana," katanya. Okay," kataku  sambil tersipu  malu. Akh  saya  tak  profesional. Malu sendiri  jadinya.  Lalu naik angkot. Di depan saya  ada  Pa Ardy Rusmin  dan  satu temn perempuan yang sama-sama kuliah di STF. Kami  menuju stasiun Kramat. Dapat KRL. Ternyata KRL berhenti lama. Kami ngobrol. Kereta  berhenti  cukup lama. Kami mau naik KRL tujuan Manggarai  lalu balik ke Bekasi namun ternyata  antra  lama, sementara  ada yang langsung menuju Bekasi. Ini KRL kedua sejak kami tiba. Kami putuskan untuk  pindaj KRL. Saya  dan  Pa Adri  pindah KRL/ Dalam  KRL  kami ngobrol. Kami ngomong banyak hal termasuk  kebudayaan Manggarai , termasuk   Nggerang  dan  hal seputar  kulaih, termasuk  tesis.  Lalu saya  turun di  Stasiun Cakung. Lalu saya  dengan  sepeda motor menuju VMG. Hari ini  ada perubahan management di tempat Parkir motor di Cakung bahwa setiap motor  mendapat kartu buktu titip  sepeda  motor  di sana. " Ini  managemen yang baik,"  puji saya. lalu saya  menuju ke  rumah.

 Selasa, 6 Oktober   2015
Hari ini di JPS masih sibuk koreksi ujian Mid semester I. Saya bahagia karena nilai saya sudah masukkan ke dalam program SISTER, sistem  nilai yang perhitungannya diolah secara otomatis  oleh komputer. Sementara itu, di kampus, saya punya tugas presentasi. Saya belum merampungkan   tugas Filsafat Praktis itu. Tema yang saya garap adalah Etika Epikuros, filsuf klasik Yunani. Saya menuju lab komputer untuk pinjam komputer yang bisa internet. Ternyata tak bisa internet. Mr. Ade - teknisi sekolah sedang membereskan itu. "Silahkan pakai labtop saya saja. " ajaknya. "Okay sir," kataku. Saya menggunakan google untuk menca
i info yang saya buthkan, terutama pengertian deisme  dan Artisipp. Saya temukan. Lalu saya kembali ke ruang guru. Saya buka komputer guru. Saya edit makalah, lalu print. Wow... tinta hitam bermasalah.  Tak ada tulisan yang  keluar pada kertas. Bagaimana mengakali hal ini? Untung saya kreatif.  Saya beri warna merah pada text makalah itu lalu saya simpan dan print. Wow.... hasilnya  tulisan warna merah. Saya print 3. Lalu saya keluar sekolah menuju warteg  di  halte Harmony. Saya makan, menu nasi, pare, 2 tahu  dengan bayaran  Rp 8.000. Lalu saya ke tempat photo copy. Makalah 4 halaman, saya jadikan 2 lembar. Saya copy Rp 20 ex, dengan harga rp 10.000.  Lalu saya menuju Jakarta untuk kuliah. Saya abaikan kuliah I, Hannah Arent. Saya titip motor di fly over Cakung. Saya pakai kereta. Saya turun di Jatinegara. Saya keluar stasiun. Saya  jalan kaki. Saya tawar  jasa ojek. Uang saya tersisa Rp 18.000 untuk pp. Wow... berbahaya. Kurang. Karena itu saya tawar ojek. Biasanya, pada bulan September  2015 lalu saya bayar Rp 20.000.  Kali ini saya minta Rp 15.000. Banyak yang tak setuju. Ada 1 0rang yang mau bantu setuju biarnya Rp 15.000. Tanpa pakai helm kami meluncur menuju STFD, dekat Sekolah Melania. Waktu menunjukkan pkl 18:00 pm. Saya tiba di kampus pkl 18:17. Berama gagasan berkecamuk di kepala saya, mulai kekuatiran bila pertukaran jam kuliah, F. Praktis duluan sementara Hannah Arent menyusul. Saya ke kamar mandi untuk berbenah. Lalu masuk ruangan. Ternyata jadalnya normal. Saya masih bisa presentasi  F. Praktis. Lega hati saya. Saya masih bingung, apakah  kami jadi presentasi hari ini ataukah minggu depan. Menurut SAP, Etika Islam, sementara dalam jadwal Etika Epukuros. "Terserah Romo saja," kataku pasrah. Ternyata Etika Epikuros dan Stoa yang dipresentasikan hari ini. Untung saya  sudah siap. Prof. Sudarminta, SJ memberikan kesempatan kepada saya dan Roy  untuk mempersentasi. Saya pertama. Lalu Roy. Saya berusaha bicara irit karena waktu untk saya hanya 10 menit. Roy sekitar 20 menit. Lalu Prof. Sudarminta, SJ melanjutkannya tanpa tanya jawab. Kuliah F. Praktis sebenarnya ditangani olah Prof. Franz Magnis Suseno, SJ tetapi ikarena beliau menjadi dosen tamu di Jerman maka hal ini digantir oleh  Sudarminta, SJ. Saya pulang dengan bahagia karena tugas saya hari ini terlaksana  dengan baik meski tak sempurna. Terima kasih Tuhan. Lalu saya pulang. Uang saya tinggal Rp 3.000. Bila naik angkot ke Kramat maka tak ada ongkos naik kreta. Maka saya putuskan untuk jalan kaki. Sebenarnya saya bisa pinjam uang teman atau saudara tapi saya  biarkan saya berjuang sendiri. Saya jalan kaki menuju stasiun Kramat. Saya lewat Gang Bacang - Hotel Sentral, Jl. Pemuda, Jl. Ramamangun, Stasiun  Kramat. Lalu saya telepon keluarga di Wela. Saya kontak John tapi gagal. Lalu kontak Mery. Kami ngobrol. "Kami di rumah Gendang sekarang, mau persiapan doa dan Misa 40 hari Ema Bone Kaso,' dia berkisah. Kami ngobrol cukup lama. Kereta datang. Saya sibuk ngobrol. Tak sadar saat berhenti di Stasiun Cakung. Saya baru sadar  ketika di Stasiun Kranji.  Wow.... saya harus tunggu lagi untuk kembali ke Stasiun Cakung. Saya ikut kereta terakhir. Waktu hampir  pukul 21:45 pm. Kereta tiba, saya naik. Lalu turun di Cakung. lalu pulang menuju ke VMG. Saya pakai  sepeda motor. Di perempatan dekat Warung Tobet  saya  beli pisang Rp 5.000. Saya makan  beberapanya lalu saya istirahat.


 Rabu, 7 Oktober   2015.
Hari ini anak-anak SD libur karena para guru SD sibuk input nilai.  Saya tiba dengan selamat dan tepat waktu. Kami input nilai. Lalu saya izin menuju rumah untuk mengambil buku kuliah. Saya beli  lauk Rp 5.000 di Kampung Bogor / Rawa Indah. Saya beli beras 4 liter @ 8.000. Lalu beli sayur @ 7.000. Lalu saya ke rumah. Saya makan lalu kembali ke sekolah. Saya berangkat jam 16:00 ke kampus. Saya tiba di stasiun Cakung. Saya tunggu kereta cukup lama. Kereta tiba pukul 17:30 Saya kesel. Tiba di  Jatinegara pkl 17:50. Saya transit. Tunggu kereta menuju Keramat - Senen  Tanah Abang / Bogor  hampir 1,5 jam . Terlambat sampai di kampus. Ada  kraeng Adri, senior yang kuliah di STFD juga. "Kita pakai bajaj saja. Kami masuk bajaj. Dia bayar Rp 20.000. Saya tak masuk ke ruang kuliah, hanya baca di ruang istirahat. Begier tu kuliah selesai saya saya menyalami Pater Prof  Alex, OFM. Beliau yang mengajar. Hari ini topik tentang Levinas.  Saya  paraf saja di daftar hadir. Sayang kalau tidak paraf. Sudah jauh-jauh  datang maka perlu isi data itu. Pater Alex, OFM  mau pulang ke Depok, butuh diantar ke stasiun Manggarai.  Roy bantu carikan bajaj untuk beliu  Lalu saya pulang. Saya bareng dengan kraeng Adri Rusmin. Kami ngobrol, termasuk soal budaya Manggarai. Kami ngobrol dengan asyik.





Rabu, 21 Oktober   2015.
Saya dipanggil oleh Kepsek, Bapak Ben Ayung. Kami bicara soal kompetensi guru, temasuk Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Saya stress dengan begitu banyak hal yang disebutkan. Saya berusaha menerima kritik ini dengan lapang dada dan kesabaran. Saya tunjukkan kepada beliau ringkasan materi yang saya ambil dari internet. Saya edit lalu saya  print lalu saya serahkan kepada Ms Cheryl untuk dikoreksi. Setelah itu saya pulang ke rumah. Saya makan siang di rumah dengan lauk  ikan tongkol  dan tempe beli di warung. Lalu menuju kampus pkl 16:30 am. Tiba di stasiun Cakung pkl 17:00. Tak lama menunggu kereta, kereta datang. Masih ada tempat duduk. Lapang. Ngantuk. Sadar  dan  bangun  di stasiun Jatinegara.  Pindah  kereta. Kereta Depok via Kramat telah tiba. Tak tunggu lama. Kereta jalan.  Keluar di Kramat. Naik mobil 04 menuju Rawasari. Ketemu Pa Adri Rusmin. Sama-sama menuju kampus. Ngobrol. Saya telat. Saya putuskan  tak masuk kuliah I. Kami ngobrol. Pater Prof. Alex Lanur, OFM  datang sebentar lalu beliau pulang. Saya ketemu Roy, teman angkatan.”Pa Frans, kamu tidak ambil kuliah Antropologi Filosofis? Tanyanya. “Ambil hanya hari ini saya telat, tak masuk. “Sudah presentasi?: sambungnya. “Belum”. Bilang Romo karena hampir selesai semua,” saran Roy. ”Romo yang pilih bukan? Kataku. “ Oh… saya tak terlalu  kreatif  ya? Terlalu  menunggu. Tak pro aktif. Saya masuk ruang kuliah ikut kuliah kedua.  Dewi yang presentasi. Presentasi tentang Karl Poper.

Selasa, 1 Desember   2015
Ikut kuliah Hanah Arendt  dan Kepublikan. Dosennya Dr. F. Budi Hardiman. Presenter hari ini ada tiga orang. Pa Yon, Pa Roy dan Pa Feliks. Saya masuk terlambat. Telak 30 menit. Mengapa? Lama tunggu kereta di  Stasiun Cakung  dan  Stasiun Jatinegara. Saat pulang  nebeng di mobilnya Ibu Nando yang hendak pulang ke Jakarta Timur. Saya turun di  lampu merah di dekat fly over Jatinegara. Saya agak slow. Ibu Nanda ingatkan saya untuk turun. Saya  terlalu slow.  Gesit, please, Franck.
 

Kamis, 12 Februari 2015

SEMESTER 2

Senin, 2 Peb. 2015: Registrasi  di  akhir  batas
Dapat info  ada  yang  tidak  lulus. strss. Bayar Rp 2.000.000
Stress. Down. Pikiran mempengaruhi  kesehatan. Pikiran baik kesehatan baik, pikiran jelek kesehatan  buruk.

3 Peb. 2015,  pusing. Ke  sekekolah, hanya  tidak ke   kampus. Berobat di  klinik di dekat VMG. Rp 40.000 jumlah  uang  yang dikeluarkan. Transfer  SPP  Rp  4 juta  ke  STFD

4, 5 Jan. 2015:  absen ke  campus, krn kesehatan  masih  labil

10 n 11  Peb 2015,  gagal  ke  kampus  dengan alasan Banjir

12 Peb. 2015, ke  kampus  telat. Star pkl 16:00  setelah  Kursus  Bahasa  Inggris  di  JPS. Tiba  telat di sana, pkl 18:00. Rm. Dr. Andang  beri  kuliah Filsafat Hukum. Telat. Beliau tersenyum. Getir  saya  rasa. Malu  juga. Tapi  ya... harus  ikut  ku;iah. Kehidupan   jalan  terus.

Ikut  Kuliah Filsafat Asia: Hinduisme dengan  baik.


17 Maret 2015

Berangkat kuliah pkl 15:40 dari JPS. Hujan rintik di sekolah Penabur hingga gerbang Harapan Indah (HI). Hanya di situ  doang.  Isi bensin Rp 15.000. Lalu terus ke KBT lalu ke Pulo Gebang. Telah hujan di sana. Becek di jalan. Tiba di Klender Baru. Simpan motor di tempat penitipan. Bayar Rp 5.000. Kenaikan Rp 5.000 sejak Maret 2015. Sebelumnya Rp 4.000. Ini parkir  swasta. Parkir pemerintah di Stasiun Rp 6.000. Wow... kreta api lewat ketika saya lagi parkir mootor. Telat. Aku harus menunggu lama lagi. Sambil menunggu, saya meneepon saudaraku Hila di Wela.  Kereta dari Bekasi tiba sekitar pukul 17:00.  Wow...terlambat lagi kuliah hari ini. Hari ini ada 2 Kuliah. Kuliah pertama, dimulai jam 05:00 sore, yakni Perubahan Masyarakat, perspektif ilmu-ilmu sosial, yang dibawakan Dr. Fransiska Sikka Seda. Kedua, kuliah Filsafat agama yang diampu Prof. Dr. Sastraprateja, SJ.  Saya  transit kereta di  Jatinegara. Tak terlalu lama menunggu. Kereta yang telah menunggu berangkat. Saya keluar di Stasiun Keramat. I mampir di warteg untuk makan. Saya makan nasi, sayur labu dan sepotong tempe goreng. Saya bayar Rp 6.000. Lalu saya menuju STFD di Jembatan Serong, Rawa Sari. Saya bayar angkot Rp 3.000. Lalu saya masuk kampus. Hampir jam 06:00 sore. Wow...malu, datang telat. Hari ini presentasi tentang Eric From, Benjamini dan Habermas. Ada 3 orang presenter hari ini: Romel (bahas Eric From, Lisa bahas Benjamin, Hanif bahas Habermas).  Saya duduk mendengarkan. Dr. Ery Seda tekankan kesadaran dan refleksi diri dan komunitas sebagai  solusi untuk perubahan sosial. sebagai   Kuliah selesai. Saya tanda tangan presensi. Wow...rupanya isi di tempat yang salah. Ya... pasrah  saja.
Lalu kuliah Filsafat Agama. Kami membicarakan Jack Derrida, filsuf kelahiran Aljasair, Afrika yang terkenal di Eropa. "Daerah kelahiran  Derrida sama dengan St. Agustinus, pujangga Gereja. Keduanya lahir di kawasan Afrika Utara," demikian Profesor Sastro,SJ.
Saya dan Lia tanda tangan daftar hadir. Wah... salah melulu hari ini. Kapan benarnya?" protesku dalam hati. Lalu kami  diskusi untuk Filsafat Hukum yang akan  kami presentasikan pada Kamis, 19 Maret 2015. Mbak Lisa dan saya diskusi itu. Kami berusaha memberikan yang terbaik. Kami pulang.
Saya mau ke Rawa Mangun untuk ambil buku J Derida yang dikopi  di sana. Saya mampir di ATM BCA Rawasari  guna  bayar photocopy buku.  Lalu saya tunggu bus 47. Lama juga menunggu. Saya lihat segerombolan gadis cantik menjajakan rokok kepada laki-laki di sekitar. Mereka cantik-cantik. Style mantap sambil  gengam gadget. Wow.... indah dipandang  mata.Bus  Metromini 47  tiba. Saya  masuk. Saya berdiri. Saya turun di  Arion. Lalu menyebrang menuju tempat photo copy, Delima. Saya  bayar Rp 90.000. Lalu photo copy  paper Masyarakat dan perubahan sosial Rp 2.000. Lalu pulang. Tunggu mobil Metromini 47. Bis  datang. Saya masuk. Wow... ingin  baca, malah pusing. Di Klender, pusing banget. Wow... neraka ini datang  lagi. Saya berhenti di Pondok Kopi. Masih pusing. Jalan menuju Stasiun. Waktu pukul 21:15 pm. Di bawah pohon beringin saya mengaso. Ada tukang ojek, tukang jualan dan warga di sekitar. Saya berusaha enjoy menikmati kepusingan sambil menunggu kesembuhan. Apa yang harus saya lakukan? Mungkin pusing karena lapar juga. Di situ ada  penjual jus. Saya pesean jus alpukat. Saya bayar Rp 8.000. Agak  mereda pusingnya. Sempat saya pikir untuk gunakan  taksi, motor simpan di temapt penitipan dengan bayar Rp 15.000. Namun alternatif itu batas  karena  pusing berkurang. Bayar parkir  motor Rp 5.000.  Saya mengendarai motor via Wali Kota, Pulo Gebang - Jl. Raya Bekasi - Mentland Menteng - Harapan Indah - VMG. Saya mampir di gerbang  VMG. Saya makan  kacang + nasi + roti + susu.  Saya bayar Rp 5.000. Pemiliknya dari Madura. Lalu saya ke rumah. Mr. Harnoto masih nonton. Waktu pkl 22:30 pm. Lalu saya minta beliau untu tidak merokok karena  masih pusimg.  Lalu tidur. Wow.... perjuangan hari ini.... ada  rasa malu, ada rasa sedih.... namun... syukur bahwa sudah tiba dengan selamat.

Rabu, 6 Mei 2015

Presentasi Makalah MK Filsafat Yahudi. Saya berangkat pukul 15:15 dari JPS setelah izin. Tanggung krn  15' lagi  pulang yakni 15:30. Tak tak apa. Saya singgah di tempat photo copy untuk gandakan bahan presentasi. Saya gandaka sebanyak 30 makalah. Saa  bayar Rp 36.000. Saya isi bensin di jalan. Untuk pertama kali saya isi bensin di di pinggir jalan. Saya is Rp 8.000. Saya berangkat ke Stasiun Cakung. Saya titip seped motor di sana. Saya tunggu kereta ke Jakarta. Kereta datang. saya  dapat tempat. Berkecamuk beregam hal dalam hatiku, termasuk harus turun di mana, di Jatinegara atau di Kramat.  Saya sudah beli tiket untuk hanya samapai di Satasiun Jatinegara saja. Saya rencana pakai ojek keSTFD. Saya tiba di Jatinegara. Saya lakukan rencana itu. saya harus jalan kaki ke Jl.Ahmad Yani. Cukup berkringat karena jalan kaki. Di sana saya ambil ojek. Saya  bayar Rp 15.000. Saya  tiba dengan selamat. Waktu menunjukkan pkl 16:50. Saya punya waktu 10 menit untuk siapkan diri. Say ngobrol dengan Pa Marko (Markus Supomo). Saya buru-buru.  Kemudian masuk kelas. Saya bagikan makalah. Judulnya: "Dosa dan Perasaan Bersalah. Kami mempresentasikan pemikiran Martin Buber, pemikir Yahudi. Kali ini kami 3 0rang yang Presentasi makalah. Saya dan Pa Maga Sisong mempresentasikankan "Dosa dan Perasaan Bersalah menurut  Martin Buber. "Dalam Taurat / Talmut ada 10 Perintah Allah. Dalam Masyarakat Toraja ada 11 perintah. Perintah ke 11, "Asal orang tidak tahu." Itu yang paling penting. Pa Ibnu mempersentasikan: "Imigo Dei )?). Saya dan Pa Marga Sisong pertama. Saya membuka dengan baik namun bagian akhir tak terlalu baik. Namun, umumnya saya bisa menjawab pertanyaan peserta kuliah  dengan  baik. Ada  kritik dan  catatan  dosen tentang isi materi  presentasi. Ada beberapa komponen yang kurang. Ada kalimat yang rumusannya kacau dalam susunan S-P - O - K.  Lalu saya  ngobrol dengan Redem setelah kuliah berakhir. Kami duduk di  bangku taman. Setelah itu saya  pulang. Saya pulang  pakai angkot ke Keramat.Di sini saya  ketemu seorang Bapak. kami ngobrol. Dia Pa Jimi. Pa'Jiwi mau ke Bekasi. Dia tinggal di Cikunir. Penampilannya sederhana. Celana pendek. Wajahnya Tionghoa. "Saya punya tiga anak. Satu kuliah di Paris, satu kuliah di ITB dan satu lagi kuliah di UNMER  Malang. Saya tak punyak duit," katanya."Wah, bapak ini rupanya  pandai mendidik anak sehingga anak cerdas sehingga  bisa  kuliah di kampus bagus, meski dia mengaku tak punya uang. Saya  penasaran dengan hal ini.  "Bagaimana trik bapak sehingga berhasil mendidik mereka sehingga bisa mengenyam pendidikan di kampus yang  bermutu? tanya saya. "Saya memberikan perhatian  dan kasih sayang kepada mereka. Hanya itu yang saya lakukan karena saya tak punya  duit," jawab bapak yang mengaku bekerja di  Jln. Pramuka ini. Pa Jimi  lahir di Jakarta. Orang tuanya tinggal di sekitar Jl. Pramuka. Namun kemudia rumah di sana dijual. Selanjutnya mereka  pindah ke Cikunir. Kereta ke jatinegara datang. Kami naik. Kami turun di  Jatinegara. Di sana  saya transit. Saya  menunggu kereta  ke Bekasi. Saya  turun di Stasiun Cakung. Saya pakai sepeda motor melewati  Kanal Banjir Timur. Saya mengisi bensin Rp 15.000. Ternyata  bensin yang saya  isi di pinggir  jalan begitu sedikit. Ya.... mereka mencari hidup  juga.


Kamis, 7 Mei 2015

Hari ini kami ada 2 kuliah. Fisafat Hukum dan Filsafat India Selatan dan Komprehensif. Saya  terlambat karena  sibuk di sekolah dan ketiduran  dalam kereta api sehingga lupa turun di Kramat. Saya simpan motor di Cakung. Saya masuk kereta. Saya lelah. Badan pikiran terasa leleh. Saya selonjorkan badan di kursi dalam kereta api. Saya tidur. Untung bisa sadar ketika tiba di  Jatinegara. Tunggu kereta ke Kramat. Kereta datang. saya tidur lagi. nyenyak. Sadar ketika di  Kramat Sentiong. Saya pikir masih di Pondok Jati. Ternyata  sudah lewat satasiun Kramat. Saya putuskan turun di Senen. Saya coba pakai akal bagaimana cara kembali ke Kramat tanpa keluar dari stasiun. Ini demi  hemat. Bila keluar berarti kena penalti karena tidak turun di stasiun sebagaimana yang direncanakan/ tertulis dalam  karcis  dan tiket jaminan berbayar. "Bagaimna cara saya bisa kembali ke Kramat tanpa hangus  karju jaminan?" tanyaku kepada  petugas. Awalnya saya  hilir mudik untuk menyeberang sebagamana di beberapa stasiunlainnya, misalnya  Cakung, kelender Baru, Jatinegara. Ternyata Stasiun Senen aturannya  lain. Penumpang yang ke Bekasi / Kramat tidak bisa naik dari Senen. Bila mau ke Bekasi harus ke  stasiun Kemayoran dulu. Boleh naik di sana. Okay. Saya mengikuti aturan itu. Waktu saudaah menunjukkan pukul 17:00 waktu kuliah Pasca Sarjana di STFD  sudah mulai. Saya rela  tidak ikut kuliah pertama. Saya menunggu kereta ke  Kemayoran. Kereta datang  hampir pkl 18:00. Saya  naik. Tiba di Kemayoran langsung transit. Ada kereta ke Jatinegara. Kereta tak berhenti di Senen. Saya berhenti di  Kramat.  Lalu pakai angkot ke Rawasari, turun di Jembatan Serong setelah bayr Rp 3.000. Saya  ikut  kuliah Filsata India. Hari ini Prof. Rm. Sudiarja, SJ (Dipo) yang masuk  menemani mahasiswa yang mempresentasi makalah. Setelah kuliah kami mahasiswa angkatan 2014/2015 berdiskusi tentang acara Tutup Semester. kami Panitia. Notulen bisa lihat di bawah nanti. Redem titip dokumennya kepada saya  untuk diberikan ke pimpnan  sekolah JPS.  Saat pulang  saya  nebeng  dengan  mobilnya  Ibu Nanda. Dia  ke Jatinegara. Saya  duduk di depan.  Dia mau ke dokter di Jatinegara. Saya turun persis di depan stasiun. "Terima  kasih  Ibu Nanda. Ini untuk ke sekian kali saya nebeng dalam mobilnya Ibu Nanda. Saya menyeberang  masuk stasiun Jatinegara. Saya beli karcis lalu  masuk stasiun. Lalu saya tunggu kereta.  Saya ketemu Pa' Arif (?) teman kuliah. Dia pakai kereta  juga. Dia  cerdas. "Bapak tampaknya cukup menguasai Antropologi," katanya. Ia saya berminat  dengan budaya. Saya berusaha  mnulis tesis berkaitan dengan  budaya," jawab saya. Ya, kalau passion ya  seperti itu, tamapak begitu  menguasai materi. Pa' Arif (?) cerdas.Pikirannya kritis, analisanya  tajam. Mungkin dia Islam. Dia bergabung dalam semester genap ini. Lalu  kami masuk  kereta  ketika  kereta  tiba.  Lalu ketika tiba di Cakung  saya  kelaur. Saya ambil motor di tempat penitipan. Saya  bayar Rp 5.000. Saya  melanjutkan perjalanan  menuju  ke VMG.

Selasa, 12 Mei 2015
Hari ini ada rencana giliran  presentasi bagi  kelompok kami yang  membahas Derrida. Sejak  semalam  hingga siang ini saya  persiapkan materi.  Saya menulis dan mengomentari Derrida tentang Gramatologi, lebih khusus: Berakhhirnya buku dan mulainya tulisan. Saya  mengedit makalah Midsemester. Saya  tambahkan sedikit. Lalu saya  print. Saya berangkat pukul 15:45 pm. Saya  harus ke tempat photocopy untuk gandakan bahan. Saya menuju Harmony. saya  bayar Rp 30.000. Saya  gandakan  20 exemplar. Lalu saya  makan di Warteg di Rawa Indah.Saya makan nasi, sayur, ayam goreng.Saya bayar Rp 9.000. Saya  ke   kontrakan di VMG. Saya  ambil uang lalu kembali ke JPS untuk ambil Hp yang  lupa. Saya   lanjutkan perjalanan ke stasiun Cakung. Saya masuk kereta. Saya  baca makalah tentang Derrida. Saya turun di Jatinegara. Saya transit menunggu kereja menuju Kramat. Waktu menunjukkan pukul 18:15. Saya  putuskan untuk  pakai ojek agar tidak terlambat. Saya negosiasi dengan tukang ojek. Kami sepakati harga Rp 12.000 menuju kampus STFD. Saya  tiba di kampus pkl 18:30 pm. Saya  ngobrol dengan  Redem dan Ambros. Lalu kami  masuk. Kami yang bertugas presentasi  Derrida adalah Redem, Roy dan saya. Redem pertama, lalu saya  dan Roy terakhir. Saya  membwakan tak terlalu bagus. Saya tak terlalu Percaya diri ketika membawakannya. Satu teman lain yang mempresentasikan makalah adalah Marga Sisong. Maga mempresentasi Emanuel Levinas. Ada satu tamu saat kuliah. Tampangnya orang asing. Dia duduk dekat Lisa. Mungkin temnnya Lisa. "Saya  mau bertanya kepada Pa Redem. Tolong jelaskan teori destruksi Heideger yang kemudian dijadikan teori Dekonstruksi oleh Derrida!. Redem turut menawab itu. Yohanes Bayu ditunjuk Rm. Prof. Sasraprateja,SJ  untuk menjawab juga  karena  Bayu yang tulis tentang materi itu. Mungkin skripsi Yohanes Bayu tentang  itu.  Pertanyaan peserta diarahkan kepada Roy, terutama tentang  Hyper Humanism -nya Heiddeger  dan konsep Hospitalitas-nya Derrida. "Hospitalitas itu adat kebiasaan Timur Tengah. Setiap musafir yang mampir tolong dlayani dengan baik. Berikan mereka makanan dan minuman  dan penginapan. Mungkin yang mapir di tengah malam bukan hanya musafir, orang baik - baik. Mungkin juga  yang  datang itu bukan orang  baik. Meski mereka bukan orang baik, tolong dilayani dengan  baik juga, sebagaomana pelayanan kepada orang-orang baik. Di sini Derrida  ada harapan. Semoga dengan  pelayanan yang  baik, orang yang  jahat / kurang  baik bisa  menjadi  baik. " Itu yang dimaksudkan dengan hospitality  oleh Derrida. " jelas  Romo Rm. Prof. Sasraprateja,SJ. Lalu  Marga menjelaskan Levisa  tentang  wajah 'yang  lain. "Apa  "wajah" itu  hanpirnya dengan yang terdapat dalam Taurat / Keja 1: 27: "Gambar  dan Rupa Allah"? " tanya  Santi Manurung  kepada Marga.
Selesai  kuliah saya  bercakap-cakap dengan Santi manurung  dan Nanda. Lalu saya  pulang. Saya  nebeng  di mobilnya Nanda. Saya  turun di Jatinegara. Saya  jalan kaki. Di trotoar / pinggir  jalan, saya  melihat lihat seorang pedagang (?) menampar seorang yang  jalan dengan seorang wanita. Laki-laki itu berusaha menghindar. Laki-laki yang memukul mungkin pedagang. Mungkin dia mengharapkan  agar laki-laki dan temn perempunnya itu membeli namun batal maka dia  kecewa / marah hingga memukul. Wow..... kejam  juga. Stasiun Jatinegara malam-malam  ramai dengan pedagang. Hanya satu jalur  mobil yang bisa lewat. Selebihnya,  badan dan bahu jalan  "dirampok" oleh pedagang barang / makanan. Wow..... di mana  pemerintah untuk mengatur hal ini? Di mana Ahok, gubernur DKI yang terkenal tegas  untuk mengatur  hal ini. "Malam hari, depan Stasiun Jatinegara hinggaa flyover padat dengan pedagang. Polisi tampaknya membiarkan saja. Mungkin mereka mendapat jatah dari para pedadang," demikian celoteh seorang  teman. Saya terus melintasi jalan itu hingga masuk Stasius Jatinegara. Saya membeli tiket. Saya menelepon Pa Adri  Odja yang meneleponku sore tadi ketika saya  naik ojek. Hp  Pa Adri  sedang  sibuk. Saya lihat Bapaknya Steve dan Sam - murid JPS - di Stasiun. Saya lalusaja. Mungkin saya terlalu cuek juga, pura-pura  tak  tahu.  Kami berdempetan dalam kereta, lak-perempuan berbauran, berdesak-desakan, sentuh menyentuh. Itu pemandangan biasa dalam kereta pada jam-jam sibuk. Jam-jam sibu biasanya ketika orang pergi dan pulang kerja  dan pada  hari  libur. Saya  ambil Hp untuk kontak saudara di kmpubg saya mau tanya kabar saudara saya  John yang  beberapa  hari lalu kurang sehat. Hp nya  tak diangkat. Lalu saya  telepon Kakak laki-laki sulu, Beny. Dia jawab. "Kami baik-baik. Johny pilet tapi sekarang sedang ke Golowelu untuk menonton TV mau menyaksikan pertandingan sepak bola, Barca vs  Bayern Munchen. Bapak Paulus agak membaik meskipun badannya  agak turun. Dia tetap di  kios," kata  Beny. Lalu saya ke  tempat pemitipan motor. Saya bayar Rp 5.000. saya  pulang  lewat Kanal Banjir Tumur. Lalu saya  meluncur  ke VMG. Saya beli  pisang kepok di pinggir jalan di perempatan Jl. Bulevard.  Saya tawar harga. Kami sepakat Rp 7.000. saya ke rumah. Saya berskan perelngapan makan. Buka TV sebentar lalu tidur. Esoknya pkl 2:00  am  pagi bangun nonton TV, Bayern vs  Barca, 3 - 2 untuk kememangan  Bayern Muncen, namun Baca yang lolos ke final karena unggul agregat 5- 3 berkat kemenangan 3 - 0 pada leg pertama, 7 Mei 2015 minggu lalu. Say  masak sayur lalu tidur. bangun pkl 6:15 am. Saya buru-buru ke sekolah tiba pkl 06:38 am. Saya tulis  blog selama 2 jam, pkl 07:00 - 09:00. Pa  Ben - kepsek ingatkan untuk kirim kisi-kisi kelas 2 dan 4. saya langsung lakukan itu.