DEISME: INDUK KAPITALISME DAN ATEISME
https://www.facebook.com/share/v/1FRYGbVeKM/
Akun FB: Rohmani. id.
Menarik untuk membuka kembali akun ini dan mencatatnya.
“Warren Buffett pernah berkata,
‘Kamu tidak perlu lebih pintar dari yang lain. Kamu hanya perlu lebih disiplin
dari yang lain.’
Kalimat ini sederhana, tapi jika kita
lihat dalam kacamata teori konstruktivisme, maknanya menjadi sangat dalam.
Dalam konstruktivisme, pengetahuan
itu tidak diturunkan begitu saja dari langit, juga tidak sekadar diisi oleh
guru.
Pengetahuan dibangun. Setiap hari,
setiap jam, setiap pengalaman adalah batu bata yang kita tumpuk, kita tata,
kita rapikan, hingga lama-kelamaan menjadi bangunan kokoh yang bernama
keahlian.
Nah, apa yang membuat bangunan itu
berdiri megah? Bukan kepintaran semata. Tapi disiplin.
Disiplin membuat kita terus
menaruh batu bata baru, menutup celah, memperkuat fondasi, sampai bangunan itu
tidak hanya berdiri, tapi indah dan tahan lama.
Orang pintar mungkin bisa melompat
jauh sekali, tapi tanpa disiplin, lompatan itu berhenti di tengah jalan.
Sementara orang yang biasa saja, dengan disiplin, bisa berjalan pelan tapi
konsisten, dan akhirnya mencapai garis akhir dengan lebih kuat.
Di situlah kuncinya: disiplin
bukan sekadar kebiasaan kaku, tapi sebuah proses konstruksi makna. Dengan
disiplin, kita tidak hanya tahu, tapi benar-benar paham. Tidak hanya bisa, tapi
menjadi ahli.
Karena expert sejati bukanlah
orang yang paling pintar sejak awal, melainkan orang yang paling konsisten membangun
dirinya sendiri.”
“…Maka, Warren Buffett benar. Kamu
tidak perlu lebih pintar dari orang lain. Pintar itu sering kebetulan—lahir
dari gen atau kesempatan. Tapi disiplin, itu pilihan.
Di sinilah ironi hidup: banyak
orang cerdas yang kalah oleh orang biasa, hanya karena satu hal: mereka tidak
disiplin. Lihat Lebih Sedikit
DEISME INDUK SEKULARISME DAN
ATEISME
Banyak orang lupa, kapitalisme dan
komunisme—dua ideologi besar dunia modern—sebetulnya lahir dari rahim yang
sama: deisme.
Deisme ini Tuhan diibaratkan
seperti pembuat jam, setelah setelah selesai dg mesin jam detik, menit dan jam
nya tukang jam istirahat. Begitulah deisme, setelah Tuhan menciptakan alam dg
hukum2nya, sekarang Tuhan diistirahatkan.
Deisme muncul di Eropa abad
Pencerahan. John Locke dalam The Reasonableness of Christianity (1695) menulis
bahwa agama bisa direduksi pada akal sehat dan moral natural. Voltaire
menyindir bahwa mukjizat dan wahyu hanyalah mitos; Tuhan ada, tapi “Ia tidak
perlu repot-repot mengubah hukum alam yang sudah sempurna.” Thomas Jefferson,
salah satu bapak pendiri Amerika, bahkan menyusun Jefferson Bible dengan
membuang semua mukjizat Yesus, hanya menyisakan ajaran moral.
Inilah wajah deisme: Tuhan diakui,
tapi hanya sebagai pencipta yang sudah “pensiun.” Alam berjalan dengan hukum
rasional; wahyu tidak lagi dianggap relevan. Dari sini lahir sekularisme: agama
dibiarkan hidup di masjid dan gereja, tapi urusan negara dan ekonomi diserahkan
pada akal.
Ketika wahyu ditarik mundur, yang
tersisa hanyalah materi. Maka lahirlah materialisme. Feuerbach bilang: Tuhan
hanyalah proyeksi manusia. Karl Marx kemudian menyebut agama sebagai “candu
rakyat” dan menegaskan bahwa sejarah digerakkan bukan oleh wahyu, melainkan
oleh relasi ekonomi.
Dari rahim materialisme lahirlah dua
anak kembar: kapitalisme, dengan semangat pasar bebas ala Adam Smith (The
Wealth of Nations, 1776); dan komunisme, dengan perjuangan kelas ala Marx &
Engels (The Communist Manifesto, 1848).
Keduanya berbeda jalan, tapi
sama-sama mewarisi induk yang sama: menyingkirkan Tuhan dari panggung sejarah.
Kapitalisme tetap sopan, Tuhan dibiarkan tapi dipinggirkan. inilah sekularisme.
Komunisme lebih frontal, Tuhan dinyatakan ilusi, ini ateisme. Lihat Lebih
Sedikit
JPS, 10 November 2025.
*******
WARREN BUFFET
“Warren Buffett pernah berkata,
‘Kamu tidak perlu lebih pintar dari yang lain. Kamu hanya perlu lebih disiplin
dari yang lain.’
Kalimat ini sederhana, tapi jika kita
lihat dalam kacamata teori konstruktivisme, maknanya menjadi sangat dalam.
Dalam konstruktivisme, pengetahuan
itu tidak diturunkan begitu saja dari langit, juga tidak sekadar diisi oleh
guru.
Pengetahuan dibangun. Setiap hari,
setiap jam, setiap pengalaman adalah batu bata yang kita tumpuk, kita tata,
kita rapikan, hingga lama-kelamaan menjadi bangunan kokoh yang bernama
keahlian.
Nah, apa yang membuat bangunan itu
berdiri megah? Bukan kepintaran semata. Tapi disiplin.
Disiplin membuat kita terus
menaruh batu bata baru, menutup celah, memperkuat fondasi, sampai bangunan itu
tidak hanya berdiri, tapi indah dan tahan lama.
Orang pintar mungkin bisa melompat
jauh sekali, tapi tanpa disiplin, lompatan itu berhenti di tengah jalan.
Sementara orang yang biasa saja, dengan disiplin, bisa berjalan pelan tapi
konsisten, dan akhirnya mencapai garis akhir dengan lebih kuat.
Di situlah kuncinya: disiplin
bukan sekadar kebiasaan kaku, tapi sebuah proses konstruksi makna. Dengan
disiplin, kita tidak hanya tahu, tapi benar-benar paham. Tidak hanya bisa, tapi
menjadi ahli.
Karena expert sejati bukanlah
orang yang paling pintar sejak awal, melainkan orang yang paling konsisten membangun
dirinya sendiri.”
“…Maka, Warren Buffett benar. Kamu
tidak perlu lebih pintar dari orang lain. Pintar itu sering kebetulan—lahir
dari gen atau kesempatan. Tapi disiplin, itu pilihan.
Di sinilah ironi hidup: banyak
orang cerdas yang kalah oleh orang biasa, hanya karena satu hal: mereka tidak
disiplin. Lihat Lebih Sedikit
Disiplin itu pilihan.
JPS, 10 Nov. 2025.