Kamis, 15 Mei 2025

DEISME: INDUK KAPITALISME DAN ATEISME - Menarik untuk disimak

DEISME: INDUK KAPITALISME DAN  ATEISME

https://www.facebook.com/share/v/1FRYGbVeKM/

Akun FB: Rohmani. id.


Menarik untuk membuka kembali akun ini dan mencatatnya. 


“Warren Buffett pernah berkata, ‘Kamu tidak perlu lebih pintar dari yang lain. Kamu hanya perlu lebih disiplin dari yang lain.’
 Kalimat ini sederhana, tapi jika kita lihat dalam kacamata teori konstruktivisme, maknanya menjadi sangat dalam.

Dalam konstruktivisme, pengetahuan itu tidak diturunkan begitu saja dari langit, juga tidak sekadar diisi oleh guru.

 

 

Pengetahuan dibangun. Setiap hari, setiap jam, setiap pengalaman adalah batu bata yang kita tumpuk, kita tata, kita rapikan, hingga lama-kelamaan menjadi bangunan kokoh yang bernama keahlian.

Nah, apa yang membuat bangunan itu berdiri megah? Bukan kepintaran semata. Tapi disiplin.

Disiplin membuat kita terus menaruh batu bata baru, menutup celah, memperkuat fondasi, sampai bangunan itu tidak hanya berdiri, tapi indah dan tahan lama.

Orang pintar mungkin bisa melompat jauh sekali, tapi tanpa disiplin, lompatan itu berhenti di tengah jalan. Sementara orang yang biasa saja, dengan disiplin, bisa berjalan pelan tapi konsisten, dan akhirnya mencapai garis akhir dengan lebih kuat.

Di situlah kuncinya: disiplin bukan sekadar kebiasaan kaku, tapi sebuah proses konstruksi makna. Dengan disiplin, kita tidak hanya tahu, tapi benar-benar paham. Tidak hanya bisa, tapi menjadi ahli.

Karena expert sejati bukanlah orang yang paling pintar sejak awal, melainkan orang yang paling konsisten membangun dirinya sendiri.”

“…Maka, Warren Buffett benar. Kamu tidak perlu lebih pintar dari orang lain. Pintar itu sering kebetulan—lahir dari gen atau kesempatan. Tapi disiplin, itu pilihan.

Di sinilah ironi hidup: banyak orang cerdas yang kalah oleh orang biasa, hanya karena satu hal: mereka tidak disiplin. Lihat Lebih Sedikit

 

 

DEISME INDUK SEKULARISME DAN ATEISME

Banyak orang lupa, kapitalisme dan komunisme—dua ideologi besar dunia modern—sebetulnya lahir dari rahim yang sama: deisme.

Deisme ini Tuhan diibaratkan seperti pembuat jam, setelah setelah selesai dg mesin jam detik, menit dan jam nya tukang jam istirahat. Begitulah deisme, setelah Tuhan menciptakan alam dg hukum2nya, sekarang Tuhan diistirahatkan.

Deisme muncul di Eropa abad Pencerahan. John Locke dalam The Reasonableness of Christianity (1695) menulis bahwa agama bisa direduksi pada akal sehat dan moral natural. Voltaire menyindir bahwa mukjizat dan wahyu hanyalah mitos; Tuhan ada, tapi “Ia tidak perlu repot-repot mengubah hukum alam yang sudah sempurna.” Thomas Jefferson, salah satu bapak pendiri Amerika, bahkan menyusun Jefferson Bible dengan membuang semua mukjizat Yesus, hanya menyisakan ajaran moral.

Inilah wajah deisme: Tuhan diakui, tapi hanya sebagai pencipta yang sudah “pensiun.” Alam berjalan dengan hukum rasional; wahyu tidak lagi dianggap relevan. Dari sini lahir sekularisme: agama dibiarkan hidup di masjid dan gereja, tapi urusan negara dan ekonomi diserahkan pada akal.

Ketika wahyu ditarik mundur, yang tersisa hanyalah materi. Maka lahirlah materialisme. Feuerbach bilang: Tuhan hanyalah proyeksi manusia. Karl Marx kemudian menyebut agama sebagai “candu rakyat” dan menegaskan bahwa sejarah digerakkan bukan oleh wahyu, melainkan oleh relasi ekonomi.

Dari rahim materialisme lahirlah dua anak kembar: kapitalisme, dengan semangat pasar bebas ala Adam Smith (The Wealth of Nations, 1776); dan komunisme, dengan perjuangan kelas ala Marx & Engels (The Communist Manifesto, 1848).

Keduanya berbeda jalan, tapi sama-sama mewarisi induk yang sama: menyingkirkan Tuhan dari panggung sejarah. Kapitalisme tetap sopan, Tuhan dibiarkan tapi dipinggirkan. inilah sekularisme. Komunisme lebih frontal, Tuhan dinyatakan ilusi, ini ateisme. Lihat Lebih Sedikit



JPS, 10 November 2025. 

*******

WARREN BUFFET

“Warren Buffett pernah berkata, ‘Kamu tidak perlu lebih pintar dari yang lain. Kamu hanya perlu lebih disiplin dari yang lain.’
 Kalimat ini sederhana, tapi jika kita lihat dalam kacamata teori konstruktivisme, maknanya menjadi sangat dalam.

Dalam konstruktivisme, pengetahuan itu tidak diturunkan begitu saja dari langit, juga tidak sekadar diisi oleh guru.

Pengetahuan dibangun. Setiap hari, setiap jam, setiap pengalaman adalah batu bata yang kita tumpuk, kita tata, kita rapikan, hingga lama-kelamaan menjadi bangunan kokoh yang bernama keahlian.

Nah, apa yang membuat bangunan itu berdiri megah? Bukan kepintaran semata. Tapi disiplin.

Disiplin membuat kita terus menaruh batu bata baru, menutup celah, memperkuat fondasi, sampai bangunan itu tidak hanya berdiri, tapi indah dan tahan lama.

Orang pintar mungkin bisa melompat jauh sekali, tapi tanpa disiplin, lompatan itu berhenti di tengah jalan. Sementara orang yang biasa saja, dengan disiplin, bisa berjalan pelan tapi konsisten, dan akhirnya mencapai garis akhir dengan lebih kuat.

Di situlah kuncinya: disiplin bukan sekadar kebiasaan kaku, tapi sebuah proses konstruksi makna. Dengan disiplin, kita tidak hanya tahu, tapi benar-benar paham. Tidak hanya bisa, tapi menjadi ahli.

Karena expert sejati bukanlah orang yang paling pintar sejak awal, melainkan orang yang paling konsisten membangun dirinya sendiri.”

“…Maka, Warren Buffett benar. Kamu tidak perlu lebih pintar dari orang lain. Pintar itu sering kebetulan—lahir dari gen atau kesempatan. Tapi disiplin, itu pilihan.

Di sinilah ironi hidup: banyak orang cerdas yang kalah oleh orang biasa, hanya karena satu hal: mereka tidak disiplin. Lihat Lebih Sedikit


Disiplin itu pilihan. 


JPS, 10 Nov. 2025. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar