Kamis, 09 Desember 2021

PIDATO PENGUKUHAN GURU BESAR FBH DAN TANGGAPAN ORANG

PIDATO PENGUKUHAN GURU BESAR  FBH DAN TANGGAPAN   ORANG




Tugas Filsafat di Era Homunikasi Digital

 

Pidato Pengukuhan Guru Besar Filsafat

di Universitas Pelita Harapan - 8 Desember 2021 oleh

Prof.Dr. Fransisco Budi Hardiman, S.S., M.A.


Kind words are tike koney - sweet to tke sout and keattky for tke body

- Proverb 16:24

 

Adalah suatu kehormatan boleh berdiri di mimbar ini untuk berbicara tentang filsafat, sebuah bentuk pengetahuan yang sudah sangat tua usianya,

namun masih relatif muda sebagai subyek akademis di negeri kita. Universitas Pelita Harapan merupakan salah satu perguruan tinggi yang mengajarkan filsafat, bukan hanya untuk jurusan tertentu. Semua alumni, entah itu dokter, insinyur, arsitek, guru, atau sarjana ekonomi, pernah belajar filsafat lewat kurikulum tiberat arts dan pasca sarjana. Kalau saat ini     membahas tugas filsafat untuk era komunikasi digital, saya mengajak berpikir tentang manfaat filsafat untuk publik. Tugas itu tentu tidak mudah karena harus ditunaikan di tengah zaman yang mulai malas berpikir dan lebih suka browsing dan googting ini.

 

Filsafat sudah berakhir, yaitu mati. Demikian kesalahpahaman yang terjadi, setelah Heidegger dan Rorty menulis hal itu. Beberapa kematian atau akhir lain juga sempat diberitakan, seperti “kematian pengarang” (Roland Barthes), “kesudahan seni” (Arthur Danto) dan “akhir manusia” (Michel Foucault). Sudah jauh sebelumnya nabi sekular Friedrich Nietzsche mengumumkan “kematian Allah”, dan mungkin awalnya dari situ. Kesalahpahaman terjadi karena “akhir” atau “kematian” yang dimaksud para filsuf kontemporer itu sebetulnya adalah cara-cara berfilsafat yang kedaluwarsa. Banyak yang ingin melayat filsafat, tetapi tidak melihat mayat dalam peti matinya. Penjelasannya sederhana. Selama manusia berpikir, selama itu filsafat masih hidup dan bahkan dilahirkan kembali. Namun di


sini kita pun menghadapi masalah yang lebih pelik daripada wacana-wacana tentang kematian filsafat. Apakah manusia masih berpikir di era komunikasi digital? Apakah arti berpikir di zaman kita? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Tapi ketika menggariskan tugas filsafat, kita sedang dipaksa untuk menemukan jawabannya.

 

Zaman kita disebut dengan berbagai nama, seperti: post-modern, revolusi industri 4.0, dan di sini kita sebut era komunikasi digital. Transisi ke era itu kita sebut revolusi digital. Apa yang menyamakan isi semua nama itu adalah luapan informasi yang diakibatkan pemakaian teknologi komunikasi digital. Di akhir abad ke-20 filsuf dan sosiolog Prancis Jean Baudrillard telah bicara tentang simutacra', yaitu tentang kondisi kita saat

ini, ketika realitas telah diganti dengan simbol. Menurutnya pengalaman

kita – politis, ekonomis, psikologis, erotis - tidak lebih daripada simulasi kenyataan. Teks, video, gambar di internet membingkai atau merekayasa peristiwa seolah-olah terjadi. Kita berada di dalamnya. Saat ini, ketika sebagian besar orang menundukkan kepala melihat layar ponselnya, analisis Baudrillard tampak semakin terbukti. Isi Zoom, Whatsapp, Tik Tok dan Twitter, terasa lebih real daripada orang yang duduk di depan kita. Kita menjadi gagap menghadapi kelangsungan.

 


Efeknya untuk demokrasi cukup menggelisahkan. Dengan telepon cerdas ideal-ideal demokrasi seolah dapat diraih. Inilah era ketika siapa saja bisa bicara, seolah dapat mengakses kekuasaan. Dalam komunikasi digital tidak ada hirarki yang membatasi. Setiap orang bisa menjadi produsen, sutradara, sekaligus ekspert bagi orang lain. Tetapi persis pada saat ini pula, ketika akses langsung ada dalam genggaman, cita-cita demokrasi terancam luput dari genggaman. Alih-alih mengupayakan saling pemahaman, kerap kali media-media sosial menjadi sarana menyebarkan hoaks, berita palsu, dan

1 Lih. Jean Baudrillard, Simutacra and Simutation, (University of Michigan Press: Michigan, 1995).


berbagai kecohan lain dalam bentuk teks, video, poster, chat, atau foto yang mendistorsi kenyataan. Industri kebohongan telah sampai ke ruang privat kita untuk mengkhianati akal sehat dan memancing kebencian timbal balik. Apakah bisa disebut komunikasi, jika kita tidak saling mengerti? Apakah bisa disebut demokrasi, jika kebohongan merusak komunikasi?

Filsafat telah mengemban tugasnya sejak kelahirannya di zaman Yunani kuno. Tugasnya adalah mengajak berpikir. Berpikir adalah mempersoalkan. Sejak awal filsafat hidup dengan bertanya. Dahulu ia mempersoalkan mitos. Dalam buku ketujuh Tke Repubtic, Plato bercerita tentang para tawanan dalam gua yang sejak kecil hanya melihat bayang-bayang pada dinding2. Mereka percaya bahwa bayang-bayang adalah realitas. Mitos dikritik sebagai realitas semu seperti itu. Di zaman modern filsafat mempersoalkan ideologi dan bahkan agama sebagai bentuk lain mitos. Saat itu fiksi masih relatif mudah dibedakan dari realitas.

 

Dalam revolusi digital, ketika luapan informasi mengacaukan persepsi, distingsi antara fiksi dan realitas mulai kabur dan agaknya tidak menarik lagi untuk dipersoalkan. Para pengguna gawai tidak lagi peduli bahwa mereka telah menjadi tawanan seperti dalam cerita Plato itu. Bukan dinding goa, melainkan layar; bukan bayang-bayang, melainkan simutacra sedang menjebak mereka. Namun mereka tampaknya menikmati bayang-bayang itu. Apakah filsafat masih dapat menunaikan tugas klasiknya? Masih perlukah tugas itu, jika berpikir dianggap sama saja dengan menikmati suasana goa masing-masing?

 

 

 

 


2 Lih. Platon, Der Staat, (Felix Meiner Verlag: Hamburg, 1993), fragmen 514-516, h. 269-271


Filsafat dan Homunikasi Digital

 

Jawaban saya adalah: Filsafat harus tetap menjalankan tugas klasiknya, yaitu mengajak berpikir untuk menemukan kebenaran, memaknai keindahan, dan menilai kebaikan. Tugas ini diperlukan justru di zaman kita, ketika komunikasi digital menjadi mode of being kita yang baru. Khususnya di Indonesia, sebuah negara dengan pengguna internet yang mencapai sekitar 125 juta orang, tugas ini mendesak untuk dilakukan. Sebelum mengurai tugas itu, saya akan mengulas dua hal. Pertama, apa itu dunia digital. Kedua, apa kebaruan komunikasi digital.

 

Jika bicara tentang ‘dunia', yang kita maksudkan adalah segala sesuatu

yang ada.3     Namun sebagai persoalan komunikasi, ‘dunia' adalah segala

sesuatu yang relevan bagi kita untuk kita bicarakan. Istilah dunia digital mengacu pada pengertian terakhir ini. Aliran silih berganti pesan-pesan, gambar-gambar, video-video - atau singkatnya komunikasi-komunikasi – membentuk satu kesatuan yang kita sebut dunia digital. Dunia seperti ini berciri linguistik. Jika kita menyalakan ponsel dan mulai terlibat dalam komunikasi, kita menjadi aktor dalam dunia digital itu. Dunia itu membedakan diri dari sesuatu di luarnya yang juga relevan bagi kita dalam komunikasi, yakni: dunia korporeal atau dunia fisik. Gabungan antara dunia digital dan dunia korporeal dapat kita sebut ‘kompleksitas baru'.

 

Dalam kondisi ideal dunia digital dan dunia korporeal menjaga batas-batasnya dan saling menafsirkan satu sama lain. Kita tahu bahwa isi dunia digital bukan seluruh kenyataan, melainkan ‘realitas sejauk dibicarakan'. Akal sehat mempertahankan distingsi itu. Namun distingsi antara realitas dan ‘realitas sejauh dibicarakan' itu menjadi sulit dijaga, ketika luapan informasi mengkooptasi kesadaran dan

3 Bdk. Martin Heidegger, Sein und Zeit, (Max Niemeyer Verlag: Tübingen, 2001), paragraf 14, h. 63


mengacaukan persepsi pengguna gawai. Di dalam situasi ini dunia digital mengganti dunia korporeal. Alih-alih kepada realitas, orang menjadi lebih percaya kepada ‘realitas sejauh dibicarakan', yakni simutacra. Namun tiap hal punya akhir. Bukankah jika ponsel mati atau pulsa habis, ‘realitas sejauh dibicarakan' itu berhenti? Jeda hening itu memberi tempat kepada ‘realitas di tuar pembicaraan' untuk menampakkan diri. Komunikasi tidak dapat menghabisinya. Transparansi digital malah telah menyembunyikannya di balik kata-kata.

Filsafat menghadapi kompleksitas baru itu sebagai tantangan. Dahulu, ketika dunia hanya korporeal, renungan-renungan tertuju pada dunia korporeal itu. Descartes menemukan kesadaran modern dengan mengacu kepada dirinya, subyek yang bertubuh. Kesadaran dibayangkan sebagai substansi, res cogitans. Namun sekarang, dalam kompleksitas baru, filsafat tidak lagi membayangkan si “aku” sebagai substansi karena si “aku” dalam komunikasi digital itu terdiri atas gumpalan relasi-relasi yang memantulkan kembali pesan-pesan yang dibacanya. Hal-hal, termasuk si “aku”, dalam komunikasi digital bukanlah mirror of nature (Rorty), melainkan – sebut saja mirror of communication. Diri bukanlah substansi, melainkan gumpalan relasi-relasi atau “masyarakat dalam masyarakat” (Simmel). Seperti bawang, tidak ada nucleus di dalamnya, hanya lapisan-lapisan kontingensi  yang  berujung  pada  bukan  apa-apa.  Berapa  banyak  aku4 kumiliki, jika si “aku” adalah mirror of communication? Adakah yang lebih misterius daripada “diri” dalam komunikasi digital? Masih adakah subyek moral?

5

 

 


4   Lih. Georg Simmel, Soiotogie. Untersuckungen über die Formen der Vergesettscka ung. Gesamtausgabe Band II, (Suhrkamp Taschenbuch Wissenschaft: Frankfurt a.M., 1992), h.53

5 Bdk. Kevon O'Donnell, Postmodernisme, (Penerbit Kanisius: Yogyakarta, 2009), h. 82


Di samping gambaran manusia, secara praktis cara-cara pencarian kebenaran, keindahan, dan kebaikan juga berubah. Mereka tidak dicari dengan refleksi-diri di dalam benak, pada daya cerap, atau dalam lubuk hati sendiri, melainkan dicari dengan klik ke dalam belantara informasi arahan Google atau Youtube. Akal tidak lagi herois seperti di zaman Pencerahan. Api yang dinyalakan Prometheus mulai redup. Akal harus bernegosiasi dengan sentimen dan imajinasi yang berseliweran di ruang maya. Setelah dua perang dunia di abad lalu filsafat makin menyadari kontingensi akal budi dan mulai bicara tentang “faktisitas” (Heidegger), “keberuntungan” (Nussbaum), dan “anugerah” (Derrida). Akal membantu untuk mengenal dunia, tetapi ia tak punya akses langsung ke dunia, karena akalpun adalah interpretasi yang merangkul kekosongan.6 Kondisi ini makin benar dalam komunikasi digital. Isi gawai kita tidak mengakhiri, malah menyingkap makin banyak misteri kehidupan dengan tafsir tanpa ujung.

 


Kompleksitas baru itu tidak terpisahkan dari kebaruan komunikasi digital. Ada tiga ciri kebaruannya.7 Penampilan ontine seseorang tidak perlu mengandaikan adanya tubuh. Komunikasi menjadi bodytess. Anda berada di sana sekaligus di sini, tetapi tubuh Anda entah di mana. Itulah fenomena dekorporeatisasi yang menjadi ciri pertama komunikasi digital. Dalam telepresensi orang tidak merasakan langsung tindakannya, maka sensibilitasnya jauh berkurang. Salah-rasa dan mati-rasa menjadi lazim. Tubuh menjangkarkan kita dalam dunia, maka tanpanya kita kehilangan rasa “berada-dalam-situasi”. Tidakkah komitmen menjadi sulit di sini? Ciri kedua adalah tercerabutnya tindakan dari teritorium tertentu. Klik atau ketik yang kita lakukan pada layar menghapus perbedaan lokal dan global karena setiap tindakan memiliki potensi global. Kita mengawasi sekaligus diawasi Tia oran potensial   menjadi   papara bag yan lain.

6 Bdk. ibid., h. 119

7 Lih. F. Budi Hardiman, Aku Ktik maka Aku Ada. Manusia datam Revotusi Digitat, (PT. Kanisius: Yogyakarta, 2021), h. 221-223


Fenomena ini kita sebut deteritoratisasi. Apa lalu arti tempat, jika pesan kita bisa ada di mana-mana tapi tidak di manapun? Akhirnya, tindakan, seperti klik atau ketik, bisa mendahului keputusan kesadaran akibat ketidakberpikiran para pengguna, padahal efek tindakan itu bisa sangat membahayakan. Satu klik bisa saja menimbulkan kerusuhan, seperti terjadi di India dan Amerika belum lama ini. Kita menyebut kegiatan yang lolos dari cek kesadaran akibat rutin ini banatisasi.

 

Ketiga ciri kebaruan itu ikut mengaburkan kriteria epistemologis, estetis, dan etis zaman kita. Celakanya banyak orang menyalahpahami kekaburan itu sebagai dekonstruksi, lalu bersikap defaitistis terhadap kompleksitas. Dekonstruksi bukan destruksi, melainkan suspensi makna untuk memberi ruang bagi hal-hal baru, maka perlu dilanjutkan dengan rekonstruksi. Jika tidak,  kita  melakukan  p8 embiaran.  Anda  membongkar  rumah  tua,  tetapi bukan untuk membiarkan reruntuhan itu melainkan untuk membangun yang baru. Sebagaimana kita selalu butuh rumah untuk bermukim, kita juga selalu membutuhkan kriteria kebenaran, keindahan, dan kebaikan untuk berpikir dan berbuat. Apakah filsafat cukup puas hanya dengan mempersoalkan kriteria-kriteria itu dan mendukung relativisme epistemis dan moral? Jawaban saya sederhana: Filsafat tidak bertugas untuk membiarkan relativisme, apalagi untuk menghasilkannya, melainkan untuk menguranginya. Ia harus membantu menetapkan kriteria baru untuk mengurangi absurditas. Jika tidak, filsafat tak kurang daripada sofisme.

 

 

 

 

 


8 Derrida berkeberatan dengan kesalahpahaman itu dan mengklarifikasi maksudnya dalam: Jacques Derrida, Geseteskra . Der mystiscke Grund der Autorität, (Suhrkamp: Frankfurt a.M., 1996), h. 20-21, juga h.42.


Tugas Filsafat

Ada sekurangnya tiga tugas filsafat di era komunikasi digital. Tugas pertama adalah menyingkap ambivalensi komunikasi digital. Filsafat perlu memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan baru pemakaian teknologi digital untuk meningkatkan kemanusiaan kita, seperti kreativitas, kebebasan, dan moralitas. Namun ia juga harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang sejauh mana teknologi digital dapat mendegradasi kemanusiaan kita sampai ke taraf mesin. Dengan teknologi ini kita bisa menjadi kosmopolitan, dan terbuka kemungkinan terbentuknya kewargaan global. Namun ancamannya juga nyata, yakni: tkougkttessness. Dewasa ini perluasan kapasitas kemanusiaan kita berjalan seiring dengan kekuasaan besar robotisasi yang mendegradasi berpikir menjadi sekadar proses ‘teknis', seperti browsing dan googting. Ketidakberpikiran bisa sangat berbahaya. Bukankah radikalisme religius diuntungkan oleh mereka yang bereaksi robotik?9 Agaknya kita tidak hanya dilatih menjadi kosmopolitan, tetapi juga sekaligus menjadi cyborg. Filsafat harus bersiasat untuk mengatasi dilemma itu.

 


Tugas kedua adalah kritik ideologi dan refleksi rasional. Sebagai pengetahuan kritis, filsafat bertugas mewaspadai hubungan-hubungan kekuasaan teknokratis dan dogmatisme sains dan teknologi. Sejauh mana digitalisasi telah menjelma menjadi pengawasan panoptis? Marginalisasi baru mana yang ditimbulkannya di antara kelas-kelas sosial? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat wajar dilontarkan justru ketika banyak orang mengandaikan begitu saja teknologi digital sebagai kebenaran. Sebagai pengetahuan reflektif, filsafat bertugas untuk menyingkap perubahan pemahaman antropologis, epistemologis, dan estetis yang diakibatkan oleh interaksi antara manusia dan dunia digital.

9 Lih. F. Budi Hardiman, Aku Ktik maka Aku Ada, h. 78


Apakah kita masih manusia, ketika otak kita disambungkan secara langsung atau tak langsung ke komputer? Apakah kebenaran, keindahan, dan kebaikan, jika orisinalitas dan artifisialitas sulit dibedakan? Apakah hubungan digitalisasi dengan evolusi peradaban, kesadaran, penderitaan, dan Tuhan? Untuk menjawab hal-hal itu, filsafat tidak bisa bekerja sendirian. Ia perlu bekerjasama dengan disiplin-disiplin lain, termasuk mitra seniornya, teologi, dan partner yuniornya, sains. Hal itu dilakukan juga dengan keinsyafan akan batas-batas bahasa sebagai representasi realitas. Selalu ada ceruk antara bahasa dan realitas yang tidak dapat ditutup secara tuntas oleh interpretasi, entah itu filosofis, teologis, ataupun ilmiah.

 

Akhirnya, tugas ketiga adalah memberi tilikan etika komunikasi digital. Etika penting untuk membuat para pengguna media sosial mengalami komunikasi sebagai suatu dunia yang meneguhkan kebersamaan mereka sebagai digitat citiens. Saling menghina,  mengancam,  atau berbohong di media-media sosial menghasilkan wortdtessness, rasa kehilangan dunia. Meski selalu ckatting, orang tetap merasa sendirian dan terisolasi dari yang lain. Etika harus menghasilkan kembali dunia milik bersama, mulai dari sopan santun, kode etik, asas-asas tmoral, sampai pada tuntutan hak-hak komunikasi warga digital. Ia juga perlu memberi kritik atas praktik monopoli perusahaan-perusahaan penambang data. Digitalisasi harus diiringi promosi keadilan. Karena tugas ini mendesak untuk perbaikan perilaku digital, etika komunikasi digital harus diberikan sejak dini di sekolah dan universitas.


Anugerah Homunikasi

 

Sebagai penutup saya telah menyiapkan sebuah catatan kecil. Bukan hanya filsafat yang terbeban dengan ketiga tugas yang baru saja selesai saya ulas. Kita semua terbeban untuk memperbaiki komunikasi digital sehingga komunikasi digital makin dapat menjadi sarana mencapai saling pengertian. Manusia tidak pernah bisa memastikan komunikasinya dengan pencapaian rasionalnya, karena selalu saja ada inkomunikabilitas dalam komunikasi. Saling mengerti perlu disyukuri sebagai suatu pemberian, anugerah komunikasi. Seperti direnungkan Derrida, ada paradoks dalam memberi: Hidup ini terberi secara bebas, tetapi pemberian ini sekaligus

mengandung tugas.10  Dalam bahasa Jerman, hal itu terungkap dalam dua

kata: Gabe dan Aufgabe. Kata Gabe (pemberian) menyiratkan kata Aufgabe

(tugas).

 

Peristiwa saling mengerti meminta kita untuk mewujudkan kebaikan bersama. Komunikasi digital bukan hanya fakta, melainkan juga mengandung himbauan untuk menyebarkan kebenaran, menyingkap keindahan, dan berbagi kebaikan. Kita mengupayakan komunikasi, tetapi ia juga adalah suatu peristiwa dengan hasil tidak terprediksi atau – seperti disebut Hannah Arendt - suatu “reaksi berantai”. 11 Kita, mahluk-mahluk rentan, tidak memegang kendali atas seluruh peristiwa komunikasi. Kita hanya perlu mengasihi orang lain dengan tiap kata yang kita ketik di layar, dan hal itu dibuat nyata dengan ‘inkarnasi' ke dalam kehadiran korporeal. Acta, non verba. Mungkin dengan itu orang menjadi lebih bijaksana di era komunikasi digital.

 


10 Bdk. Jacques Derrida, Given Time. I. Counterfait Money, (University of Chicago Press: Chicago, 1992).

11 Lih. Hannah Arendt, Vita activa oder Vom tätigen Leben, (Piper: München, 1996), h. 237




Note  dari  saya. Ketika  saya   converter  ada  perubahan  pada  kata  , sehingga  sedikit  berbeda dengan  aslinya.



________________________________

TANGGAPAN  HAMID  BASYAIB (AKTIVIS  DAN MANTAN WARTAWAN)


Merayakan Kemurungan Hidup Bersama Filsafat

Oleh Hamid Basyaib

MENDENGARKAN pidato pengukuhan guru besar Filsafat Franky Budi Hardiman (selanjutnya, FBH) di YouTube, keheranan saya akan “misteri” ini menguat: Mengapa para filosof, atau ahli sejarah filsafat seperti FBH, sama belaka tendensi mentalnya. Mereka gemar benar meratapi perkembangan sosial baru dengan murung dan hati pilu.

FBH memotret dunia digital dengan lensa yang sepenuhnya buram, seolah-olah seluruh isi dan materi yang memenuhi media sosial buruk belaka, seburuk apa yang ia keluhkan sepanjang pidato tersebut. Bagi FBH, medsos semata-mata berisi timbunan hoax, caci maki yang menghancurkan hakikat komunikasi, potensial merongrong demokrasi, ajang penebar firnah dan sejenisnya. (Pengguna internet Indonesia, by the way, per Maret 2021 sudah di atas 212 juta, jauh dari 125 juta seperti disebut FBH).

Serentak dengan itu: FBH merindukan dan mengelus-elus masa silam yang diandaikannya  berisi kebaikan dan kemuliaan belaka; tanpa rangkaian perang yang keji, tanpa kelaparan massal, tanpa banyaknya jenis penyakit yang tak tersembuhkan. 

Unit analisis FBH juga campuraduk, antara individu dan kolektifitas. Dulu orang mencari kebenaran dengan refleksi-diri, katanya, sekarang orang mencarinya di Google dan YouTube. Dan yang ia beri contoh tentang “orang dulu” itu adalah Rene Descartes — bukan warga kebanyakan, misalnya penjual daging.

Jadi, keluhan umum ditujukannya pada situasi sosial kontemporer (melibatkan banyak orang), sedangkan contoh baik yang diajukannya (tentang ketekunan berefleksi-diri) adalah individu istimewa dalam kolektifitas masa silam itu. 

Padahal, sejak dulu pun yang berefleksi seperti itu memang hanya individu-individu tertentu seperti Descartes. Mayoritas massa —mungkin termasuk saudara, pacar dan kerabat Descartes sendiri — tetap saja hidup dari hari ke hari dengan keluyuran tak tentu arah (karena diversifikasi sosial masih sangat terbatas), atau melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin secara mekanistik, tanpa sempat mereka renungkan lagi maknanya bagi kehidupan personal maupun sosial.

Justeru sekarang, berkat akses luas publik ke sumber-sumber informasi yang melimpah ruah dengan gratis, sudah pasti jauh lebih banyak orang yang mampu “berefleksi-diri” karena dirangsang dan dibantu oleh cetusan-cetusan ide yang mereka dapatkan dari dunia digital. 

Sejak era digital dimulai, penghancuran elitisme dan kemewahan “refleksi-diri” seperti yang dulu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang seperti Descartes, mencapai puncaknya. Sekarang warga di tempat paling terpencil pun dapat terhubung dan saling menginspirasi dengan warga lain yang tinggal di tempat lebih terpencil. 

Tanpa teknologi digital, pidato FBH hanya akan didengarkan oleh 60an orang yang hadir di acara pengukuhan gurubesarnya. Dengan diposting di YouTube, pidatonya yang mengeluhkan kehadiran YouTube itu bisa dinikmati oleh beribu-ribu orang di tempat-tempat yang jauh, bisa didengarkan kapan saja — tapi saya harap tak menginspirasi banyak orang karena kelemahan-kelemahan cara pandangnya yang tipikal penekun filsafat, yaitu non-evidence-based. 

Pandangan dasar apokaliptiknya, tipikal penggandrung agama, membuat FBH tidak mampu melihat the elephant in the room. 

*

Tugas utama filsafat, kata FBH, adalah menjadi sumber 3 hal: kebenaran, keindahan, kebaikan — seolah-olah ketiganya mungkin mendapat penerimaan universal. Padahal semua itu sepenuhnya subjektif; jumlah pandangan tentang ketiga hal itu sebanyak jumlah manusia atau setidaknya sebanyak jumlah filosof. 

FBH juga dengan sekenanya menetapkan bahwa mitra senior filsafat adalah teologi dan mitra juniornya adalah sains. Penetapan ini sungguh membingungkan. Apa yang ia harapkan dari teologi? Dengan dinobatkan sebagai mitra senior filsafat, apakah berarti filsafat harus dibimbing oleh teologi dalam operasinya? 

FBH tampaknya menganggap teologi adalah suatu disiplin yang kokoh dari segi metodologi dan epistemologi, sementara makin disadari bahwa teologi bukanlah suatu disiplin akademis, meski ada imbuhan “logi” di dalamnya. 

Sains pun ditempatkannya sebagai “mitra junior” filsafat. Apakah ia ingin operasi sains harus dituntun oleh filsafat? Hasrat ini sama sekali tak masuk akal. Suatu disiplin yang begitu kokoh, dengan percabangannya yang makin kaya dan metodologi yang terus disempurnakan, dan dengan hasil-hasil yang begitu nyata dan telah mengubah besar-besaran wajah dunia dan cara orang memandang dunia dan dirinya sendiri, perlu dibimbing oleh cetusan-cetusan spekulasi pikiran para filosof, yang tak pernah melakukan eksperimentasi empiris dalam bentuk apapun. Tidak ada yang lebih absurd daripada cita-cita yang salah sejak di pangkal ini. 

FBH tampak sulit sekali keluar dari corak berpikir apokaliptik; suatu keyakinan bahwa dunia ini terus memburuk untuk akhirnya hancur lebur dihantam kiamat (meskipun dunia ini sendiri tak mungkin ada tanpa kiamat — yang sudah sangat sering terjadi selama 13,8 miliar tahun usia alam semesta). 

Dengan tendensi apokaliptiknya itu, maka perkembangan-perkembangan baru yang sangat bermanfaat bagi umat manusia pun, seperti mekarnya dunia digital, bagi FBH adalah isyarat lain bahwa dunia ini memang terus memburuk. Ia berfokus penuh pada dampak-dampak negatifnya (yang tentu saja ada, dan terus dilunakkan oleh para perancangnya), seakan-akan negatifitas adalah isi tunggal dunia digital; kalaupun ia tak berpandangan bahwa digitalisasi justeru dimaksudkan untuk memperburuk situasi dunia. 

*

Niat FBH patut dihargai, yaitu agar filsafat merespon perkembangan-perkembangan terbaru sejarah, yang ditandai oleh pesatnya kemajuan iptek. Sayangnya ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu tepat; atau pertanyaan-pertanyaan non-saintifik, yang belum tentu bisa diajukan, meski mungkin orang punya jawabannya (agama, misalnya, sering memberikan jawaban atas pertanyaan yang tidak bisa diajukan karena konfirmasi dan proses pembuktiannya mustahil dilakukan).

Kenyataan di dunia digital, kata FBH, bukanlah seluruh kenyataan, melainkan “kenyataan sejauh dibicarakan”. Jauh sebelum era digital pun situasinya memang seperti itu. Bagaimana cara menyajikan dan membahas “seluruh kenyataan”? Saya berani menyatakan FBH pendusta jika ia mengaku sanggup melakukannya — mampu menghadirkan “seluruh kenyataan”.

“Kenyataan sejauh dibicarakan” itu terjadi sejak hari pertama media massa seperti koran ditemukan orang. Maka New York Times dulu membual: suatu isu (“kenyataan”) tidak ada sebelum ia dicetak di halaman NYT. 

Jadi soal “kenyataan sejauh dibicarakan” itu bukan ciri khas dunia digital. Justeru dengan datangnya era digital cakupan isu yang dibahas publik jauh lebih luas (meski tentu saja tetap bukan “seluruh kenyataan”), sebab agenda publik tidak dipancang hanya oleh para redaktur media massa tradisional, yang menyeleksi peristiwa yang pantas diberitakan semata-mata berdasar kriteria “layak-muat” versi masing-masing.

Bagaimanapun, saya ucapkan selamat kepada rekan Prof. Dr. Franky Budi Hardiman atas pengukuhannya sebagai guru besar. *


_______
JPS  10 Des. 2021

___________




Tidak ada komentar:

Posting Komentar