Rabu, 26 Agustus 2015

Semester 3

Saya  dafter  ulang sehari sebelum kuliah yakni Senis, 24  Agustus 2015. Saya  membawa  bukti  transfer  her  registrasi Rp 500.000. Saya berangkat  pagi  dari  VMG . Saya  bangun pagi  pkl  03:30 am. Saya  sarapan lalu berangkat ke  seklah, JPS, tiba pkl  05:55. Saya menjadi orang pertama  tiba di JPS. Sekurity  baru puka pintu  gerbang keluar. Saya  mau  sms  kepala sekolah, Mr. Ben Ayung  untuk izin mau ke  kampus, STF Driyarkara k Jakarta  untuk  her  regustrasi. Saya  ketemu  beliau di pintu  gerbang. Saya  ke  tempat  parkir  motor. Saya  minta  izin lisan. Saya  pergi. Saya  titip motor  di Pondok Ungu. Lalu saya  naik angkot, bayar Rp 4.000  ke  Kranji. Saya  beli tiket  kereta, Rp 12.000 dengan  kartu  chip jaminan. Kereta  tiba. Penumpang  penuh sesak. Saling berdempetan. "Memang  hari   Senin, kereta api  selalu  sesak, berdesak desakan. Sya  turun di  Jatinegara. lalu transit  Kereta Api  menuju  Kramat. Saya  turun di Stasiun  Keramat. Lalu naik  angkot dengan biata Rp 3.000. tiba  jam 07:30  di  pasar  Rawasari. Belanja buah )melon, pepaya, anggur : Rp 50.000 untuk  saudari  kami, Nelty  yang  kini sedang  dalam perawatan setelah operasi   usus  buntu  minggu  lalu di RS   Saint  Carolrus jakarta. . Lalu saya  ke Melania. Tanya  Nelty. "Tak ada di sini. Di Tegalan, Matraman. Di sana ada  Rumah Bersalin melania. Dia kerja di sana. Di sini hanya kantor pusat," jawab ibu yang merupakan staf di situ. Saya salah alamat. Saya  tak profesional. Tak mau tanya  tempat istirahat dan tempat kerja  bagi Nelty. Saya  tidak  profesional. belajar  dari kegagalan., Frans!. Saya  ke  kampus  STF  Driyarkara. Ketemu Mbak Retno. Saya  serahkan  bukti  transfer  registrasi  dan  serhakan  form  rencana  kuliah saya  di semestar  3 ini. Saya  isi  form pembayaran  uang kuliah Rp 6.500.000  per semester, masih iut  tahun lalu. Saya pikir, ikut aturan uang  kuiah  tahun ini Rp 7.000.000. Ternyata  tidak, Saya  bayar Rp 6.500.000. Saya rencana 3 kali nyicil, setiapakhir bulan Agustus, September, Oktober 2015. Kemuadian saya  pulng, ambil buah yang  saya  titip di melamia. Saya menuju ke  kontrakan  Feus  dan Rony. Saya minta Rony untuk antar buah itu kepada Neltyy di  RB  Melania  Tegalan - Matraman. Rony Setuju. Saya buru-buru pulang karena  akan mengajar  pada pkl 11:30 am. Saya ke  Halte Matraman agar bisa naik busway. Wow.... gagal  karena  tak  baya  kartu tiket busway. Akhiir putuskan untuk pakai   kereta api. Jalan kaki ke  Kramat. Keringat, berdebu. Cape. Tapi itulah perjuangan. Saya  pakai kereta. Sya  tidur  dalam kereta. Sya transit di  Jatinegara. Tunggu kereta   (KRL)   menuju Bekasi. Kereta datang. Saya  naik. Tiba di  satasiun Krnji pukul 09:00. Lalu saya  naik  angkot  25. Turun di  Cabang  Pondok Ungu. Bayar angkot Rp 4.000. Ngobrol dengan  Sopir. Dia bicara tentang  bosnya, perempuan, punya   otak  bisnis.  angkot puluhan, mobil pribadi hanpir  10. Wow... Dia  orang  Jawa  Timur.  Saya  bayar  uang sewa penitipan motor Rp  3.000. Saya  menuju ke VMG, ke rumah dulu. Saya  makan  siang lalu ke sekolah. Saya  tiba pkl 11:20. Saya mengajar  pkl 11:30. Saya  lapor  diri   ke kepsek  lalu mengajar anak kelas 3. Syukur  Tuhan, perjalanan  hari ini Bekasi - Jakarta pp  lancar. Her  registrasi  lancar  juga.


 Rabu, 26 Agustus 2015.
Saya ke  rumah  dulu. Makan. Start pkl 16:15. Wow... terlambat  sampai di STFD. Kuliah Estetika  tak masuk. Malu karena terlambat. Ternyata Pa Matius Ali yang masuk. Saya masuk pada kuliah kedua, Filsafat Kontemporer. Romo Dr. SPL Cahyadi,Pr  yang mengajar. Selesai mengajar  masih  ngobrol lagi. Pa'' Matius  masih ada. Nimbrung. saya minta agar diizinkan untuk bergabung dalam kuliah Estetika. Saya pilih topik seminar Ernest Block. Ketika pulang, Pa Matius menawarkan saya  untuk  join dalam mobilnya. Saya  menuju Stasiun Kramat. Kami bersama."Bagi orang India, terutama kaum terpelajar. Sang guru mengetahui perkembngannya  melalui mimpinya. Karena itu, mimpi perlu ditulis," dia  berkisah. "Oh... saya  sering  menulis mimpi-mimpi saya di blok Pa," kataku. Kam sampai di rel kereta api keramat. Saya turun. Terima kasih Pa Matius. Hati-hati dalam perjalanan,: kataku kepadanya. Wow.... join dengan  dosen.




 JPS, 27 Agustus 2015


 Pa' tumben  datang  tidak  telat, canda  seorang  teman perempuan. Dia ada  tanda  hitam di wajah, seperti  flk. Betul hari ini saya  masuk sebelum  dosen masuk kelas. Kuliah pertama, "Kebebasan dan Kesetaraan diampu oleh Prof. Dr. Aloysius Nugroho. Dia cerdas, kritis  dan terkesan   bangga diri bahkan cenderung   tinggi hati.  Kuliah lalu dissusul dengan  Kuliah Antropologi filosofis Paul Ricour yang diasuh oleh  Romo Prof. Dr. Sastra, SH. Pembahasannya  bagus.

JPS, 28 Agustus 2015


Selasa, 1 September 2015

Saya  absent  ke  kampus  karena  sibuk perispan  misa: teks   dan  baut  SAP  MK  Filsafat praktis. Hari ini kuliah  Filsafat Praktis: Prof Dr. Frans Magnis Suseno, SJ  dan  Ruang  Publuk  Hannah Arent  oleh Dr. Frengky Hardiman. Wow..., Frans,   dissiplin  please!



Kamis, 10 September 2015
Makan sayur  / lauk  rawon  secara tak sengaja. Saya kira jamur ternyata rawon. Saya hanya makan sedikit. Pemblian yang sia-sia. Harga makanan Rp 10.000. "Malu bertanya sesat di jalan. Buang duit sia-sia karena   tak bisa menghabiskan makanan (lauk rawon itu). Rawon adalah   jeroan bagian dalam sapi. Itu digoreng / direbus. Ini di warung langganan di pinggir re K.A.  Kramat, Jakarta, ketika hendak ke  campus  untuk kuliah. Wow....  Ada beberapa  makanan yang tak saya sukai, yakni makanan  terbuat dari  kambing  dan  rawon. Wow....


Selasa, 15 September 2015
Saya  mengajar sambil mencoba merapihkan tulisan presentasi kuliah: Hannah Arent dan Kepublikan. Saya terlalu meremehkan tugas  dan tidak disiplin. Hasilnya, tak terkejar secara maksimal. Saya menguber di penghunjung waktu. Ada rasa dai-dig - dug. Terkadang marah , mengumpat  dan memaki diri sendiri. Ini resiko dari tak focus. Kesulitan lain adalah kemampuan bahasa Inggris yang  tak maksimal sehingga kesulitan untuk menerjemahkan  teks kuliah. Dari segi perjuangan, sudah berjuan maksimal. Bahkan hari Minggu dan hari lain, lembur hingga larut malam. Pulang sekitar  pukul 23  bahkan di atas itu. Baru pada Senin sore, 14 September 2015, saya menemukan sarana di kumputer untuk sedikit mempercepat pemahaman teks. Sarana itu adalah software Convert (dari PDF ke Ms Word). Ms Elia membantu saya menemukan itu. Untuk beberapa hal bisa dikerjakan, namun begitu pulang ke rumah sebentar, listrik mati di PC lab komputr yang saya pakai. Sofware PDF Hannah Arent tak bisa diakses lagi. Kecewa juga. Untuk ada bagian yang sudah saya kerjakan. Saya terbantu dengan teknologi, yakni Google translate.  Namun karena  saya kerja terlambat, semua tools itu tampak tak bisa menolong secara maksimal. Saya mau print materi presentasi pada akhir sekolah dalam situasi teman-teman berlomba-lomba untuk print juga karena diburu jadwal pengumpulan ujian mid smester. Untung baik saya  kreatif dalam berpikir. saya  minta bantuan teman di perpustakaan untuk meminjamkan komputer kepadaku untuk print tugas itu. Dia setuju. Saya berhasil print pada pukul 15:10 pm. Saya bergegas mau menuju ke kampus. Kuliah jam 17:00 pm. Jadwal presentasi lagi. Apalagi  jadwal yang tertunda dari Selasa, 8 September 2015 minggu lalu karena saya tak siap. Sesungguhnya salah komunikasi. Saya tangkap dan bahkan ada catatan di  di buku catatan bahwa 2 pertemuan awal, tak termasuk kuliah Pembukaan, 25 Agustus 2015 bahwa 2  pertemuan awal ditanggung oleh dosen, setelah itu baru dimulai dengan presentasi pertama, saya   bersama Betty  dan Bayu. Bety dan Bayu sudah siap Minggu lalu, sementara saya tidak siap, sehingga hanya mereka  yang prentasi. Sedangkan  saya ditinggal. Malu juga. "Kamu mau pertama, tetapi ternyata tak siap. Mental model apa ini. Katanya mahasiswa Pasca Sarjana," begitulah rasaku memproyeksikan penilaian dosen dan teman-teman. Saya disandera rasa malu dan bersalah. Kegagalan minggu lalu itu masih membekas, meski sudah berjuang, mengunakan  waktu begitu banyak untuk selesaikan tugas itu. Dalam suaana  hati yang galau ini saya menuju kampus. Waktu menunjukkan pukul 15:15 ketika saya keluar  tempat finger  print  JPS. Masih ada persolan. Ternyata  kunci motor  lupa di motor sehingga  diambil oleh sekuritu sekolah. Saya harus menghadap mereka untuk mengambil itu. Wow... persoalan kian rumit saja. Saya  menuju kampus. Pengen hati ini cepat tiba di kampus. Mau pakai ojek, tapi  masalahnya tentu macet. Sehingga diputuskan tetap menggunakan kereta api menuju Jakarta. Perjalanan menuju Staisun Cakung lancar. Ada kereta menunggu ketika saya masih di tempat parkiran motor. Saya meminta  petugas parking untuk membantu memarkirkn motor karena saya buru-buru. Ternyata.......kereta  jalan. Saya  harus menunggu  15  - 20 menit lagi. Haru biru perasaan saya. Cemas, marah, makian  berbaur satu dalam hati. Kesel karena kereta tak cepat datang. Kereta ke arah sebaliknya - Bekasi -  malah datang lebih cepat. Sedangkan saya menuju Jakarta. Kereta baru muncul pkl 16:20 pm. Saya masuk. Duduk. Saya lihat waktu di HP.. Waktu menunjukkan pkl 16:45 ketika kereta masih tertahan ketika antre mau masuk Stasiun Jatinegara. Setelah menunggu 5 menit akhirnya  kereta jalan dan berhenti di  Jatinegara. Saya keluar stasiun dan tawar ojek ke kampus STF Driyarkara. Dia mau dengan bayar Rp 20.000. Saya meluncur ke kampus. Macet sebentar di Lampu Merah  Utan Kayu. Lalu lewat apartemen di Rawa Sari. Saya lewat jalan baru. Ternyata  bisa tembus sampai jembatan Serong. Saya berhenti di dekan mesin photo copy Melania. Saya copy mahan presentasi  sebanyak 40 ex dengan biaya Rp 8.000. Itu hanya 1 lembar, bolak balik.  Saya masuk kampus. Saya telat 5 menit. Aroma keriangat menyeruak karena lupa  pakai bedak penyerap keringat. Malu lagi...malu lagi. Saya masuk ruang kelas setelah minum air. Saya menyerahkan materi kepada dosen, Pa Frengky Budi Hardiman. Saya  pikir beliau  marah  dan tak mengizinkan saya mempresentasi serta mencoret saya dari  tugas presentasi sehingga  tak bisa dapat nilai akhir nanti , ternyata beliau bermurah hati. Silahkan duduk dan kamu presentasi kemudian karena terlambat. Silahkan duduk di depan saja," katanya lembut. Hati saya  agak teduh mendengar  penerimaan ini.  Teman-teman sedang presentasi. Saya duduk diam menyimak. Saya coba menangkap persoalan  sembari merajut  gagasan tentang Hannah Arent. Saya coba dan mencoba. Teman Berto presenter kedua dan Ibu Ruth  presenter ketiga. Giliran saya pada 5 menit terakhir. "Kamu harus memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin, sebut poin-poinnya saja, " kata Pa Frengky. Saya terima dan memanfaatkan waktu 5 menit ini untuk menyatakan siapakan saya kepada diri sendiri, dosen dan teman-teman. Saya bicara  tepat 5 menit. Rasa puas, gembira dan bahagia membual dari  seluruh hati dan perasaan saya. Saya kembali menemukan kembali kebahagian dan rasa percaya diri. "Kamu presentasi baik," kata Pa Felix, teman kuliah. Kuliah lalu  dilanjutkan dengan kulish Filsafat Moral yang dibawkan Prof. Magnis Suseno, SJ. Ada 3 orang presenter yang membhas Etika Filsafat Timur: Simon, Ibu Nanda,  Reza. Saya  ajukan pertanyaan : Dari segi perewatan terhadap alam, tampaknya  Etika Timur, lebih khusus Hindu lebih andal daripada etika agama Wahyu. Karena Hindu bersifat ontonomi - keselamatan ditentukan oleh manusia sendiri via perbuatannya, sedangkan  Agama-agama wahyu bersifat heterodoks - keselamatan ditentukan oleh unsur lain di luar diri mansuia - Tuhan . Mohon Tanggapan. "Tak sesedrhana itu. Persoalan lingkuangan buruk karena  kapitalisme" jawab romo Magnis, SJ.
Kuliah selesai. Kami lanjutkan acara syukuran penghargaan Prof. Rm. Magnis Suseno,SJ.  Banyak dosen datang, Prof. Sudarminto, SY, Prof. Alex  Lanur, OFM, Prof Sudiarja, SJ, Dr. Hery Priono, SJ, Rm. Simon Petrus Lili Cahyadi, Pr, Rm. Setyo, SJ. Kami makan. Saya  makan buah cuku banyak, terutama Nangka dan jeruk. Setelah itu Pa Marko dan saya  pulang. Saya ketemu Nesta - teman dari Larantuka - di gerbang STF / Cempaka Indah. Kami ngobrol. Lalu saya numpang mobil 04 ke  stasiun Kramat. Saya bayar Rp 3.000. lalu menuju Stasiun. Saya tunggu kereta cukup lama. Saya  baca Hannah Arendt. Kereta datang. Saya tetap baca dalam kereta. Kami turun di Jatinegara. Tunggu kereta ke Bekasi. Ada Pa Arif  - teman kuliah - yang mau pulang juga. Saya asyik membaca Hannah Arendt. Saya  tiba di Cakung pkl 22:15 pm. Lalu  bayar parking Rp 5.000. Saya menuju Harapan Indah. Saya isi bensin di Pertamina Harapan Indah. Lalu meluncur menuju VMG. Taba di rumah dengan selamat. Saya basuh muka, istirahat doa syukur lalu tidur.  Syukur Tuhan atas pengalaman suka duka  hari ini. Beri aku petunjuk agar selalu mencari kehendak-Mu. Amin.

Rabu, 23 September 2015
Saya antar Lery, anaknya Pa' Bento  ke  Perumahan Harmono - Harapan Indah. Pa Bento sedang mendampingi anak-aak retret di luar kota, di Tugu, Puncak, Bogor, Jawa barat. Setelah itu saya  mampir di rumah. saya mau ambil jaket dan buku. Waktu menunjukkan pkl 15:30 ketika saya  satar  dari rumah. Saya tiba pkl 15:45 di JPS  lalu  finger  print lalu berangkat kuliah. Saya  menggunakan  sepeda mootor. Saya simpan sepeda  motor  di Stasiun Cakung.  Lalu masuk kereta  yang  sudah menunggu. Kereta  berhenti cukup lama. Tak biasa  seperti itu. Saya lelah. Saya  tidur dalam kereta. Kereta berhenti cuup lama sebelum masuk stasiun Jatinegara. "maaf, kereta berhenti antre agak lama karena menunggu kereta lain yang akan meninggalakan satasiun Jatinegara," demikian pengumuman petugas kereta. Kami tiba di Jatinegara. Kami keluar menuju  KA  menuju  Kramat. Tunggu lama. Akhirnya KA tujuan Bogor yang lewat Kramat datang  juga. Tapi berhenti lama. "Ada kecelakaan, tabrakan antara KA di Stasiun Juanda. Imbasnya,pergeseran  jam kenerangkatan untuk seluruh KRL  dan kereta  lainnya. ," demikian  obrolan antar  penumpang.  Saya  tutun di Stasiun Kramat. Ada  KA  yang antra  juga  sebagai  bagian dari   akibat kecelakaan itu. Waktu hampir  pkl 06:00 sore. Saya  putuskan untuk makan malam dulu d Warteg. Saya  bayr Rp 6.000 (nasi, jamur, tempe). Lalu ke  kampus. I ke kamar mandi dulu. Gosok gigi, atayr diri. Lalu masuk. Hari ini masuk kuliah kedua, Filsafat Kontemporer Abad XX. Kali ini tugas Prof. Rm. Sudarminta, SJ yang memberikan kuliah namun  beliau berhalangan, lalu diganti oleh Prof. Alex Lanur, OFM.  Lalu pukang. Ada harapan semoga bisa nebeng dengan teman menuju ke Kramat. Begitu teman lewat, mau naik tanpa tanya apakah lewat Sambe / Stasiun Kramat atau tidak. Mau langsung naik saja. "Maaf, saya   tidak  lewat  Stasiun Kramat, saya  mau ke by Pass - Ahmad Yani, ada urusan di sana," katanya. Okay," kataku  sambil tersipu  malu. Akh  saya  tak  profesional. Malu sendiri  jadinya.  Lalu naik angkot. Di depan saya  ada  Pa Ardy Rusmin  dan  satu temn perempuan yang sama-sama kuliah di STF. Kami  menuju stasiun Kramat. Dapat KRL. Ternyata KRL berhenti lama. Kami ngobrol. Kereta  berhenti  cukup lama. Kami mau naik KRL tujuan Manggarai  lalu balik ke Bekasi namun ternyata  antra  lama, sementara  ada yang langsung menuju Bekasi. Ini KRL kedua sejak kami tiba. Kami putuskan untuk  pindaj KRL. Saya  dan  Pa Adri  pindah KRL/ Dalam  KRL  kami ngobrol. Kami ngomong banyak hal termasuk  kebudayaan Manggarai , termasuk   Nggerang  dan  hal seputar  kulaih, termasuk  tesis.  Lalu saya  turun di  Stasiun Cakung. Lalu saya  dengan  sepeda motor menuju VMG. Hari ini  ada perubahan management di tempat Parkir motor di Cakung bahwa setiap motor  mendapat kartu buktu titip  sepeda  motor  di sana. " Ini  managemen yang baik,"  puji saya. :a;u saya  menuju ke  rumah.



Rabu, 23 September 2015
Saya antar Lery, anaknya Pa' Bento  ke  Perumahan Harmono - Harapan Indah. Pa Bento sedang mendampingi anak-aak retret di luar kota, di Tugu, Puncak, Bogor, Jawa barat. Setelah itu saya  mampir di rumah. saya mau ambil jaket dan buku. Waktu menunjukkan pkl 15:30 ketika saya  satar  dari rumah. Saya tiba pkl 15:45 di JPS  lalu  finger  print lalu berangkat kuliah. Saya  menggunakan  sepeda mootor. Saya simpan sepeda  motor  di Stasiun Cakung.  Lalu masuk kereta  yang  sudah menunggu. Kereta  berhenti cukup lama. Tak biasa  seperti itu. Saya lelah. Saya  tidur dalam kereta. Kereta berhenti cuup lama sebelum masuk stasiun Jatinegara. "maaf, kereta berhenti antre agak lama karena menunggu kereta lain yang akan meninggalakan satasiun Jatinegara," demikian pengumuman petugas kereta. Kami tiba di Jatinegara. Kami keluar menuju  KA  menuju  Kramat. Tunggu lama. Akhirnya KA tujuan Bogor yang lewat Kramat datang  juga. Tapi berhenti lama. "Ada kecelakaan, tabrakan antara KA di Stasiun Juanda. Imbasnya,pergeseran  jam kenerangkatan untuk seluruh KRL  dan kereta  lainnya. ," demikian  obrolan antar  penumpang.  Saya  tutun di Stasiun Kramat. Ada  KA  yang antra  juga  sebagai  bagian dari   akibat kecelakaan itu. Waktu hampir  pkl 06:00 sore. Saya  putuskan untuk makan malam dulu d Warteg. Saya  bayr Rp 6.000 (nasi, jamur, tempe). Lalu ke  kampus. I ke kamar mandi dulu. Gosok gigi, atayr diri. Lalu masuk. Hari ini masuk kuliah kedua, Filsafat Kontemporer Abad XX. Kali ini tugas Prof. Rm. Sudarminta, SJ yang memberikan kuliah namun  beliau berhalangan, lalu diganti oleh Prof. Alex Lanur, OFM.  Lalu pukang. Ada harapan semoga bisa nebeng dengan teman menuju ke Kramat. Begitu teman lewat, mau naik tanpa tanya apakah lewat Sambe / Stasiun Kramat atau tidak. Mau langsung naik saja. "Maaf, saya   tidak  lewat  Stasiun Kramat, saya  mau ke by Pass - Ahmad Yani, ada urusan di sana," katanya. Okay," kataku  sambil tersipu  malu. Akh  saya  tak  profesional. Malu sendiri  jadinya.  Lalu naik angkot. Di depan saya  ada  Pa Ardy Rusmin  dan  satu temn perempuan yang sama-sama kuliah di STF. Kami  menuju stasiun Kramat. Dapat KRL. Ternyata KRL berhenti lama. Kami ngobrol. Kereta  berhenti  cukup lama. Kami mau naik KRL tujuan Manggarai  lalu balik ke Bekasi namun ternyata  antra  lama, sementara  ada yang langsung menuju Bekasi. Ini KRL kedua sejak kami tiba. Kami putuskan untuk  pindaj KRL. Saya  dan  Pa Adri  pindah KRL/ Dalam  KRL  kami ngobrol. Kami ngomong banyak hal termasuk  kebudayaan Manggarai , termasuk   Nggerang  dan  hal seputar  kulaih, termasuk  tesis.  Lalu saya  turun di  Stasiun Cakung. Lalu saya  dengan  sepeda motor menuju VMG. Hari ini  ada perubahan management di tempat Parkir motor di Cakung bahwa setiap motor  mendapat kartu buktu titip  sepeda  motor  di sana. " Ini  managemen yang baik,"  puji saya. lalu saya  menuju ke  rumah.

 Selasa, 6 Oktober   2015
Hari ini di JPS masih sibuk koreksi ujian Mid semester I. Saya bahagia karena nilai saya sudah masukkan ke dalam program SISTER, sistem  nilai yang perhitungannya diolah secara otomatis  oleh komputer. Sementara itu, di kampus, saya punya tugas presentasi. Saya belum merampungkan   tugas Filsafat Praktis itu. Tema yang saya garap adalah Etika Epikuros, filsuf klasik Yunani. Saya menuju lab komputer untuk pinjam komputer yang bisa internet. Ternyata tak bisa internet. Mr. Ade - teknisi sekolah sedang membereskan itu. "Silahkan pakai labtop saya saja. " ajaknya. "Okay sir," kataku. Saya menggunakan google untuk menca
i info yang saya buthkan, terutama pengertian deisme  dan Artisipp. Saya temukan. Lalu saya kembali ke ruang guru. Saya buka komputer guru. Saya edit makalah, lalu print. Wow... tinta hitam bermasalah.  Tak ada tulisan yang  keluar pada kertas. Bagaimana mengakali hal ini? Untung saya kreatif.  Saya beri warna merah pada text makalah itu lalu saya simpan dan print. Wow.... hasilnya  tulisan warna merah. Saya print 3. Lalu saya keluar sekolah menuju warteg  di  halte Harmony. Saya makan, menu nasi, pare, 2 tahu  dengan bayaran  Rp 8.000. Lalu saya ke tempat photo copy. Makalah 4 halaman, saya jadikan 2 lembar. Saya copy Rp 20 ex, dengan harga rp 10.000.  Lalu saya menuju Jakarta untuk kuliah. Saya abaikan kuliah I, Hannah Arent. Saya titip motor di fly over Cakung. Saya pakai kereta. Saya turun di Jatinegara. Saya keluar stasiun. Saya  jalan kaki. Saya tawar  jasa ojek. Uang saya tersisa Rp 18.000 untuk pp. Wow... berbahaya. Kurang. Karena itu saya tawar ojek. Biasanya, pada bulan September  2015 lalu saya bayar Rp 20.000.  Kali ini saya minta Rp 15.000. Banyak yang tak setuju. Ada 1 0rang yang mau bantu setuju biarnya Rp 15.000. Tanpa pakai helm kami meluncur menuju STFD, dekat Sekolah Melania. Waktu menunjukkan pkl 18:00 pm. Saya tiba di kampus pkl 18:17. Berama gagasan berkecamuk di kepala saya, mulai kekuatiran bila pertukaran jam kuliah, F. Praktis duluan sementara Hannah Arent menyusul. Saya ke kamar mandi untuk berbenah. Lalu masuk ruangan. Ternyata jadalnya normal. Saya masih bisa presentasi  F. Praktis. Lega hati saya. Saya masih bingung, apakah  kami jadi presentasi hari ini ataukah minggu depan. Menurut SAP, Etika Islam, sementara dalam jadwal Etika Epukuros. "Terserah Romo saja," kataku pasrah. Ternyata Etika Epikuros dan Stoa yang dipresentasikan hari ini. Untung saya  sudah siap. Prof. Sudarminta, SJ memberikan kesempatan kepada saya dan Roy  untuk mempersentasi. Saya pertama. Lalu Roy. Saya berusaha bicara irit karena waktu untk saya hanya 10 menit. Roy sekitar 20 menit. Lalu Prof. Sudarminta, SJ melanjutkannya tanpa tanya jawab. Kuliah F. Praktis sebenarnya ditangani olah Prof. Franz Magnis Suseno, SJ tetapi ikarena beliau menjadi dosen tamu di Jerman maka hal ini digantir oleh  Sudarminta, SJ. Saya pulang dengan bahagia karena tugas saya hari ini terlaksana  dengan baik meski tak sempurna. Terima kasih Tuhan. Lalu saya pulang. Uang saya tinggal Rp 3.000. Bila naik angkot ke Kramat maka tak ada ongkos naik kreta. Maka saya putuskan untuk jalan kaki. Sebenarnya saya bisa pinjam uang teman atau saudara tapi saya  biarkan saya berjuang sendiri. Saya jalan kaki menuju stasiun Kramat. Saya lewat Gang Bacang - Hotel Sentral, Jl. Pemuda, Jl. Ramamangun, Stasiun  Kramat. Lalu saya telepon keluarga di Wela. Saya kontak John tapi gagal. Lalu kontak Mery. Kami ngobrol. "Kami di rumah Gendang sekarang, mau persiapan doa dan Misa 40 hari Ema Bone Kaso,' dia berkisah. Kami ngobrol cukup lama. Kereta datang. Saya sibuk ngobrol. Tak sadar saat berhenti di Stasiun Cakung. Saya baru sadar  ketika di Stasiun Kranji.  Wow.... saya harus tunggu lagi untuk kembali ke Stasiun Cakung. Saya ikut kereta terakhir. Waktu hampir  pukul 21:45 pm. Kereta tiba, saya naik. Lalu turun di Cakung. lalu pulang menuju ke VMG. Saya pakai  sepeda motor. Di perempatan dekat Warung Tobet  saya  beli pisang Rp 5.000. Saya makan  beberapanya lalu saya istirahat.


 Rabu, 7 Oktober   2015.
Hari ini anak-anak SD libur karena para guru SD sibuk input nilai.  Saya tiba dengan selamat dan tepat waktu. Kami input nilai. Lalu saya izin menuju rumah untuk mengambil buku kuliah. Saya beli  lauk Rp 5.000 di Kampung Bogor / Rawa Indah. Saya beli beras 4 liter @ 8.000. Lalu beli sayur @ 7.000. Lalu saya ke rumah. Saya makan lalu kembali ke sekolah. Saya berangkat jam 16:00 ke kampus. Saya tiba di stasiun Cakung. Saya tunggu kereta cukup lama. Kereta tiba pukul 17:30 Saya kesel. Tiba di  Jatinegara pkl 17:50. Saya transit. Tunggu kereta menuju Keramat - Senen  Tanah Abang / Bogor  hampir 1,5 jam . Terlambat sampai di kampus. Ada  kraeng Adri, senior yang kuliah di STFD juga. "Kita pakai bajaj saja. Kami masuk bajaj. Dia bayar Rp 20.000. Saya tak masuk ke ruang kuliah, hanya baca di ruang istirahat. Begier tu kuliah selesai saya saya menyalami Pater Prof  Alex, OFM. Beliau yang mengajar. Hari ini topik tentang Levinas.  Saya  paraf saja di daftar hadir. Sayang kalau tidak paraf. Sudah jauh-jauh  datang maka perlu isi data itu. Pater Alex, OFM  mau pulang ke Depok, butuh diantar ke stasiun Manggarai.  Roy bantu carikan bajaj untuk beliu  Lalu saya pulang. Saya bareng dengan kraeng Adri Rusmin. Kami ngobrol, termasuk soal budaya Manggarai. Kami ngobrol dengan asyik.





Rabu, 21 Oktober   2015.
Saya dipanggil oleh Kepsek, Bapak Ben Ayung. Kami bicara soal kompetensi guru, temasuk Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Saya stress dengan begitu banyak hal yang disebutkan. Saya berusaha menerima kritik ini dengan lapang dada dan kesabaran. Saya tunjukkan kepada beliau ringkasan materi yang saya ambil dari internet. Saya edit lalu saya  print lalu saya serahkan kepada Ms Cheryl untuk dikoreksi. Setelah itu saya pulang ke rumah. Saya makan siang di rumah dengan lauk  ikan tongkol  dan tempe beli di warung. Lalu menuju kampus pkl 16:30 am. Tiba di stasiun Cakung pkl 17:00. Tak lama menunggu kereta, kereta datang. Masih ada tempat duduk. Lapang. Ngantuk. Sadar  dan  bangun  di stasiun Jatinegara.  Pindah  kereta. Kereta Depok via Kramat telah tiba. Tak tunggu lama. Kereta jalan.  Keluar di Kramat. Naik mobil 04 menuju Rawasari. Ketemu Pa Adri Rusmin. Sama-sama menuju kampus. Ngobrol. Saya telat. Saya putuskan  tak masuk kuliah I. Kami ngobrol. Pater Prof. Alex Lanur, OFM  datang sebentar lalu beliau pulang. Saya ketemu Roy, teman angkatan.”Pa Frans, kamu tidak ambil kuliah Antropologi Filosofis? Tanyanya. “Ambil hanya hari ini saya telat, tak masuk. “Sudah presentasi?: sambungnya. “Belum”. Bilang Romo karena hampir selesai semua,” saran Roy. ”Romo yang pilih bukan? Kataku. “ Oh… saya tak terlalu  kreatif  ya? Terlalu  menunggu. Tak pro aktif. Saya masuk ruang kuliah ikut kuliah kedua.  Dewi yang presentasi. Presentasi tentang Karl Poper.

Selasa, 1 Desember   2015
Ikut kuliah Hanah Arendt  dan Kepublikan. Dosennya Dr. F. Budi Hardiman. Presenter hari ini ada tiga orang. Pa Yon, Pa Roy dan Pa Feliks. Saya masuk terlambat. Telak 30 menit. Mengapa? Lama tunggu kereta di  Stasiun Cakung  dan  Stasiun Jatinegara. Saat pulang  nebeng di mobilnya Ibu Nando yang hendak pulang ke Jakarta Timur. Saya turun di  lampu merah di dekat fly over Jatinegara. Saya agak slow. Ibu Nanda ingatkan saya untuk turun. Saya  terlalu slow.  Gesit, please, Franck.